Uncategorized

Cermin

Saya mengenal seorang anak lelaki berumur sekitar 4 tahun yang selalu ditolak bila bergabung untuk bermain dengan teman-temannya. Anak ini, sebut saja Boy, selalu membuat kerumunan anak-anak, baik yang seumuran maupun yang berbeda umurnya dari dia, bubar dengan kedatangannya. Anak-anak yang lebih kecil, menolak kehadirannya dengan mengatakan emoh atau menangis, kadang sampai memukul, bila Boy tidak menghiraukan keberatan mereka. Anak-anak yang lebih besar bereaksi dengan marah-marah atau langsung memukulnya.

Ada yang salah dengan Boy, kasihan sekali ketika saya pertama kali melihatnya.

Hasil pengamatan selanjutnya terhadap Boy, ternyata dia sendiri yang menjadi penyebab reaksi negatif dari teman-temannya. Boy ini adalah model anak yang tidak mengakui hak milik, kalau dia menginginkan sesuatu maka dia akan mengambilnya. Tidak peduli punya siapa, dia akan langsung mengambil apapun yang diinginkannya. Tanpa permisi. Mainan yang dimainkan anak lain, sepeda yang di parkir di dalam halaman (Boy membuka pintu pagar, nyelonong masuk dan lalu menaikinya), makanan, apapun. Boy ini juga bukan tipe yang mau mendengarkan masukan dari orang lain. Setiap kali dinasehati ibu-ibu (yang menemani anaknya bermain) bahwa ia tidak boleh mengambil apapun yang bukan miliknya, dia hanya berkata,

“Aku mau pinjam”

Dengan wajah lempengnya. Karena dari hari ke hari Boy ini tidak berubah, ibu-ibu jadi sebel juga padanya. Dan berhenti menasehatinya.

Sutu sore, ibu Boy menemani si Boy bermain. Seperti kebiasaannya, Boy langsung merebut mainan Manis, anak perempuan 3,5 tahun. Manis tidak mau melepaskan mainannya. Mereka tarik-tarikan mainan. Manis akhirnya memukul kepala Boy dengan tangan kirinya. Boy menangis. Keras.

Ibu si Boy yang sedang asyik baby talk dengan adik Boy yang masih bayi kaget mendengar tangisan anaknya. Boy menangis keras sambil menunjuk-nunjuk mainan yang dipegang si Manis. Tanpa berusaha mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi, Ibu Boy langsung berteriak,

“MANIS, ITU MAINANNYA DIPINJAMKAN KE BOY DONG. LIHAT, BOY NANGIS KARENAMU. JADI ANAK JANGAN PELIT YA!”

Dan begitulah adanya. Ibu Boy selalu membenarkan apapun yang dilakukan anaknya. Yang salah selalu anak lain. Dia juga pernah memarahi ibu lain yang menyampaikan padanya bahwa Boy butuh bantuan. Dimatanya, Boy sempurna adanya.

It is just too sad 😦

Advertisements