Uncategorized

Pamit v 2.0

Saya: Mama nanti sore berangkat ke Surabaya ya Soph
Sophie: *mengangguk* Usyi tidak nangis, sama Papa…. anak hebat!
Saya: *ngikik*

Advertisements
Uncategorized

Jarik Batik Kesayangan Kami

Saya memiliki sehelai kain jarik batik yang amat saya sukai. Jarik tersebut telah menemani saya selama tujuh tahun, sejak saya lulus kuliah dan mulai bekerja di Purwokerto. Jarik itu adalah pemberian Ibu saya, sebagai bekal saya yang mulai belajar hidup mandiri, terpisah dari orang tua. Saya menggunakannya untuk selimut, bahannya ringan dan adem, cocok untuk saya yang maunya tertutup tapi tidak mau kegerahan.

Waktu berlalu, dan jarik tersebut merupakan salah satu item yang saya siapkan dalam tas melahirkan saya. Menurut beberapa pembisik saya, kostum paling nyaman buat ibu yang baru saja melahirkan adalah baju bukaan depan dan jarik. Dan ternyata itu terbukti pada saya. Koleksi jarik saya bertambah pada saat Sophie lahir, saya mendapatkan jarik dari Ibu dan Ibu Mertua saya, juga beberapa jarik gendong dari kakak-kakak ipar saya.

Setelahnya, jarik tersebut mulai berubah fungsi. Saya menggunakannya untuk selimut dan/atau alas ompol Sophie. Praktis deh, ujung sini untuk alas ompol dan ujung satunya lagi untuk menutupi badan Sophie.

Beda dengan saya yang nyaman menggunakan baby wrap dan sling, suami saya lebih nyaman menggendong Sophie dengan menggunakan jarik. Karena belakangan Sophie tinggal berdua dengan suami di Purwokerto,ย  praktis Sophie juga lebih familiar dengan batik akhir-akhir ini. Sophie kerap minta digendong saat saya di rumah. Gendong pake lendang, kata Sophie untuk menspesifikkan permintaannya. Lendang yang diucapkan Sophie maksudnya adalah selendang, sinonim dari jarik dalam perbendaharaan bahasa Sophie ๐Ÿ™‚

Sophie, suami dan jarik batik kesayangan kami, saat Sophie masih berumur 1 tahunan

Setiap hari suami menggendong Sophie dengan jarik. Pagi dan sore hari, saat mengantar – jemput Sophie ke TPA. Sophie itu sukanya membuat gerakan-gerakan yang membahayakan saat naik motor, makanya di usianya yang sudah 2,5 tahun ini masih perlu “diikat” dengan jarik. Jarik batik terbukti kuat lho, bisa menahan gerakan Sophie sehingga suami tetap aman berkendara.

helm, jaket, jarik, semua siap. we are ready to go:)

Kadang Sophie minta gendong di malam hari, biasanya kalau sudah mati gaya gulang-guling lama tapi belum bisa tidur juga. Dan untuk kondisi seperti ini, jarik batik adalah penyelamat suami. Tinggal gendong, tangan kiri suami menepuk-nepuk bokong Sophie, sedangkan tangan kanan untuk kipas-kipas. Biasanya tidak sampai sepuluh menit Sophie sudah terlelap.

Sophie nyaman tidur di gendongan suami

Jarik batik itu ternyata mirip dengan bahan jeans, yaitu dalam hal semakin tua semakin nyaman dipakai. Makanya, walaupun kami punya banyak jarik batik, favorit suami dan Sophie adalah jarik tua pemberian Ibu saya sejak tujuh tahun yang lalu itu. Tampangnya sudah tidak bisa dibilang cantik sama sekali, lusuh. Mariย  kita bayangkan, sudah bertahun-tahun tahun digunakan untuk selimut, sejak jadi alas ompol Sophie malah hampir tiap hari dicuci dengan mesin cuci pula. Tapi ya namanya suami saya, keindahan itu adalah sesuatu yang abstrak baginya, kenyamanan lah yang paling utama ๐Ÿ™‚

Sophie bermain sebelum tidur. Piyama unbranded. Jarik batik pemberian Mbah ๐Ÿ™‚

Bicara tentang batik, saya punya kenangan tentangnya. Salah satu hal yang saya rindukan dari berlibur di rumah nenek saya di Matesih, Karanganyar, Jawa Tengah adalah melihat dan mencoba membatik. Saya kagum dengan bulik-bulik saya karena kemampuan mereka membatik. Hampir semua rumah di sana memiliki canthing dan lain-lain peralatan batik. Saya dulu suka ikut ibu-ibu dan mbak-mbak berkumpul di teras, mendengarkan percakapan mereka, meskipun kadang saya tidak tahu apa isinya. Namun sekarang, saya tidak bisa lagi mendapati pemandangan tersebut. Saya tidakย  ingat sejak kapan tradisi membatik itu hilang dari desa nenek saya, juga tidak tahu apa yang menjadi penyebabnya.

Kenangan tentang membatik ternyata meninggalkan bekas dalam diri saya. Setelah saya tumbuh dewasa dan batik tidak lagi ada di desa nenek saya, ternyata saya masih ingat khasnya aroma lelehan malam, pedihnya mata meniup tungku kecil tempat melelehkan malam, sulitnya menotolkan ujung canthing mengikuti pola yang ada, dan seterusnya. Dan kenangan tersebut bersama beberapa barang batik yang sejak lama saya miliki, menumbuhkan kecintaan saya pada batik.

Nah, makanya saya senang sekali saat mengetahui ada program Satu Batik Jutaan Jari dari Bodrexin ini. Saya rasa program ini adalah wahana yang tepat untuk mengenalkan batik sejak dini pada Sophie. Melalui fan page Kebaikan Bodrexin, saya ingin berpartisipasi dengan cara mengajak Sophie mencetak sidik jarinya weekend nanti, lalu mengunggahnya ke fan page tersebut. Saya akan menceritakan padanya bahwa sidik jarinya akan digabung dengan ribuan sidik jari anak-anak se Indonesia, yang nantinya akan dijadikan motif batik. Sophie yang lagi masanya suka bertanya pasti menanyakan tentang sidik jari, Indonesia dan batik. Dan saya sudah mulai memikirkan jawabannya dari sekarang. Untuk batik, saya sudah punya jawabannya: batik adalah jarik gendong kesayangannya, daster kami berdua, dan juga baju andalan Papanya untuk bekerja. Batik itu dekat dengan kehidupannya.

Bila waktunya sudah tiba, saya ingin memberikan pengalaman seperti yang saya rasakan dulu pada Sophie. Desa Wisata Batik Kliwonan berjarak setengah jam perjalanan dari rumah Ibu saya di Karanganyar sana. Bila semuanya memungkinkan, saya akan mengajak Sophie bermain di sana, melihat-lihat, mencoba memegang canthing, membuat goresan sesuka hati, agar Sophie mengenal batik sejak dini. Mengenal pekerjaan rumit di balik keindahan batik agar bisa menghargainya.

Posting kali ini spesial saya tulis untuk Mommiesdaily. Ada maunya sih, saya menginginkan dompet Kate Spade dari Blog Competition yang diselenggarakan oleh Mommiesdaily dan Bodrexin, masih dalam rangka Satu Batik Jutaan Jari tersebut. Saya yakin pembaca blog saya sudah familiar dengan Mommiesdaily, karena saya beberapa kali membuat posting tentangnya, misalnya yang ini dan yang ini. Ah, jadi kangen nulis sesuatu lagi buat Mommiesdaily. Btw, meskipun saya tidak rajin berbincang di forumnya, saya suka membaca diskusi panjang lebar tentang berbagai hal di sana. Saya banyak belajar tentang menjadi ibu dan istri dari artikel-artikel yang ada di sana. Mommiesdaily adalah salah satu referensi saya sejak Sophie bayi banget hingga sekarang, dari masalah dalam menyusui hingga tentang batita mogok makan. Akhirnya, doa saya untuk semua pihak yang membidani dan membesarkan Mommiesdaily, semoga dapat kapling di surga, ya ๐Ÿ™‚

PS: tumblr saya sedang down, saya tidak bisa up load foto disana. Jadilah saya menggunakan kembali wordpress saya yang mati suri selama ini.

Uncategorized

PR Baru

Minggu lalu Papa disambut Sophie dengan luka parut panjang di pipinya. Bekas cakaran. Kemudian, terjadilah percakapan yang kira-kira seperti ini:

Sakit, Papa

Tidak apa-apa sakit, nanti sembuh kok. Sophie pipinya kenapa?

Dicakar Nafi, Papa

Dicakar?

Iya Papa, Usyi rebutan perosotan sama Nafi

Oh, rebutan. Lain kali mainnya yang baik ya Soph. Gantian sama teman.

Iya Papa

Khawatir sih mendengar ini. Tapi yang membuat saya lebih khawatir adalah cerita selanjutnya yang disampaikan Guru Sophie. Ternyata, sebelum adegan rebutan perosotan berujung cakaran ini, Sophie terlebih dahulu menggigit pundak Nafi. Gara-gara perosotan juga!

Oh Nak, cepet amat sih memberikan PR tentang berbagi, bersabar dan kekerasan fisik buat Papa Mama? Kami kan belum sempat belajar tentang itu. Memang benar ya, jadi orang tua itu belajarnya tidak boleh berhenti. Anak nambah “ilmu” baru, kitanya juga harus mengimbanginya dengan ilmu tentang “ilmu” barunya itu.

Ayo papa, mari kita kerjakan PR dari gendhuk Sophie ini. Barengan yak ngerjainnya, kita diskusikan bagaimana penyelesaiannya.

Btw, Nafi adalah teman sekelas Sophie di baby class Sinar Mentari. Dan dia adalah anak dari Pak Tamam, teman sekantor Papa ๐Ÿ™‚

Uncategorized

This Week

Minggu ini diawali dengan badai. Dahsyat pokoknya, hati saya patah berkeping-keping karenanya. Back to square one is always frightening, menyadari kalau sebelumnya saya hanya muter-muter tanpa arah lalu tahu-tahu kembali lagi ke awal dari segalanya.Babak belur.

Tapi tidak seluruhnya minggu ini buruk buat saya. Banyak terjadi pembicaraan yang menghangatkan hati, yang membuat saya tahu bahwa kembali merangkak itu tidak apa-apa. Tidak masalah. Yaa, masalah juga sih sebenarnya. Masalah waktu. Tapi sudahlah, saya sedang belajar untuk mengikhlaskan terjadinya hal-hal yang yang berada di luar kuasa saya. I am learning in the hard way, I guess.

Satu hal, saya rasa saya masih punya energi potensial yang masih belum saya pakai selama ini. Saya rasa sekaranglah waktunya untuk menggunakannya. Untuk mengejar ketertinggalan saya, menggantikan 4 bulan yang melayang begitu saja. Yang terpenting adalah saya berusaha tidak berhenti lagi. Tetap berjalan, merangkak sih tepatnya, membuat kemajuan-kemajuan kecil, dan melupakan patah hati saya.

The sun is getting high, and i am moving on.