Uncategorized

Random, Here and There

Faktor U itu beneran tidak bohong ya. Semakin tua semakin ringkih badan ini. Saya yang dulunya hampir tidak terpengaruh karena batpil, hampir 24 jam ini tersiksa karenanya.  Senin pagi saya sudah merasa tidak enak, suhu badan mulai naik dan pegal-pegal merata dari punggung sampai kaki. Tapi Senin kemarin itu saya bertahan sampai sore dengan bantuan dua cangkir kopi dan makan siang brutal, demi workshop tentang fraksinasi yang menghadirkan pemateri dan doorprize yang keren. Saya tidak pernah punya sejarah yang bagus dengan keberuntungan dalam hal undian dan kawan-kawannya, makanya saya ekstra bahagia ketika mendapatkan mug berisi cartridge silika dari Sepacore dalam acara tersebut 🙂

Pulang-pulang saya langsung KO. Demam tinggi dan pegal-pegal berlanjut. Ditambah mual-mual. Serba salah deh kondisi saya. Kalau saya tidak makan, maka kondisi saya potensial memburuk. Kalau saya makan, maka mual yang ada berpotensi menjadi muntah plus diare juga kalau makanannya tidak tepat. Faktor U, you know. Ketika imunitas saya melemah, saluran pencernaan saya ikutan rewel. Susah ya menjadi tua!

Setelah lebih dari 24 jam, alhamdulillah kondisi saya sudah membaik. Sepertinya besok saya sudah bisa ngelab lagi. The credits go to air putih, Tolak Angin dan CSI. Ketiganya membuat saya betah bertahan di kamar saya seharian ini. Eh, tapi saya sempat menyelinap keluar juga dalam rangka menyelesaikan beberapa urusan. Memang ya, saya ini susah sekali untuk dibuat diam 🙂

Btw, hal yang paling menarik dari timeline saya hari ini adalah sharing Mbak @annasurtinina tentang sekolah dini. Rangkuman tweet beliau bisa dibaca disini. Memang ya, urusan anak sekolah di usia dini itu perlu banyak pertimbangan, seperti keamanan, stimulasi, paham perkembangan, teman dan finansial sebelum mengambil keputusan. Mengingat kompleksnya pertimbangan yang ada, jelaslah bahwa sifatnya individual ya, apa yang kita anggap cocok buat seorang anak belum tentu cocok untuk anak lain. Demikian pula sebaliknya.

Kalau Sophie sih semuanya berawal dari kebetulan ya. Pengasuhnya yang tiba-tiba minta berhenti sementara saya belum juga mendapatkan penggantinya lah yang membuat saya berkenalan dengan TPA. Ketika sudah merasakan TPA dan membandingkan dengan kondisi selama di rumah, saya lebih nyaman menitipkan baby Sophie di TPA dulu. Dan berlanjut hingga sekarang. Jadi ya fokus kami itu adalah pengasuhan selama kami tidak berada di dekatnya, bukan tentang pendidikannya. Bagi kami sudah cukup ketika Sophie diasuh oleh orang-orang yang tahu teori bagaimana seharusnya mengasuh batita -dan semoga mempraktekkannya dengan baik, amin- berada di lingkungan yang memungkinkan buatnya melihat, mendengar dan mencontoh hal-hal yang baik serta bermain dengan aman bersama teman-teman sebayanya.

Komentar negatif tentang pilihan kami ini tentu saja ada. Beberapa bahkan sudah pada level annoying deh. Tapi saya berusaha untuk tidak memasukkannya ke hati. Saya dengarkan saja. Mentok-mentoknya saya bilang bahwa this is my choice, my responsibility. Selesai.

Melengkapi cerita acak tak terarah ini, saya kok merasa saya dan Sophie itu kadang lebih pantas jadi kakak adik ya, dimana sang adik lebih wise dari kakaknya. Weekend kemarin pas kami pulang dari jalan-jalan, saya menowel Papa ketika melintasi toko kerudung yang baru dibuka. Oh ya, tentunya saya mengajak Papa mampir ya, siapa tahu ada yang cocok. Sophie yang ada di gendongan saya tiba-tiba berkomentar,

Mama sudah punya kok

Saya pun kemudian bertanya padanya, saya punya apa. Jawaban Sophie membuat saya terdiam dan suami tertawa bahagia.

Punya kerudung, Mama. Yang ini bagus, ada bunga-bunganya

Baiklah, karena saya sudah punya kerudung yang bagus dan ada bunga-bunganya, maka berarti saya tidak perlu melihat-lihat koleksi toko baru tersebut. I wish i had that simple mind, Soph 🙂

Dan, sore tadi Sophie berhasil menyentuh saya lagi untuk kesekian kalinya. Sophie mengatakan pada saya agar saya minum banyak air putih, biar cepat sembuh. Saya tahu Sophie mengatakan itu atas diktean Papa, tapi tetep saja terasa nyes di hati. Loves of my life, they are.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s