Uncategorized

“Usyi Mbak-mbak…”

Sophie akhir-akhir ini lagi menghayati banget segala sesuatu yang berhubungan dengan gendernya sebagai wanita. Papa yang lebih banyak mengambil peranan dalam hal ini, mengingat saya suka ngasal kalau bicara, khawatir Sophie akan merekam pengetahuan asal-asalan ala saya, seperti yang ini misalnya πŸ™‚

Kami membiasakan menggunakan kata mbak-mbak dan mas-mas untuk tujuan tersebut. Mas-mas untuk laki-laki, mbak-mbak untuk wanita.

Kami memulai dengan menerangkan printilan-printilan yang umumnya khas dipakai oleh gender tertentu saja. Misalnya, rok, gelang, baju-baju berpita, dll. Ternyata, Sophie cukup efektif merekam informasi-informasi tersebut. Beberapa waktu yang lalu Sophie lagi suka-sukanya memakai gelang. Beryl, teman main Sophie, menginginkan gelang yang sedang dipakai Sophie. Sophie menolak meminjamkan gelangnya pada Beryl dengan penjelasan sederhana.

“Yang pakai gelang mbak-mbak. Usyi mbak-mbak. Beyi mas-mas. Beyi gak pake gelang”

Ajaibnya, Beryl mau menerima penjelasan Sophie dan berhenti merengek meminta gelang. Sungguh mengagumkan bagaimana anak-anak berkomunikasi ya πŸ™‚

Ada satu ciri wanita yang dipegang banget sama Sophie, yaitu rambutnya panjang. Ini nih, Sophie ngeyel tidak mau dipotong rambutnya gara-gara dia percaya bahwa yang namanya mbak-mbak itu rambutnya harus panjang. Padahal ya, poni Sophie sudah hampir nutupin mata. Terus, sisa rambut yang tidak sengaja terpotong pas Sophie bermain peran sebagai barber di sekolah dulu sekarang mulai jabrik-jabrik lucu. Belum lagi anaknya sekarang susah banget dikeramasi, lecek bin apek pokoknya.

Dalam rangka merayu Sophie mau memotong rambut, kami berulang kami mengatakan pada Sophie bahwa nanti kami akan minta mbak di salon untuk memotong poni dan merapikan rambut belakangnya sedikit saja.

“Sedikit, Mama?”

“Iya, yang ngluwer-ngluwer saja”

“Masih panjang?”

“Masih”

“Masih bagus kaya rambut Mama?’

“Iya, tetep panjang dan bagus kaya rambut Mama”

Akhirnya, Sophie mau dipotong rambutnya, setelah Papa mau bilang mau memotong rambutnya juga πŸ™‚

Ini nih, fotoΒ  before and after potong rambutnya:

Image
Tidak jauh beda, ya πŸ™‚

Selesai potong rambut, Sophie menarik-narik rambut belakangnya, sambil bertanya-tanya apakah rambutnya masih panjang. Sophie baru mau diam dan percaya rambutnya masih panjang ketika rambutnya masih bisa diikat dua, seperti biasanya πŸ™‚

Btw, weekend kemarin Sophie up grade pengetahuannya dalam hal membedakan mbak-mbak dan mas-mas. Sophie yang sedang berendam di ember mandinya memberikan instruksi pada Papa yang sedang mandi.

“Yang bersih, Papa”

“Iya, Soph”

“Vagina Papa disabun juga ya”

Papa diam saja mendengar ini. Kaget nampaknya πŸ™‚ Saya yang sedang menyiapkan makan Sophie ikut nimbrung dan menjelaskan bahwa yang punya vagina itu cuma mbak-mbak. Mas-mas pipisnya pakai penis. Dan seperti biasa, Sophie mengangguk-angguk sok paham sambil mengulangi penjelasan saya.

“Oh, penis ya. Usyi mbak-mbak punya vagina. Papa mas-mas punya penis”

Dan saya pun berdoa semoga Sophie tidak lantas menceritakan kembali pengetahuan barunya pada setiap orang yang dijumpainya. Yaaa, pasti di luar sana masih ada saja orang yang tidak sreg dengan penyebutan organ kelamin dengan baik dan benar ini kan ya?

Advertisements