Uncategorized

Weekend Pertama Tanpa Sophie

Harus berurusan dengan orang yang sulit ditebak itu sungguh melelahkan ya. Ampun deh. Saya sudah dua mingguan ini berada dalam kekhawatiran, hampir depresi juga kayanya gara-gara lonjakan kepedulian, perhatian dan emosinya *amit-amit lah, tapi jelas bahwa level pusing saya belakangan ini mengalami peningkatan signifikan dibanding biasanya*. Dua minggu. Eh, hari ini ketemu dan dia sama sekali lupa marah-marahnya waktu itu. Seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa. Ketawa-tawa, memberikan encouragement. Bingung saya mencernanya, tapi asli lega. Lucu rasanya, saya berarti takut dengan bayang-bayang ya selama ini. Lucu, tapi benar kejadian.

Melihat sisi lain dari sesuatu itu kadang menakutkan, kata mereka. Benar banget, saya baru saja mengalaminya. Cukup membuat patah hati sih, tapi saya relatif baik-baik saja. Recovery-nya cepat. Jelas lah, belakangan ini saya kan sering patah hati. Keseringan patah hati lama-lama kebal juga kan ya. Bakteri saja bisa megalami resistensi kok, apa lagi saya 🙂

Btw, week end nanti saya tidak pulang untuk pertama kalinya. Pekerjaan di lab sedang tidak bisa ditinggal. Dulu saya pikir saya akan sangat sedih, kesepian, dan lain-lain perasaan semacamnya  kalau melewatkan weekend tanpa Sophie dan Papa, sendirian di Surabaya. Tidak terbayang mau melakukan apa. Tapi ternyata saat ini saya yakin bisa saja merasanya. Ya tidak tahu bagaimana kenyataannya nanti sih, tapi setidaknya saya kebayang kok mau bagaimana nanti.

Manusia itu belajar, dan jelas memiliki kemampuan beradaptasi. That’s why I am sure that I will make it 🙂

Dan, inilah yang akan saya lewatkan Sabtu – Minggu nanti.

Image

Btw, Sophie mulai mau bercerita kalau saya telepon. Biasanya kan kalau saya telepon Sophie mendengarkan saja, mengangguk dan menggeleng kalau ditanya, senyum-senyum, dan yang tersering kabur meninggalkan saya ngoceh sendiri. Kemarin malam dia bercerita kalau baru saja muntah.

Usyi muntah Mama, banyak. Bajunya kena. Sofanya kena juga. Papa juga kena, kaos dalam Usyi  juga kena

Hihihi, seru deh ini, mulai bisa diajak ngerumpi di telepon.

Oh ya, saya tidak bisa pulang weekend ini berarti juga harus melewatkan pernikahan Mbak Septi, bungsunya Mbah Sainah. Juga berarti bahwa Papa harus lebih lama mengurus rumah no maid. Di tempat kami rewang cuti lama karena mantu itu biasa. Mbah Sainah sudah dua minggu ini cuti. Masih untung seminggu yang lalu ada Budhe Nani, adik Mbah Sainah yang sementara membantu bersih-bersih rumah. Sudah sejak Senin kemarin Budhe Nani tidak datang. Papa dong yang save the day, nyuci ngepel masak momong dikerjain sendiri. Ndobby,dalam bahasa kami. Semoga Papa sehat-sehat dan sabar terus.

Keren ya suami saya 🙂

Advertisements