Uncategorized

Celoteh Sophie

Sore itu kami sedang melintas di bagian depan perumahan yang sedang dibangun, melewati rumah-rumah dengan warna cat gonjreng kontras satu sama lain.

“Rumahnya bagus ya Mama”

“Iya, bagus”

“Warnanya cantik”

“Rumah Sophie bagus juga tidak?”

“Tidak. Rumah Usyi tidak dicat”

Sophie sayang, putih itu juga warna lho Nak ๐Ÿ™‚

***

Kami sedang makan malam bersamaย  Bulik Hikmah dan Bulik Anis. Ketika saya berdiri untuk mencuci tangan, langsung deh keluar serentetan instruksi dari Sophie

“Mama cuci tangan dulu. Pakai sabun. Begini-begini *sambil menggosok-gosokkan telapak tangannya, lalu punggung tangannya*. Yang bersih ya Ma”

Tukang ngatur ๐Ÿ˜€

Untuk urusan cuci tangan ini kami harus berterima kasih pada Yoyo. Pas Yoyo main ke rumah, beliau mengajari Sophie cara cuci tangan yang benar seperti yang diterapkan di Biofarma.Sophie itu secara alami memang lebih mudah menerima ilmu yang diajarkan orang lain diluar Papa-Mamanya, entah apa alasannya ๐Ÿ™‚

***

Di kamar mandi…

“Usyi cebok Mama, pakai sabun”

“OK”

“Usyi sudah pipis. Mama pipis juga?”

“Iya”

“Yang kenceng ya Ma”

*bengong* “Pipis yang kenceng itu yang bagaimana ya Soph?”

“Yang ghhhh” *ngeden*.

Ngakak sejadi-jadinya ๐Ÿ˜€

***

Beberapa hari yang lalu Sophie muntah di alun-alun, mungkin karena masuk angin atau karena tubuhnya menolak bakso abang-abang yang dia makan sebelumnya. Saya mengajaknya ke masjid untuk mengganti pakaiannya. Ketika saya mengulurkan tangan untuk menggendongnya, Sophie langsung menolak.

“Usyi jalan saja Mama, baju Usyi basah”

“Iya, tidak apa-apa, biar cepat bisa diganti bajunya yang basah”

“Tidak mau, nanti baju Mama kotor”

“TIdak apa-apa kok baju Mama kotor”

“Usyi jalan digandeng saja”

Dan, Sophie konsisten jalan sendiri dengan baju basahnya menyeberangi sisi ke sisi alun-alun sampai ke kamar mandi masjid besar lho. Terharu, Sophie sudah beneran besar sekarang….

Seperti yang sering kali saya katakan padanya, saya sayang sekali sama Sophie. Love of my life.