Uncategorized

Sophie 35 Bulan

Hampir tiga tahun. Sudah besar 🙂

Umbrella girl

Ngomong-ngomong sudah besar, saya masih senyum-senyum sendiri mengingat percakapan saya dengan suami tadi. Biasa, laporan rutin tentang Sophie.

Jadi ceritanya, Sophie tadi pagi minta susu. Suami berusaha membujuknya untuk menunda minum susu, soalnya kalau sudah nyusu Sophie tidak mau sarapan. Sophie ngotot pengen nyusu, akhirnya suami membuat kesepakatan. Yeah, kesepakatan dengan anak 35 bulan!

“Sophie sekarang boleh minum susu, tapi nanti tetap mau makan ya”

“Iya, Papa”

“Janji?”

“Janji”

Akhir-akhir ini kami membiasakan Sophie berangkat pagi ke TPA dan makan pagi di sana. Di motor, ketika suami mengantar Sophie, suami berusaha mengingatkan Sophie akan janjinya

“Sophie nanti makan di sekolah ya, Papa bawakan sayur bayam ini”

“Usyi tidak mau”

“Lho, tadi kan sudah janji mau makan”

“Usyi tidak mau”

Saya membayangkan Sophie mulai mengerucutkan mulutnya pada titik ini. Hahaha….

“Sophie tadi pas minum susu kan sudah janji mau makan sama Papa”

“Usyi puasa, Papa”

Suami langsung mingkem tak berkutik mendengar ini. Mulai pinter ngeles ya Nak.

*kiss*

Hahahahaha!

Uncategorized

Mudik#5: Bangga ASI dan Langit Biru

Saya mengetahui bahwa di terminal Solo telah tersedia Ruang Menyusui yang memadai sejak tahun lalu. Saya sempat melongoknya sesaat ketika mudik waktu itu dan langsung menyukainya. Nyaman dan fasilitas pendukungnya OK. Berbekal kenangan setahun kemarin itu, saya kembali mengunjunginya tahun ini, meskipun saya tidak lagi berstatus sebagai ibu menyusui.

Ruang menyusui ini terletak di dekat Ruang Tunggu. Kalau kita masuk dari area penurunan penumpang, maka letaknya adalah setelah panggung terbuka (yang sering ada pertunjukan campursari dadakan itu, lho), sebelum ruang tunggu dan masjid. Papan namanya jelas kok, pasti bisa ditemukan dengan mudah.

Image

Ketika saya masuk, sedang tidak ada yang menyusui di dalamnya. Bersih, masih sama seperti yang saya ingat. Ruangan ini berAC, jadi lumayan banget buat ngadem. Ada dua sofa warna merah gonjreng  yang nyaman, dispenser air panas, kulkas, wastafel (lengkap dengan sabun cair dan handuk untuk mengeringkan tangan) dan meja untuk mengganti popok bayi (tersedia bedak bayi dan minyak telon juga). Mainannya juga cukup banyak, ada sapi-sapian (kata Sophie sih namanya begitu, saya tidak tahu nama sebenarnya), bola besar, bola-bola kecil, dan boneka. Di tembok terdapat poster yang menjelaskan tentang cara menyusui bayi, sementara di atas kulkas tersedia petunjuk bagaimana cara memberikan ASI peras pada bayi. Suka!

ruang menyusui terminal Solo
Mohon model yang sedang naik sapi-sapian tersebut dimaklumi penampakannya ya. Btw wallpaper-nya cantik.

Hal yang membuat saya (lebih) bangga dan bahagia lagi adalah fakta bahwa di desa saya budaya memberikan ASI itu masih bertahan dengan baik hingga saat ini. Ibu saya sejak dulu tidak pernah mempertanyakan tentang pilihan saya untuk hanya memberikan ASI pada Sophie dulu. Dan hampir semua tetangga saya seperti itu. Memang, kondisi kehidupan di desa saya, di mana hampir semua ibu menyusui berada di area domestik, mendukung untuk itu. Dan saya sungguh bersyukur atas  semua itu.

Bertemu dengan teman-teman masa kecil saya yang menggendong bayinya kemana-mana dan langsung menyusui ketika bayinya membutuhkan itu sungguh suatu pemandangan yang menyenangkan. Urusan menyapih juga mereka tidak saklek banget harus dua tahun berhenti. Mereka menunggu kesiapan anaknya disapih dengan sabar. Memang ketika anaknya dua tahun mereke mendatangi dukun bayi untuk minta suwuk, tapi ini tidak lantas membuat mereka memaksa proses meyusui berhenti sampai di situ. Mmm, suwuk itu adalah sejenis treatment untuk membuat anak berhenti menyusu, courtesy of dukun bayi. Tapi treatment ini tidak efektif untuk semua anak kok, saya dan adik saya dulu terus menyusu setelah di-suwuk. Tetangga-tetangga saya juga banyak yang  mbablas menyusui pasca suwuk. Dua orang teman saya bahkan belum menyapih anaknya  yang sekarang berumur 3,5 dan 3 tahun, karena anak-anaknya belum mau. Saya percaya, walaupun mereka tidak mengenal istilah weaning with love, they do wean their child with love. Yaa, kadang kunyit dan lipstik terlibat sih, tapi mereka sabar menunggu sampai semuanya selesai.

Don’t you think we can learn something from mommies there at my village?

Tentang langit biru, dengan bangga saya tampilkan dua orang yang amat saya sayangi yang sedang bermain dibawah  birunya langit di suatu siang yang cerah. Pedesaan nun jauh di sana yang menjadi latar belakang foto ini adalah desa saya. Iya, untuk mencapai desa saya harus menyeberangi persawahan nan luas ini. Beruntung sekarang jalannya sudah di beton, enak untuk dilalui. Dulu masih tatanan batu pecah lumutan yang kalau hujan licinnya minta ampun.

Image

Di bawah langit yang sama, di suatu pagi yang cerah Sophie dan suami sedang gendongan mesra menuju ke hutan karet dekat rumah. Saya suka sekali senyum jahil Sophie ini. Dia sedang bermain-main dengan leher suami, dinyot-nyot katanya.

Image

Uncategorized

Mbak Narti

Tadi pas berangkat ke kampus saya terlibat pembicaraan tidak nyambung  di laundry dekat kampus saya seperti ini,

“Selesainya besok ya Mbak. Atas nama siapa ya?

“Tanti”

“Santi, ya”

“Tanti Mbak, pakai T”

“Oh, Ranti”

“Tanti Mbak. TAN …TI”

“Hahaha…. iya Mbak Yanti”

“Bukan Yanti Mbak, TAN…TI”

“…”

Dan di tanda terima yang saya dapatkan, tertulis MBAK NARTI dengan manisnya. Errr…

Saya mengira mbak penjaga laundry tadi belum sarapan ya. Sini-sini Mbak, ayo kita sarapan jenang abang barengan….