Uncategorized

“Mama Tadi Marah Ya?”

“Mama tadi marah-marah ya?”

“Iya Soph, Mama minta maaf tadi marah ya”

“Mama nanti jangan marah-marah lagi ya, Mama kan baik”

Oh, tertohok combo rasanya. Pertama karena merasa jadi emak-emak beremosi labil itu sungguh tak pada tempatnya. Yang kedua karena baru merasa kalau karma itu ada.

Tentang emosi saya yang sependek sumbu mercon cabe ini memang bukan hal baru. Cuma sejak jadi Ibu, efek negatifnya berlipat ganda. Kalau dulunya cuma merusak saya dan obyek kemarahan saya, sekarang juga berefek ke anak. Sophie melihat saya marah-marah dan merekamnya. Lalu menirunya saat ada sesuatu yang mengganggunya. Dan ya, anak-anak itu sungguh peniru ulung ya. Sekarang si Sophie sudah menguasai tatapan seribu jarum, bibir mengerucut sambil nyureng, dan diam seribu bahasa ketika sedang marah.

Ternyata saya jelek sekali kalau sedang marah.

Rasakan Tanti, RASAKAN.

Tentang karma, saya baru tahu rasanya bagaimana rasanya ketika perbuatan kita dikembalikan ke kita apa adanya. Plek plek as what we did before.  You get what you did, and you get it from your daughter.

“Sophie tadi marah ya? Nanti jangan marah-marah lagi ya, Sophie kan anak baik. Anak pinter kalau mau sesuatu matur yang baik”

Masih kurang cermin, apa Tan?

Advertisements