Uncategorized

Dari Purbayasa ke Baturaden

Minggu pagi kami bermain ke Purbayasa. Beberapa hari sebelumnya Sophie bilang ingin melihat ikan dan naik bebek gara-gara melihat-lihat foto-foto liburannya bersama Mas Dika di sana. Kami berangkat pagi-pagi (bahkan jadi pengunjung pertama yang datang hari minggu itu!) dan langsung menyuapi Sophie. Saya cuma berhasil menyuapkan beberapa sendok saja, karena Sophie terus berlari kesana kemari dan terutama ngemut makanannya. Papa berhasil membuat Sophie makan banyak dengan cara mengikuti kemanapun Sophie lari sambil terus mengingatkan Sophie untuk mengunyah. Cukup efektif ternyata cara tersebut. Sophie paling banyak makan ketika bermain di play ground dekat kolam tempat sepeda air. Pecinta perosotan mendapatkan apa yang diinginkannya 🙂

Image

Sophie sekali lagi terhenti di play ground, kali ini yang ada di dekat Akuarium dan kolam renang. Setelah mencoba ayunan dan perosotan, Sophie tertegun melihat panjat-panjatan -apa sih namanya, itu lho, besi-besi yang sering ada di TK-TK yang dipanjati anak-anak itu lho-.Di Sinar Mentari ada sebenarnya mainan sejenis, cuma bentuknya berbeda dan lebih kecil di banding yang di Purbayasa ini.

“Mama ini apa?”

“Panjat-panjatan, Soph”

“Untuk apa?”

“Ya untuk dipanjat”

Daaan, Sophie anteng di situ. Lama bener dia bermain panjat-panjatan. Bahkan setelah interupsi pup pun dia masih juga betah di situ. Mainan favorit baru, sepertinya.

Image

Kecapekan di panjat-panjatan, kami kemudian bermain sepeda air. Sophie sudah pasti senang sekali kesampaian naik bebek, seperti yang sudah dimintanya dari sejak pagi.

Image

Tahu-tahu sudah jam 11 lewat, Sophie capek + lapar = cranky. Kami kemudian menuju kota, mau makan siang. Sepanjang jalan saya mengatakan pada Sophie, jangan tidur dulu ya, makan dulu. Sophienya bilang iya-iya saja, tapi tidak sampai semenit dari iyanya yang terakhir, anaknya sudah tidur nyenyak di gendongan saya 🙂

Di luar skenario, Sophie bangun ketika kami memesan makanan. Makannya hebat, seneng rasanya :). Kami, Papa dan saya, sudah capek dan berencana tidur siang di rumah. Sophie yang sudah tidur dan kenyang tentu saja tidak mendukung rencana tersebut. Sophie bilang belum mau pulang, mau jalan-jalan lagi. Dan karena kami sudah di Pabuaran, Papa mengiyakan permintaan Sophie tersebut dan jadilah kami ke Wana Wisata Baturaden.

Image

Di sana, kami menemukan sisa-sisa resepsi pernikahan di sekitaran Gerbang Wana Wisata. Keren sepertinya, resepsi dibawah pohon-pohon pinus, dengan kolam ikan kecil dan udara yang sejuk sebagai bonusnya 🙂

Setelah Sophie puas bermain dan melihat monyet, kami pulang. Capek, tapi menyenangkan 🙂

 

 

 

Uncategorized

Sabar, Sabar, Sabar…

Akhir pekan yang amat menyenangkan tapi juga melelahkan. Rasanya 36 jam itu kurang lama buat kami, apa lagi saya dua minggu tidak pulang. Pulang-pulang maunya bersama terus, juga Sophie yang sekarang semakin ekspresif dalam menyampaikan keinginannya untuk nemplok saya melulu.

Banyak hal seru yang terjadi weekend kemarin, sebagai permulaan saya ingin memasang foto Sophie dengan dua kebisaan barunya yang sukses membuat Papa senewen, terutama kalau sedang serba tergesa-gesa diburu waktu:

Image
“Pake selimut” dan susuran. Ghrrrr

Yang pertama adalah tidak mau memakai baju setelah mandi. Karena kami menanamkan padanya bahwa tidak memakai baju itu adalah malu dan dingin, maka Sophie mengakalinya dengan meminta selimut. Yang dimaksudkan selimut di sini oleh Sophie adalah kain Bali seperti di foto itu. Analisa Papa, Sophie suka sensasi lembut di kulit yang bersentuhan dengan kain itu. Lembut sih lembut, tapi kalau Papa ada kelas jam 8, sementara Sophie memakai selimutnya lama sambil males-malesan nonton Dora the Explorer, maka yang terjadi adalah pagi yang rusuh di rumahliliput kami 🙂

Yang kedua adalah ngemut makanan. Kami menyebutnya susuran karena Sophie menempatkan makanan yang diemutnya diantara gigi dan pipi, persis orang yang sedang nyirih. Yang lebih menyebalkan, kalau ditanya apakah dia sudah kenyang, maka kalau dia memang belum kenyang maka dia akan menjawab, belum, mau maem lagi. Ih, kalau belum kenyang ya kenapa makanannya dibuat susuran, Nduk? Kalau Papa senewen melihat Sophie susuran, maka saya ultra senewen karenanya. Makanya, dari pada saya marah-marah, biasanya setelah beberapa suapan saya angkat tangan, menyerahkan untuk dilanjutkan Papa. Mutungan ya saya ini, jangan ditiru 🙂

PS: Jangan lama-lama ya Soph edisi nyebelin kali ini. Dulu kamu jaman bayi maemnya pinter lho, duduk manis sama Mama, tidak ngemut makanan, paling kalau tidak sukan dilepeh makanannya. Kalau susah dipakein baju sih sejak dulu memang iya. Tapi jangan terus dijadikan kebiasaan dong ah. Semoga kami, Papa utamanya, sabar terus meladenimu.