Uncategorized

After the Storm

Jadi ya, setelah diterjang badai bertubi-tubi dua minggu terakhir ini, hari ini saya sampai pada satu kesimpulan. Playing victim is not cool at all. Beneran deh, merasa diri sebagai pihak yang dirugikan dan ngenes karenanya itu sungguh-sungguh boros energi. Capek berat. Sudah begitu, menurunkan produktivitas lagi. Combo deh efeknya, dilihat dari sisi manapun saya rugi serugi-ruginya.

Hari ini, saat saya menemukan titik balik saya, saya berpikir alangkah baiknya bila energi untuk ngenes yang kemarin itu saya alokasikan untuk fight terhadap kondisi yang ada. Kalau tidak suka, tertekan, ya dibicarakan saja. Kalau tidak berani bicara ya itu masalah saya, salah sendiri bicara saja tidak berani 🙂 Dan bertemu orang lain itu selalu penting, saya rasa. Orang lain yang tahu duduk perkara dan mampu berempati, tentu saja. Kalau apa-apa dirasakan sendiri, dipendam sendiri, ya sudah deh, galau sendiri pusing sendiri, macet sendiri. All by yourself.

Apakah saya sudah pulih? Belum, saya rasa. Memang ketakutan saya mulai menghilang, tapi di sisi lain masih terbersit kekecewaan dan kemarahan di diri saya. I am just a human, after all. Tapi setidaknya saya mulai bisa melihatnya dari sisi lain yang lebih positif. I am a victim no longer. Saya punya andil juga dalam menciptakan kondisi ini. Dan saya bertanggungjawab untuk mencari jalan keluarnya. Kata Chris Martin dkk mah, when something is broken, you try to fix it. Trying to repair it anyway you can.

Saatnya mulai bergerak mencari pertolongan. Dan pertolongan itu berawal dari dalam hati saya, dalam doa saya. Marii….

Advertisements