Uncategorized

For The Girl Who Loves Doraemon and Flowery Brooch :)

Image

Sophie itu model yang gampang disenangkan hatinya. Hal-hal kecil yang kami lakukan bisa membuatnya tertawa bahagia dengan lepasnya. Persis saya πŸ™‚

Weekend kemarin kami mengajak Sophie makan pagi di Taman Satria. Sophie senang banget! Saya yang baru saja menyeberang jalan langsung ditariknya memasuki taman sambil teriak-teriak gembira. Ada taman, Mama. Wow, sungainya banyak. Ayun-ayunnya rusak, bisa kok! Daaaan seterusnya πŸ™‚

Padahal ya, Taman Satria itu cuma menang sejuknya lho. Mainannya rusak semua. Tapi saya tidak mengeluhkannya. Saya suka keteduhan dan kelengangannya. Kemarin kebetulan sedang banyak kupu-kupu beterbangan. Lumayan sebagai obyek kejar-kejaran Sophie πŸ™‚

Image

Untuk Sophie, yang kemarin memberikan bros kodoknya buat saya agar bisa memakai bros bunga saya, ceria terus Nduk ya, puas-puasin bermain gembira di mana saja πŸ™‚

Uncategorized

Salahkan Gaya Hidup Saya

Semuanya berawal dari bisik-bisik iseng Papa ke Sophie ketika mereka melihat saya menyeberang jalan hari Sabtu lalu. Bisikan yang ditanggapi Sophie dengan tawa.

“Mama gendut ya Soph”

Jadi maksud tawanya mengiyakan pernyataan Papa ya Soph?

Terus, waktu kami peluk-pelukan, Sophie berdiri di bangku dan saya berdiri, Sophie mengatakan hal yang paling tidak ingin saya dengar darinya,

“Perut Mama gendut!”

Tidak mau dicap gendut sendirian, saya kemudian menanyakan padanya apakah dia merasa gendut. Jawabannya singkat dan jelas. Nggak.

“Papa gendut tidak?”

“Papa nggak gendut”

Papa yang merasa menang kemudian bertanya, apakah dirinya enak dipeluk. Sophie menjawab iya.

Baiklah, mulai detik itu dimata Sophie Mama = gendutΒ  dan Papa = enak dipeluk. Asal tahu saja Papa ya, bahwa enak dipeluk itu adalah level diatas gendut. Sip.

Siangnya, saya merayu Sophie agar mau diajak jalan-jalan. Sophie lagi mabok Dora the Explorer, yang membuatnya tidak mau diajak jalan-jalan. Tapi ya, sekalinya mau diajak keluar, Sophie tidak mau diajak pulang. Hihihi, mirip siapa coba?

“Nanti kita jalan-jalan yuk Soph?”

“Mau ke mana, Mama?

“Mau ke toko, beli celana buat Mama”

“Celana Mama kenapa, sobek?

“Tidak sobek kok. Mama kan sekarang gendut, jadi celana Mama kekecilan, tidak enak dipakai lagi”

“Hahaha, Mama kayak dedek bayi saja, celananya kekecilan”

Errrrrr, saya dianalogikan dengan dedek bayi masa πŸ˜€

Kemudian, pas lagi main-main di kasur tiba-tiba Sophie bertanya,

“Perut Mama gendut, ada dedek bayinya ya?”

“Belum, ini belum ada dedek bayinya. Sophie mau adik?

“Mau Mama”

Kejutan, ini untuk pertama kalinya Sophie bilang mau punya adik. Biasanya kalau ditanya selalu bilang tidak mau, katanya Mama untuk Usyi saja. Saya yang sukses terkejut kemudian menanyakan preferensi Sophie terhadap jenis kelamin calon adiknya.Β 

“Mau yang seperti Adik Beryl atau Adik Kayla?”

“Kaya Adik Kela. Tapi adik bayi Usyi dulu, adik bayi Mama nanti saja”

Heh, saya mlongo kan ya, ini maksudnya apa sih ya anak saya ini….

“Usyi punya adik dulu dari perut Usyi, kalau sudah baru Mama punya adik dari perut Mama”

Oalah, jebule dirimu belum paham konsep adik, anak, hamil, melahirkan dan seterusnya ya Soph? Hihihi. Tiwas Mama GR πŸ™‚

Absurd bener ya percakapan kami. Tapi percayalah, yang paling absurd itu adalah Papa. Ketika Sophie kembali menjelaskan keinginannya tentang punya adik (yang seharusnya anaknya sih, sebenarnya), Papa langsung berkomentar,

“Nanti kalau punya adik beneran, adiknya jangan dieksploitasi ya Soph”

Jelas sudah dari mana Sophie belajar tentang hal-hal ajaib dalam pembicaraan sehari-harinya.

Β 

Uncategorized

Proud Mama #4

Image

Masih tentang cerita weekend lalu. Saya yang sedang ngantuk dan capek diajak Sophie melihat monyet. Saya yang tidak bisa melihat Papa duduk nyaman istirahat sementara saya potensial tambah capek, mengajak Papa ikut dengan kami.

“Ayo Papa!”

Saya mengucapkannya dengan tidak sabar, cenderung ketus. Sophie yang sedang saya gandeng tangannya berhenti dan menatap saya dengan prihatin.

“Yang baik, Mama”

Eh, saya bengong dong ya. Sophie kemudian menengok ke belakang dan berucap dengan nada lembut, berkebalikan dari cara saya mengucapkannya.

“Ayo, Papa”

Dan Papa pun berdiri, terus kami gandengan bertiga.Terus sambil berjalan Papa tertawa-tawa gembira gara-gara menyaksikan saya dinasehati Sophie.

Terima kasih sudah mengingatkan Mama ya Soph. Untuk reaksi Papa juga, yang tidak membuat saya ngerasa jelek-jelek amat tapi sekaligus menyadari bahwa ada yang harus dikoreksi dari sikap saya selama ini πŸ™‚

Uncategorized

Setahun Berlalu

Tidak terasa, tahu-tahu sudah setahun berlalu sejak Sophie boyongan ke Purwokerto. Setahun sudah saya jadi lajang sementara dan bolak-balik Purwokerto – Surabaya, Papa menjadi temporary single parent, dan Sophie kembali ke Sinar Mentari….

Menjalani kehidupan keluarga kocar-kacir macam saya ini bukanlah sesuatu yang mudah. Tapi, juga tidak sesulit yang kita bayangkan sebelum menjalaninya. Ada naik turunnya, tentu saja. Yang terpenting adalah bahwa ada banyak hal yang sudah kami pelajari selama menjalani babak ini. Bukan pilihan yang mudah, tetapi dengan beberapa pengaturan kami bisa menjalani semua ini. Dari sekian banyak faktor yang mempengaruhi, saya bisa menjalani episode ini terutama karena Sophie dan Papa.

Sophie itu anak yang hebat. Dia sama sekali tidak pernah menangis ataupun merengek setiap kali saya pamitan mau ke Surabaya. Dia selalu melepas keberangkatan saya dengan senyum dan wajah cerianya. Sejak setahun lalu hingga hari minggu lalu, Sophie konsisten dengan hal itu, kecuali pasca lebaran tahun lalu dimana saya lupa tidak mengkomunikasikan dengan baik padanya dulu.

Sophie mengkompensasikan ketiadaan saya setiap weekdays dengan penguasaan total atas diri saya setiap weekend nya. Jadi tawanan Sophie adalah istilah yang kami gunakan untuk menggambarkan hal ini. Kurang lebih beginilah rutinitas kami: Usyi tidak sekolah, di rumah saja sama Mama. Dilanjutkan dengan Mama di sini saja, peluk-pelukan sama Usyi. Artinya saya tidak boleh masak, mandi, apalagi tidur. Just having good time with her. Setelahnya, barulah Papa mulai boleh bergabung beraktivitas dengan kami πŸ™‚

Minggu malam, Sophie ikut mengantar ke terminal. Sophie biasanya ikut naik ke bis, pencat-pencet lampu dan AC sampai puas, lalu turun dari bis. Sophie mengulurkan tangannya untuk salim ke saya, pasang pipi minta dicium, berkata dadah Mama, lalu berbalik minta digendongΒ  atau dituntun Papa, pulang ke rumah. Good girl, she is. Kunci dari semua ini adalah pengkomunikasian yang baik. Iya, masih sama seperti dulu. Biasanya saya mulai menyampaikan kalau saya akan ke Surabaya sejak Sabtu sore, dan terus mengulangi hal tersebut hingga menjelang keberangkatan saya. Sophie di hari Sabtu biasanya masih belum mau menjawab, diam saja kalau saya pamiti. Nah, baru deh hari minggunya, setelah dia merasa puas bermain dengan saya, barulah dia bilang iya setiap kali saya pamiti.

Papa juga tidak kalah hebat. Papa membuat saya tenang dengan semua hal yang ada didirinya. Papa memastikan bahwa Sophie berada dalam pengasuhan di tangan yang baik, mencukupi kebutuhan Sophie dan mengurus dirinya sendiri dengan baik selama saya tidak di rumah. Bahkan saat saya di rumah pun, ketika saya sedang mesra-mesraan dengan Sophie (atau dengan kata lain, saat saya jadi tawanan Sophie), Papa akan melakukan hal-hal yang tidak bisa saya kerjakan. Mulai dari memasak sampai mencuci, apapun. Papa selalu berusaha membuat saya untuk tidak mengkhawatirkan Sophie dan dirinya ketika saya tidak di rumah, singkatnya. Keren ya, suami saya πŸ™‚

Sophie dan Papa, setahun dan dua hari yang lalu. Yang satu tambah berbobot, yang lain rambutnya bertambah tebal. Love them both, a lot πŸ™‚

Setahun berlalu, dan saya belum bisa melihat akhir dari episode ini. Masih butuh banyak usaha dan doa untuk bisa kumpul bersama Sophie dan Papa sebagai satu keluarga yang utuh. Masih harus menguatkan hati setiap harinya. Tapi, kami sudah berhasil menjalani setahun ini. Ini sudah lebih dari cukup untuk percaya bahwa kami juga akan berhasil menyelesaikannya. Dengan baik, semoga πŸ™‚

Uncategorized

Dari Purbayasa ke Baturaden

Minggu pagi kami bermain ke Purbayasa. Beberapa hari sebelumnya Sophie bilang ingin melihat ikan dan naik bebek gara-gara melihat-lihat foto-foto liburannya bersama Mas Dika di sana. Kami berangkat pagi-pagi (bahkan jadi pengunjung pertama yang datang hari minggu itu!) dan langsung menyuapi Sophie. Saya cuma berhasil menyuapkan beberapa sendok saja, karena Sophie terus berlari kesana kemari dan terutama ngemut makanannya. Papa berhasil membuat Sophie makan banyak dengan cara mengikuti kemanapun Sophie lari sambil terus mengingatkan Sophie untuk mengunyah. Cukup efektif ternyata cara tersebut. Sophie paling banyak makan ketika bermain di play ground dekat kolam tempat sepeda air. Pecinta perosotan mendapatkan apa yang diinginkannya πŸ™‚

Image

Sophie sekali lagi terhenti di play ground, kali ini yang ada di dekat Akuarium dan kolam renang. Setelah mencoba ayunan dan perosotan, Sophie tertegun melihat panjat-panjatan -apa sih namanya, itu lho, besi-besi yang sering ada di TK-TK yang dipanjati anak-anak itu lho-.Di Sinar Mentari ada sebenarnya mainan sejenis, cuma bentuknya berbeda dan lebih kecil di banding yang di Purbayasa ini.

“Mama ini apa?”

“Panjat-panjatan, Soph”

“Untuk apa?”

“Ya untuk dipanjat”

Daaan, Sophie anteng di situ. Lama bener dia bermain panjat-panjatan. Bahkan setelah interupsi pup pun dia masih juga betah di situ. Mainan favorit baru, sepertinya.

Image

Kecapekan di panjat-panjatan, kami kemudian bermain sepeda air. Sophie sudah pasti senang sekali kesampaian naik bebek, seperti yang sudah dimintanya dari sejak pagi.

Image

Tahu-tahu sudah jam 11 lewat, Sophie capek + lapar = cranky. Kami kemudian menuju kota, mau makan siang. Sepanjang jalan saya mengatakan pada Sophie, jangan tidur dulu ya, makan dulu. Sophienya bilang iya-iya saja, tapi tidak sampai semenit dari iyanya yang terakhir, anaknya sudah tidur nyenyak di gendongan saya πŸ™‚

Di luar skenario, Sophie bangun ketika kami memesan makanan. Makannya hebat, seneng rasanya :). Kami, Papa dan saya, sudah capek dan berencana tidur siang di rumah. Sophie yang sudah tidur dan kenyang tentu saja tidak mendukung rencana tersebut. Sophie bilang belum mau pulang, mau jalan-jalan lagi. Dan karena kami sudah di Pabuaran, Papa mengiyakan permintaan Sophie tersebut dan jadilah kami ke Wana Wisata Baturaden.

Image

Di sana, kami menemukan sisa-sisa resepsi pernikahan di sekitaran Gerbang Wana Wisata. Keren sepertinya, resepsi dibawah pohon-pohon pinus, dengan kolam ikan kecil dan udara yang sejuk sebagai bonusnya πŸ™‚

Setelah Sophie puas bermain dan melihat monyet, kami pulang. Capek, tapi menyenangkan πŸ™‚

Β 

Β 

Β