Uncategorized

Mudik#2: Tukang Mabok dan Gagal Lightpacking

Sophie sebelum dua tahun dulu itu termasuk golongan anak yang mudah diajak traveling. Bila kondisinya sehat, tidak ngantuk dan kenyang, maka dia tidak akan rewel. Diajak naik berbagai jenis kendaraan umum pun OK, mulai dari angkot, kereta api, pesawat sampai ferry pun dia tetap manis menikmati perjalanan. Kecuali bis ya, Sophie dulu agak rewel ketika harus menempuh perjalanan siang dengan durasi lebih dari 5 jam dengan bis.

Setelah lewat dua tahun, entah apa pemicunya, Sophie mulai muntah kalau diajak naik mobil. Gen itu memang tidak pernah berdusta ya. Suami itu jaman kecil dikenal sebagai pemabuk juga, baru sembuh menjelang masuk SMA. Bapak, ibu dan adik saya juga.

Hal inilah yang menjadi salah satu pertimbangan kami untuk hanya mudik ke Karanganyar tahun ini. Kondisi Sophie yang sedang batpil adalah pertimbangan lainnya. Juga pengalaman terjebak macet sadis pas mudik tahun lalu. Padahal ya, saya ini kalau lihat orang muntah jadi mual, mau muntah juga. Sophie sehabis muntah cranky. Saya yang mual-mual juga cranky. Kasihan suami kan ya kalau begini keadaannya. Demi kenyamanan bersama, baiklah, mari kita lupakan sejenak tentang konsep mudik ideal tahun ini.

Karena tidak kebagian tiket kereta, kami akhirnya menggunakan bis. Sophie selalu heboh setiap kali naik bis, nyanyi-nyanyi, nunjuk ini-itu, ngoceh tanpa henti… dalam setengah jam pertamanya. Setelah setengah jam terlewati, Sophie memasuki waktu mabuknya. Mulai lemes, diam bersandar ke saya, sambil kadang mengatakan bahwa badannya tidak enak. Kalau ada pemicu, muntah deh. Perjalanan Purwokerto ke Jogja, Sophie muntah dua kali. Bahkan, Solo – Jogja yang cuma kurang dari 2 jam itupun Sophie sempat muntah lho!

Yang mengagumkan adalah kecepatan recovery Sophie dari maboknya. Begitu turun dari bis, duduk sejenak, langsung hilang tuh semua keluhannya. Mulai ceria lagi, nyanyi-nyanyi lagi. Dan doyan makan, banyak (yang kemudian dimuntahkannya di bis selanjutnya).Mudik 2012

Sophie di terminal Solo, terlihat happy ya. Sempat bermain di ruang menyusui bahkan 🙂

Solo menuju Jamus, Sophie secara mengejutkan tidak mabok lho. Padahal bisnya tidak nyaman babar blas laksana kaleng berjalan. Pas balik juga begitu, tidak muntah sampai Jogja, karena kami menumpang bis ekonomi non AC. Oooh, tidak tahan AC rupanya Soph ya 🙂 Sempat terbersit pikiran untuk naik bis non AC dari Jogja hingga Purwokerto, tapi kami memutuskan untuk naik Efisiensi saja. Iya, Sophienya tidak muntah, tapi papa mamanya bisa teler kalau dipaksakan naik bis ekonomi 🙂

Berikut adalah beberapa antisipasi kami untuk mengurangi frekuensi muntah/menyamankan Sophie/mengamankan situasi kalau bener kejadian muntah:

  1. Makan dulu sebelum berangkat. Walaupun in the end akan dimuntahkan Sophie, perut yang terisi akan membuat Sophie lebih nyaman, masa ceria di awal naik bisnya lebih lama 🙂 Dan hal ini juga berlaku untuk setiap kali brak pindah bis.
  2. Tidak makan dan minum susu selama di bis. Makanan dan susu adalah salah dua pemicu muntah Sophie. Big no no. Kami hanya memberikan air putih selama di atas bis.
  3. Istirahat yang lama selama break ganti bis. Kami bisa sampai 1 jam lebih berhenti di setiap terminal. Sambil makan, Sophie bisa bermain-main di ruang tunggu terminal. Selama di terminal Solo, Sophie bahkan sempat bermain di depan panggung campursari dadakan, menari-nari dan memfoto mbak penyanyinya lho 🙂
  4. Bawa tas khusus untuk menyimpan minimal dua set baju ganti kami bertiga. DUA SET. LENGKAP. Dan harus diletakkan ditempat yang mudah diakse. Kantong plastik untuk menampung baju kotor juga wajib tersedia.
  5. Minyak kayu putih adalah penyelamat kita semua, percayalah!

Ngomong-ngomong soal packing, kami overweight deh. Niat banget lho bawa 1 koper, 1 backpack, dan 2 handbag untuk seminggu di rumah mbah. Ini nih biang keroknya:

  • Salah asumsi. Saya memprediksikan rumah mbah yang rimbun itu akan lembab seperti biasanya, yang berakibat tidak bisa mengeringkan cucian dalam satu hari. Ternyata saya salah. Global warming itu ternyata beneran terjadi ya.
  • Sophie sudah punya fashion statement-nya sendiri. Maunya pake dress saja. Legging-legging cuma numpang jalan-jalan saja tanpa sempat dipakai. Emoh anaknya. Padahal rumah mbah lebih dingin dibandingkan rumah kami di Karanggintung lho. Kaos juga begitu. Selama dirumah mbah, Sophie tidak mau memakai baju tidurnya. Padahal saya membawakan TIGA pasang piyama untuknya (!), yang akhirnya cuma menuh-menuhin koper saja.
  • Sophie membantu packing, yang berarti dia ikut memilih baju mana saja yang akan dibawa. Dan dia memilih SEMUA dress yang available di lemari bajunya. Saya sudah berusaha menyisihkan beberapa bajunya untuk ditinggal, tapi dia mengetahuinya. Dan keukeuh meminta saya untuk membawanya. Baiklah.

Pulangnya sih lumayan, backpack bisa masuk koper. Kami bisa melenggang nyaman karenanya 🙂

Uncategorized

Kenapa Mengintip Tidak Baik?

TPA Sophie sudah mulai libur sejak tanggal 13 Agustus lalu. Karena kantor suami masih masuk dan kami (atau saya saja, ya?) tidak tega meninggalkannya berdua dengan mbah Sainah di rumah, Sophie beberapa hari ikut suami ke kampus. Tidak seharian penuh, tentu saja, hanya beberapa jam saja. Kebetulan kan kegiatan akademik belum aktif kemarin-kemarin itu.

Hari Kamis, kalau saya tidak salah, jaringan internet di kampus sedang down. Padahal, suami perlu mengirimkan berkas yang sifatnya mendesak. Akhirnya mereka berdua ke Warnet. Standar lah ya awalnya kegiatan Sophie di warnet, lihat-lihat youtube. Ketika suami sedang menulis email, Sophie mulai memanjat-manjat sofa dan mengintip kubikel sebelah.

“Papa, Usyi mau lihat yang itu”

“Lihat apa, Soph?”

“Yang seperti sebelah. Usyi mau lihat yang tidak pakai baju”

Suami kontan terloncat dari tempat duduknya. Antara kaget dan bingung. Lah bagaimana tidak shock tiba-tiba mendapati toddlernya melongok-longok kubikel tetangga yang sedang menonton film porno dan minta menonton hal yang sama, coba?

Suami lalu meminta Sophie duduk dan mulai mencarikan video yang mungkin bisa memenuhi keingintahuan Sophie di youtube, yaitu tentang bayi yang telanjang.

“Ini Soph, yang tidak pakai baju”

“Bukaaaan, Papa”

“Ini kan tidak pakai baju”

“Usyi tidak mau adik bayi. Maunya YANG TIDAK PAKAI BAJU, SEPERTI ITU”

Suara Sophie yang stereo nampaknya semakin membuat suami panik. Suami kemudian buru-buru mengajak Sophie pulang. Padahal, emailnya belum selesai dikirim lho. Sophie yang kesal karena keinginannya tidak terpenuhi (dan juga terimbas kepanikan suami) akhirnya menangis.

Setengah jam kemudian, sambil menemani Sophie yang sedang makan mie, suami menelpon dan menceritakan hal ini pada saya. Dada saya ikutan nyaris meledak karenanya. Tapi kata suami, Sophie sudah rileks, nyaman dengan makanannya dan nampaknya lupa dengan apa yang tadi dilihatnya. Semoga saja.

Gara-gara kejadian ini, saya jadi baca sana-sini. Setelah menemukan link ini saya jadi lumayan lega.

I want to assure you that every child who views pornography will not necessarily be affected and, at worst, traumatized in the same way. The effects of pornography are progressive and addictive for many people.

Saya dan suami memilih untuk pasif dalam menghadapi ini, dalam artian kalau Sophie suatu saat ingat dan menanyakannya, maka kami akan menjawabnya. Sesederhana mungkin, menyesuaikan bahasa Sophie. Tapi kami berharap bahwa Sophie tidak akan ingat akan hal ini. Yaaa, pusing mak menjelaskan hal sebesar itu tanpa memancing keingintahuan yang lebih heboh lagi nantinya.

Kami juga berusaha untuk tidak membangkitkan ingatan Sophie akan hal tersebut, yaitu dengan cara tidak mengajaknya ke warnet tersebut dan juga tidak memancing-mancing pembicaraan yang mungkin mengarah ke tidak pakai baju dan seterusnya. Di umurnya yang sekarang ini ingatan Sophie biasanya terkait dengan hal yang lain. Seperti pas lewat kampus suami, Sophie selalu ingat kalau pernah ikut jalan sehat disana, saat melihat bunga langsung mengasosisikannya dengan Rapunzel, dan sejenisnya.

Jaman sekarang ya, ada saja pengaruh dari luar yang mau tidak mau pada akhirnya akan terpapar pada anak kita. Walaupun sudah hati-hati, dijaga dan dilindungi dari pengaruh-pengaruh tersebut, ada saja jalannya menyapa. Satu hal yang kami pelajari dari kejadian ini adalah, jadi orang tua itu harus tenang dan pintar. Kepanikan dalam merespon sesuatu yang dialami anak hanya akan memperburuk keadaan.