Uncategorized

Sophie dan Meong

Bertambah satu lagi hal yang bisa membuat Sophie super exited, yaitu kucing. Ya ampun, PR banget ini buat saya. Bukan apa-apa, belakangan ini saya lagi tidak suka bermain dengan kucing. Jadinya ya saya sering senewen sendiri, melihat Sophie nguyel-uyel kucing liar yang tidak tahu kenapa kok lulut banget sama dia.

Semuanya berawal beberapa bulan yang lalu saat Sophie mogok makan parah. Hal yang bisa membuatnya makan waktu itu, setelah serangkaian trial and error, adalah makan di depan rumah. Nah, lama-lama acara makan di depan rumah itu bergeser jadi makan bersama kucing. Sophie selalu meminta siapapun yang menyuapinya untuk memberikan makanan yang sama seperti yang ia makan pada kucing liar yang banyak berkeliaran di kompleks perumahan kami. Iya, sama plek-plek. Sophie sesuapan, lalu kami harus menjatuhkan sesendok makanan kepada kucing-kucing itu. Papa sih sejiwa sama Sophie, kalau ada kucing meong-meong di depan rumah dan kami punya makanan yang bisa dimakan kucing, pasti diberi makan juga. Sayanya saja yang lagi sok iye tidak mau akrab sama kucing.

Seiring berjalannya waktu, ada satu kucing yang lulut banget sama Sophie. Lulut itu semacam nurut, jinak begitu deh. Diapa-apakan saja mau. Kucing yang lain padahal malu-malu mau saja lho, dalam artian kalau ada makanan mendekat tapi kalau mau dipegang kabur duluan. Dugaan saya kucing yang lulut sama Sophie itu adalah kucing jantan yang semacam putra mahkota di keuarganya gitu deh. Soalnya, selalu kucing itu yang mendapatkan jatah makan pertama kali. Yang lain baru bisa makan setelah si Kucing itu selesai.

Sophie memanggil kucing liar yang lulut padanya itu dengan sebutan Kucing, Pus atau Meong, suka-suka dia saja. Saya tidak mengusulkan nama apapun, wong belum diberi nama saja rasa memiliki Sophie atas kucing itu sudah sedemikian tingginya. Kucing Usyi, katanya. Dan ya, Sophie sekarang sudah bisa mengidentifikasi keluarga si kucing itu. Yang kurus berwarna sedikit terang kata Sophie adalah adiknya si Kucing. Yang berbulu lebih gelap adalah kakaknya. Dan yang besar, dengan beberapa spot putih di bulunya adalah Mama si Kucing. Errr….

Dua minggu yang lalu saya baru saja sampai di rumah saat Sophie yang baru saja mandi mengelus-elus si Kucing. Saya katakan padanya, habis mandi tidak usah bermain dengan kucing dulu. Sejenak Sophie berhenti, lalu dia menggunakan kakinya untuk menggantikan tangannya. Pake kaki, katanya. Lah, saya ya langsung mengehentikannya ya, saya katakan tangan dan kaki itu sama saja,kalau habis mandi jangan digunakan untuk berinteraksi dengan kucing. Dan yang Sophie lakukan selanjutnya sukses membuat saya mutung: dia majukan badannya untuk nguyel-uyel kucing! Dan etah kenapa kucingnya juga memajukan badannya.

Foto ini saya ambil kemarin, saat Sophie bangun tidur siang. Lihat saja tuh, muka masih bau bantal begitu Sophie langsung bermain dengan kucingnya. Kucing ini selalu menunggu di depan pintu saat Sophie di rumah. Kalau pintu terbuka ya langsung nyelonong saja ke dalam rumah.

Image

Saya tahu, Sophie itu sayang sama kucingnya. Masalahnya adalah, Sophie belum bisa mengekspresikan rasa sayangnya pada kucing dengan cara yang tepat. Kucing kadang dipeluknya terlalu erat. Kadang diciumnya, mulut ke mulut, ewwww. Kadang digigitnya. Kadang diguling-gulingkan dilantai seperti sedang membuat sushi. Dan kalau melepaskan dari pelukannya itu tidak bisa pelan. Asa dibanting saja. Biasanya orang dewasa yang ada di sekitar Sophie yang histeris melihat perlakuannya pada kucing tersebut. Papa sih sudah bisa menerima hal ini, sudah bisa bicara dengan nada pelan ke Sophie bahwa tindakannya itu menyakiti kucing. Juga bisa menunjukkan bagaimana seharusnya menyayangi kucing itu. Saya? Jelas dong, sudah berteriak-teriak ngeri sendiri.

Papa beberapa kali mengusulkan bagaimana kalau kami adopsi saja si Kucing itu. Dibawa ke dokter hewan untuk vaksinasi, lalu kami pelihara di dalam rumah. Dan sampai saat ini saya belum mau menerima usul itu. Sekarang saja, saat kami belum resmi memeliharanya, si Kucing itu sudah sering menjelajah isi rumah, duduk santai di depan TV. Lah, nanti kalau resmi kami pelihara kami terus kucingnya nyusul tidur ke kasur bagaimana?

Kami, atau Papa tepatnya, tidak melarang Sophie bermain dengan kucing. Yang kami tekankan adalah pentingnya cuci tangan dengan sabun setiap kali selesai bermain. Mungkin demi kesehatan bersama saya perlu mempertimbangkan kembali opsi memelihara kucing tersebut. Sebagai permulaan, adakah yang tahu di mana saya bisa mendapatkan info mendetail tentang langkah-langkah domestikasi kucing liar?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s