Uncategorized

Foto-foto Lama

Tadi malam saya yang mati gaya membuka-buka file MP3 Player Papa yang selama ini saya pinjam untuk menemani bis-bisan setiap weekend. Benda tua, memang, tapi batrenya tahan lebih dari 12 jam sehingga bisa meninabobokkan saya sepanjang perjalanan. Ternyata, selain file MP3, ada juga beberapa foto kami saat Sophie masih berumur 6 bulan dan 15 bulan.

Saya yakin, pasti Papa dulu saat membuat foto-foto ini sedang mati gaya -sendirian, kangen rumah, seperti yang saya rasakan tadi malam πŸ™‚

Waktu berjalan dengan amat cepat ya, tahu-tahu Sophie si bayi bulet berambutjarang sekarang sudah besar, dengan rambut yang lumayan πŸ™‚

Image
Bayi ini sedang merasakan udara Surabaya untuk pertama kalinya, mengantarkan saya daftar sekolah πŸ™‚
Image
Masih edisi Surabaya. Dipangku Papa ini kayanya πŸ™‚
Image
Bayi sipit tak bergigi ini sekarang sudah jadi batita rempong yang tidak suka gosok gigi

Semua foto ini kami ambil saat Papa pulang. Momen yang menyenangkan, selalu kami nantikan. Sepeti halnya kami menantikan datangnya weekend sekarang ini. The positive side of being keluarga kocar-kacir is setiap ada kesempatan kumpul itu senengnya tak terkira πŸ™‚

Image
Edisi ke Bangkok
Image
Kalau ini jaman-jamannya Papa bolak-balik Surabaya-Purwokerto
Image
Yang ini pas ke rumah Mbah Karanganyar dan di Bangkok πŸ™‚

Efek dari membuat posting ini adalah kangen Sophie. Kalau kata Beatrice, teman di lab saya, saya mulai terjangkit sindrom Kamis sore, penyakit spesifik saya yang berulang saban minggunya.

Advertisements
Uncategorized

Where Do We Go from Here?

Rangkaian peristiwa yang terjadi belakangan ini membuat saya menyadari bahwa kita seharusnya tidak menjadikan diri kita sebagai standar ketika berhubungan dengan orang lain. Mungkin bagi kita sepele ya, cuma segini, kita sering melakukannya dan tidak ada kesulitan apapun. Tapi bagi orang lain, belum tentu demikian. Dan energi yang dibutuhkan oleh orang lain untuk ikhlas mendapatkan judgement semacam itu adalah sangat besar.

Memang, jangan pernah mengecilkan arti segala hal yang dilakukan orang lain.

Image

Satu hal lagi yang saya sadari belakangan ini, yang namanya respect itu sungguh penting ternyata. Ketika respect hilang, banyak hal baik yang mengiringi kepergiannya. Berjuang menumbuhkan kembali respect itu beneran sulit.

It really breaks my heart, again and again.

Β 

Β 

Uncategorized

Sophie dan Meong

Bertambah satu lagi hal yang bisa membuat Sophie super exited, yaitu kucing. Ya ampun, PR banget ini buat saya. Bukan apa-apa, belakangan ini saya lagi tidak suka bermain dengan kucing. Jadinya ya saya sering senewen sendiri, melihat Sophie nguyel-uyel kucing liar yang tidak tahu kenapa kok lulut banget sama dia.

Semuanya berawal beberapa bulan yang lalu saat Sophie mogok makan parah. Hal yang bisa membuatnya makan waktu itu, setelah serangkaian trial and error, adalah makan di depan rumah. Nah, lama-lama acara makan di depan rumah itu bergeser jadi makan bersama kucing. Sophie selalu meminta siapapun yang menyuapinya untuk memberikan makanan yang sama seperti yang ia makan pada kucing liar yang banyak berkeliaran di kompleks perumahan kami. Iya, sama plek-plek. Sophie sesuapan, lalu kami harus menjatuhkan sesendok makanan kepada kucing-kucing itu. Papa sih sejiwa sama Sophie, kalau ada kucing meong-meong di depan rumah dan kami punya makanan yang bisa dimakan kucing, pasti diberi makan juga. Sayanya saja yang lagi sok iye tidak mau akrab sama kucing.

Seiring berjalannya waktu, ada satu kucing yang lulut banget sama Sophie. Lulut itu semacam nurut, jinak begitu deh. Diapa-apakan saja mau. Kucing yang lain padahal malu-malu mau saja lho, dalam artian kalau ada makanan mendekat tapi kalau mau dipegang kabur duluan. Dugaan saya kucing yang lulut sama Sophie itu adalah kucing jantan yang semacam putra mahkota di keuarganya gitu deh. Soalnya, selalu kucing itu yang mendapatkan jatah makan pertama kali. Yang lain baru bisa makan setelah si Kucing itu selesai.

Sophie memanggil kucing liar yang lulut padanya itu dengan sebutan Kucing, Pus atau Meong, suka-suka dia saja. Saya tidak mengusulkan nama apapun, wong belum diberi nama saja rasa memiliki Sophie atas kucing itu sudah sedemikian tingginya. Kucing Usyi, katanya. Dan ya, Sophie sekarang sudah bisa mengidentifikasi keluarga si kucing itu. Yang kurus berwarna sedikit terang kata Sophie adalah adiknya si Kucing. Yang berbulu lebih gelap adalah kakaknya. Dan yang besar, dengan beberapa spot putih di bulunya adalah Mama si Kucing. Errr….

Dua minggu yang lalu saya baru saja sampai di rumah saat Sophie yang baru saja mandi mengelus-elus si Kucing. Saya katakan padanya, habis mandi tidak usah bermain dengan kucing dulu. Sejenak Sophie berhenti, lalu dia menggunakan kakinya untuk menggantikan tangannya. Pake kaki, katanya. Lah, saya ya langsung mengehentikannya ya, saya katakan tangan dan kaki itu sama saja,kalau habis mandi jangan digunakan untuk berinteraksi dengan kucing. Dan yang Sophie lakukan selanjutnya sukses membuat saya mutung: dia majukan badannya untuk nguyel-uyel kucing! Dan etah kenapa kucingnya juga memajukan badannya.

Foto ini saya ambil kemarin, saat Sophie bangun tidur siang. Lihat saja tuh, muka masih bau bantal begitu Sophie langsung bermain dengan kucingnya. Kucing ini selalu menunggu di depan pintu saat Sophie di rumah. Kalau pintu terbuka ya langsung nyelonong saja ke dalam rumah.

Image

Saya tahu, Sophie itu sayang sama kucingnya. Masalahnya adalah, Sophie belum bisa mengekspresikan rasa sayangnya pada kucing dengan cara yang tepat. Kucing kadang dipeluknya terlalu erat. Kadang diciumnya, mulut ke mulut, ewwww. Kadang digigitnya. Kadang diguling-gulingkan dilantai seperti sedang membuat sushi. Dan kalau melepaskan dari pelukannya itu tidak bisa pelan. Asa dibanting saja. Biasanya orang dewasa yang ada di sekitar Sophie yang histeris melihat perlakuannya pada kucing tersebut. Papa sih sudah bisa menerima hal ini, sudah bisa bicara dengan nada pelan ke Sophie bahwa tindakannya itu menyakiti kucing. Juga bisa menunjukkan bagaimana seharusnya menyayangi kucing itu. Saya? Jelas dong, sudah berteriak-teriak ngeri sendiri.

Papa beberapa kali mengusulkan bagaimana kalau kami adopsi saja si Kucing itu. Dibawa ke dokter hewan untuk vaksinasi, lalu kami pelihara di dalam rumah. Dan sampai saat ini saya belum mau menerima usul itu. Sekarang saja, saat kami belum resmi memeliharanya, si Kucing itu sudah sering menjelajah isi rumah, duduk santai di depan TV. Lah, nanti kalau resmi kami pelihara kami terus kucingnya nyusul tidur ke kasur bagaimana?

Kami, atau Papa tepatnya, tidak melarang Sophie bermain dengan kucing. Yang kami tekankan adalah pentingnya cuci tangan dengan sabun setiap kali selesai bermain. Mungkin demi kesehatan bersama saya perlu mempertimbangkan kembali opsi memelihara kucing tersebut. Sebagai permulaan, adakah yang tahu di mana saya bisa mendapatkan info mendetail tentang langkah-langkah domestikasi kucing liar?

Uncategorized

Usyi Iyina. Iyina SOFIA Hamad.

Papa: Itu Mickey Mouse. Ini Sophie Mouse ya?

Sophie: Bukaaan. Ini Usyi Iyinia!

P: Oh, Sophie Illiyina. Nama lengkapnya siapa dong?

S: Iyina SOFIA Hamad

P: Kalau nama Papa siapa?

S: Alwani Hamad

P: Kalau Mama?

S: A…. Aaa… Aaa…

P: Dwi Har…

S: Tanti!

Jadi, Sophie itu sudah bisa bilang SOFIA. Harusnya melafalkan namanya berubah jadi Sophie kan ya, bukannya Usyi terus seperti saat ini. Tapi ya terserah deh Nak sukanya bagaimana.

Terus, kenapa juga paling susah mengucapkan nama saya? Dulu awal-awal bicara mam, pooh, nen, dan num duluan yang keluar. Bisa bilang Mama-nya belakangan. Sekarang juga juga hafal nama Papa duluan. Nasib.

Uncategorized

Kantor Kecamatan Kembaran Hari Minggu Lalu

Saya suka sekali dengan foto-foto ini. Saya mengambilnya minggu lalu di Kantor Kecamatan Kembaran, saat kami menjemput Sophie yang sedang mengikuti lomba dalam rangka peringatan Hari Anak Nasional 2012 di sana. Sophie bertanding di lomba mengambil biji-bijian. Sophie sama sekali belum paham tentang konsep lomba sih. Dia tahunya bermain bersama teman-teman dan ibu Yani, dan itulah yang dia dapatkan. Bermain dengan seru. Kata Bu Yani, Sophie menuangkan kembali biji-biji yang sudah dimasukkannya dalam botol ke tampah kembali, dengan senyum lebar di wajahnya. Dan itulah yang terpenting buat kami πŸ™‚

Kami tidak melihat perlombaannya karena kami diminta menjemput Sophie jam 11.00 oleh pihak sekolah. Tapi am 10.00 kami sudah menjemputnya. Kami berpikir Sophie yang sudah selesai berlomba pasti capek dan ngantuk, yang artinya ekivalen dengan cranky-cranky yang pada akhirnya akan merepotkan Ibu Yani yang mungkin masih harus mendampingi anak lain berlomba. Dan benar saja, ketika kami datang Sophie sudah selesai, dan dia duduk manis di dekat tukang balon bersama Ibu Yani dan teman-temannya yang belum di jemput, sementara anak yang sudah dijemput memegang balon masing-masing. Ternyata balita dimana-mana itu sama saja ya, suka bener sama balon. Saya sungguh salut sama Ibu Yani dan guru-guru lain yang bisa membuat anak-anak duduk manis tanpa merengek di saat mereka pengen balon. Keren.

Sophie meminta balon berbentuk helikopter dengan gambar angry birds sebagai penumpangnya. Lihat nih wajah bahagianya saat memainkan balon πŸ™‚

Hari Anak Nasional 2012

Balon tersebut akhirnya terbang karena terlepas dari pita pengikatnya. Sophie tidak nangis lho, dia bilang ke saya, Ibednya terbang. Tidak apa-apa. Ibed adalah angry birds dalam pelafalan Sophie. Jauh ya πŸ™‚

Ternyata, kami menemukan banyak sekali ibu-ibu yang super heboh dengan perlombaan ini. Seorang kenalan saya membawa ayah dan keempat anaknya, termasuk yang baru setahun umurnya, untuk menyuporteri anak ketiga dan keduanya yang ikut berlomba.Β  Ibu-ibu yang lain sibuk menegur kenapa anaknya sampai kalah. Beberapa guru juga menganggap event tersebut terlalu serius, sampai mencari-cari kambing hitam atas kekalahan siswa didiknya. Sebenarnya anak-anak itu berlomba untuk siapa sih ya? Heran saya. Saya merasa lega bahwa saya tidak melihat ada orang tua siswa ataupun guru dari Sinar Mentari yang berperilaku semacam itu. Ya, tidak sehat buat perkembangan anak saja sih menurut saya.

Ini adalah satu dari sedikit Bapak yang terlihat di arena penjemputan lomba. Balon-balon itulah yang berhasil menghebohkan balita se Kembaran raya. Ibu-ibu dan anak-anak itu adalah guru, orang tua dan anak-anak Sinar Mentari yang belum dijemput oleh orang tuanya. Sophie-nya mana? Tentu saja sedang berlarian memainkan balon ibed-nya πŸ™‚

Hari Anak Nasional 2012