Uncategorized

Proud Mama #3

Sepertinya, Papa lebih bisa menjelaskan gender secara sederhana kepada Sophie dibandingkan saya. Hari Sabtu kemarin, ketika kami bersiap-siap sholat ashar, terjadi percakapan seperti ini:

Sophie: Ini apa Papa?

Papa: Ini mukena Mama Soph, untuk sholat.

S: Mukena Papa mana?

P: Papa ini mas-mas Sophie. Yang memakai mukena Mbak-mbak. Mas-mas kalau sholat memakai sarung. Yang ini.

S: Papa Mas-mas. Usyi Mbak-mbak.

P: Iya, Sophie Mbak-mbak.

S: Mukena Usyi mana Papa?

Dan, kami mengambilkan mukena Sophie dari lemari. Sejak beli dulu belum pernah dipakai, soalnya pas datang, saya terlalu heboh ingin mencobakan mukena tersebut ke Sophie dan anaknya malah emoh sendiri, hahaha.. Kemarin itu Sophie suka sekali dengan mukenanya. mencoba memakai sendiri, walaupun baru bisa memakai bawahannya doang, yang atasan dibantu sama Papa.

Dan dengan sukarela mau berjamaah sama Papa. Kejutan buat kami. Kami selama ini memang belum pernah mengajak, apalagi memaksa, Sophie untuk sholat. Kami percaya bahwa belajarnya batita itu dari melihat contoh, sih. Kata Mbak Alissa Wahid, your action speaks so loudly, i can’t hear what you say. Kami mengamininya.

Image

Sophie jadi makmum Papa dengan tertib, mulai dari takbiratul ikhrom sampai salam. Tapi ya namanya anak kecil super energik ya, rukuknya combo tiga kali, sujudnya kelebihan berkali-kali. Hihihi, emaknya terharu campur geli πŸ™‚

Image

Selesai sholat, Sophie melipat mukenanya sendiri, terus dimasukkan ke kantongnya. Kebiasaan di sekolah tampaknya. Kemudian keluar rumah dan pamer sama tetangga dong πŸ™‚

Usyi colat. Usyi mau ke alun-alun, mau colat di alun-alun

Hahaha, kami cuma bisa senyam-senyum lihat kelakuannya ini. Sorenya kami jalan-jalan ke alun-alun, dan sholat maghrib di masjid besar. Sophie tidak full mengikuti sholat maghrib, rekaat satu selesai dia sudah kabur berjalan-jalan, mengintip-intip dan memanjat-manjat. Mungkin karena bacaan imamnya terlalu panjang untuk ukuran Sophie.

Image

Kemarin, Sophie minta ikut sholat lagi. Bersama saya sebagai imamnya. Tidak sukses, ceritanya. Ketika saya berdiri untuk rekaat kedua, ada yang lari meninggalkan saya, terus melepas mukenanya dan lalu lompat-lompat seru, menjadikan kasur trampolin jadi-jadian πŸ™‚

Sebenarnya kami tidak terkejut-terkejut amat pas Sophie minta sholat ini. Lha wong di sekolahnya juga ada program sholat berjamaah kok. Kami cuma mengalami what-so-called proud parent thing, yang untuk pertama kalinya menyaksikan perkembangan anaknya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s