Uncategorized

Edisi Bengong

Long week end saya diawali dengan terjebak macet dan diakhiri dengan hal yang serupa. Saya sengaja memilih bis yang berangkat jam 18.30, dengan harapan sampai di Purwokerto jam 05.30, bisa langsung sholat ied. Harapan saya tinggal harapan semata. Berapa banyak orang yang meninggalkan Surabaya jumat sore kemarin sih? Kok rasanya banyak bener kendaraan yang menyemuti Jl. Ahmad Yani. Perlu waktu 3 jam lho dari kos saya sampai Bungurasih. Keluar dari Surabaya pun jalanan penuh sesak. Sampai Nganjuk jalanan masih rame saja. Untungnya dari Solo sampai Karanganyar bisnya bisa ngebut. Dengan kondisi jalan seperti itu, saya baru sampai Purwokerto jam 08.30. Lebih dari 16 jam di jalan.

Jumat kami belanja groceries dan kruntelan bertiga di rumah. Belanja ini kami segerakan karena sejak awal minggu lalu, setiap hari, terjadi percakapan semacam ini

“Papa, Usyi minta jajan ijo-ijo kaya punya A’os”

“A’os belinya di mana?”

“Di Molo, Pa”

“A’os ke sekolah membawa jajan ya? Dibagi tidak?”

“Tidak. (Makanya) aku minta dibeliin Papa aja”

“Iya, nanti belinya kalau Mama pulang ya”

Nah, jadilah saya baru datang langsung diajak ke Moro, demi jajan ijo-ijo itu 🙂

Dan ya, Sophie sekarang mulai menggunakan kata AKU untuk menyebut dirinya. Sejak bisa bicara dulu Sophie kan selalu memanggil dirinya dengan USYI. Sekarang tingkat penggunaan AKU – USYI ini sudah 50-50 lah. Padahal, sekarang Sophie sudah bisa mengucapkan SOPHIE dengan baik lho, kalau sedang saya goda. Entah kenapa dia tidak mau menggunakannya.

“Oh, ini Gendhuk Aku-nya Mama ya?”

“Bukan, ini Gendhuk Sophie Hamad-nya Mama”

Kan? Hihihi…..

Terus, akhir-akhir ini logat Banyumas Sophie juga semakin menjadi-jadi. Sophie mulai mengganti akhiran -nya dengan -e pada setiap kata yang diucapkannya. Balonnya jadi balone. Tangannya jadi tangane. Kakinya jadi kakine. Dan seterusnya. Bahkan, kami pernah mendengarnya bertanya dengan, LAAAH INI BUKANE KEPRIWE? Saya dan suami ngakak-ngakak bahagia karenanya. Sophie kami sudah sahih menjadi anak Karanggintung sejati!

Sabtu kami ngider seharian, nanti deh ceritanya saya buatkan post tersendiri. Capeknya banget-banget, sampai Sophie muntah malam harinya. Iya, Sophie masih mudah muntah sampai saat ini. Muntah adalah marker pertama yang muncul setiap kali badan Sophie tidak fit.

Hari minggu saya habiskan berduaan dengan Sophie, suami bekerja di Cilacap. Nonton  Backyardigans sampai mabok sambil ini-itu. Sophie tidak mau tidur siang dan (bilangnya) mengijinkan saya tidur, tapi tiap lima menit sekali mencium saya untuk memberitakan hal-hal maha penting seperti hidung Pablo ada kupu-kupunya, Mermaid Tasha sudah bobok ngorok, atau Sinbad Sails Alone sudah selesai.

Sorenya kami terburu-buru ke terminal. Keberangkatan bis dimajukan jadi jam 18.30 untuk mengantisipasi padatnya lalu lintas. Sophie tertidur dalam perjalanan, saya pun langsung tidur begitu bis berangkat. Sepertinya jalanan padat, tapi saya tidak tahu sepadat apa karena saya langsung tertidur ketika bis berangkat, dan baru terbangun di Caruban pas istirahat di jam 02.30. Mojokerto – Surabaya jalannya tersendat juga, begitu pun di Ahmad Yani, sehingga saya baru sampai kos jam 09.00.

Dan saya kembali ke rutinitas saya di lab. Eh, tidak rutin-rutin amat sebenarnya. Ini saja saya sedang duduk bengong di Gedung Robotika ITS, menunggu. Semoga minggu ini efisien dan produktif ya 🙂

Advertisements