Uncategorized

Ayo Sekolah

Hari senin kemarin suami mengambil progress report 3 bulanan Sophie. Di luar dugaan hasilnya OK. Sophie bisa mengikuti dinamika kelasnya.

Saya sungguh bersyukur atas hal ini, terutama bila saya ingat awal tahun ajaran lalu. Sophie sempat mogok sekolah di masa orientasi sekolah, 2 minggu pertama tahu. Ajaran ini. Kami sempat bingung juga waktu itu. Untungnya kondisi tersebut tidak lama. Pasca lebaran Sophie sudah antusias dengan sekolahnya lagi.

image

Akar masalah dari mogok sekolah itu ada dua, yaitu Sophie harus pisah dari Bu Yani, guru kelas Pluto favoritnya, plus dia sekarang berada di kelas yg berbeda dari geng Pluto-nya. Kesepian kuadrat.

Kami dulu sebenarnya sudah memprediksikan bahwa Sophie akan sulit lepas dari Bu Yani. Lha wong ia dan anak-anak Pluto sudah telanjur nemplok sama beliau. Sehari-hari yang disebut Sophie setiap kali bercerita tentang sekolahnya ya Ibu Yani. Saya dan suami berpikir bahwa di tahun ajaran baru Sophie akan kabur dari kelasnya untuk nyusul Bu Yani. Ternyata kami salah.

Waktu di kelas Pluto dulu, Sophie punya teman-teman bermain akrab yang secara ajaib saling menularkan kebiasaan-kebiasaan  mereka. Mereka jadi semacam geng kecil yang semuanya menolak tidur siang, suka aktivitas fisik dengan dosis berlebih dan selalu berbagi bekal snack mereka satu sama lain. Mereka adalah Ege, Alghi, Uchan dan Sophie. Iya, Sophie adalah satu-satunya wanita di kelompoknya. Ketika tahun ajaran baru tiba, Ege dan Alghi masuk kelas Planet  (2-3 tahun), sementara Sophie dan Uchan masuk kelas Bulan (3-4 tahun). Semua anak kelas Pluto pindah ke kelas Planet, kecuali Sophie, Sasa dan Uchan, karena pihak sekolah memandang mereka sudah lebih mandiri dibanding teman-temannya. Waktu itu  Sophie 2 tahun 9 bulan.

Kami menyelesaikan masalah ini dengan cara berdiskusi dengan pihak sekolah. Suami berdiskusi dengan Bu Lastri, guru kelas Bulan, dan Bu Rini sang Kepala Sekolah. Menurut beliau berdua Sophie selama di sekolah kondisinya relatif baik, masih banyak teman-temannya yang memberikan reaksi yang lebih parah. Intinya adalah yang Sophie lakukan adalah bagian dari proses adaptasi dan kami tidak perlu terlalu mengkhawatirkannya. Progress Sophie akan terus dipantau dan bila nanti ia tetap seperti itu, maka ia akan pindah ke kelas Planet. Di rumah, kami banyak membicarakan tentang teman-teman dan guru barunya, berharap muncul ketertarikan Sophie pada kelas barunya.

Alhamdulillah usaha tersebut berhasil. Secara perlahan mulai muncul nama  Bita, Sasa, Dimas dan Bu Lastri diantara Ege, Alghi dan Bu Yani. Sophie masih terus berinteraksi dengan tiga nama yang saya sebut terakhir karena mereka bertiga adalah penghuni TPA setelah sekolah usai. Sekarang, kalau bicara tentang gurunya, maka Sophie akan menyebut Ibu Lastri, bukan lagi Ibu Yani.

Kembali pada progress report 3 bulanan Sophie, ada satu hal yang menggelitik saya. Akhir-akhir ini Sophie menolak pakai celana. Maunya rok atau dress saja. Pernah ya, Sophie pas dijemput memakai dress teman. Kehabisan rok dan tidak mau pakai celana, ahirnya dipinjami baju teman 🙂  Sebelumnya Sophie masih mau pakai celana di sekolah sih, walalupun ketika sampai di rumah hal pertama yang dilakukannya adalah mengganti celananya dengan rok. Ketika ditanya sama suami kanapa dia melakukannya, jawabannya sungguh apa adanya,

”Usyi tidak suka”

Hahaha, selera yang bicara ya Soph….

Dan ya, Sophie masih tidak sabaran. Masih suka nangis kalau harus menunggu. Dan galaknya ampun-ampunan. PR banget deh ini, bagaimana cara mengontrol sesuatu yang tertulis di DNA, coba? Sophie galak begitu kan mewarisi dari saya. Yeah, semuanya kembali pada orang tua, memang ya.

Happy terus sekolahnya ya Nak.

Dan terima kasih pada Sinar Mentari yang telah jadi partner yang baik dalam mendidik Sophie. Bukan sekolah terbaik, saya menyadari ada kekurangan teknis disana-sini, tapi saya bisa menerimanya. Filosofinya sejalan dengan apa yang saya percaya, itu yang utama.

Advertisements