Uncategorized

Batu Secret Zoo

first

Saya, dulu, termasuk golongan yang suka senewen sendiri kalau diajak ke kebun binatang. Saya sedih dan kasihan melihat hewan-hewan penghuni kebun binatang dikandangi dan dijatah makannya. Mereka seharusnya ada di habitatnya, bebas tidak terganggu oleh campur tangan manusia. Tapi di sisi lain, saya tidak tahu cara yang lebih baik agar kita, utamanya anak-anak kita, bisa melihat dan belajar tentang hewan-hewan yang secara alami habitatnya jauh dari tempat kita. Sebagian besar dari kita tidak punya sumber daya untuk bisa melihat jerapah di Okavango kan ya?

Semakin ke sini penerimaan saya akan konsep kebun binatang semakin besar. Tapi, perasaan kasihan melihat hewan terkurung dan diperlakukan dengan tidak layak itu masih ada. Apalagi kalau hewan itu sendirian, tanpa teman kesepian, macam monyet yang ada di Wana Wisata Baturaden, misalnya. Saya kadang tidak tega melihatnya dari dekat. Monyet kok diberi makan nasi bungkus lauk mendoan. Ish.

Perjalanan ke Batu Secret Zoo minggu lalu memberikan satu pelajaran bagi saya, bahwa kalau dikerjakan dengan sungguh-sungguh, orang-orang macam saya ternyata bisa menikmati jalan-jalan di kebun binatang. Lingkungannya bersih, hewannya terlihat sehat dan terawat, dan terutama, ramah dan aman buat anak kecil rempong macam Sophie. The best zoo I ever visited πŸ™‚

Kami sengaja berangkat awal karena kami jam 4 sore suami harus sudah di UB. Ya biar begitu buka kami langsung bisa masuk, begitu. Fyi, BSZ buka jam 10 pagi. Perjalanan dari Malang kota dengan taksi ditempuh dalam setengah jam saja. Kesan pertama sih panas ya, tapi ternyata setelah didalam malah adem rasanya. Sophie yang amat exited dengan jalan-jalan ini baru sampai depan BSZ saja sudah happy bukan kepalang. Tempat luas untuk berlarian dan benda-benda yang belum pernah dia lihat sebelumnya selalu menyenangkan buat dia mah. Btw, Sophie sudah bayar tiket sendiri karena tingginya sudah diatas 85 cm πŸ™‚

satu

Sesuai prediksi kami, Sophie suka sekali melihat banyak hewan didepannya. Setiap kali melihat hewan yang belum dikenalnya, dia suka bertanya, ini kayak siapa? Ya mohon dimaklumi, anak saya kan penggemar Backyardigans. Jadilah saya ngoceh ini rusa, Tyrone yang rusa. Itu patung kuda nil, seperti Tasha, dan seterusnya πŸ™‚ Sophie berani berinteraksi dengan hewan, dia mau memegang binatang yang boleh dipegang, memanjat-manjat pagar pembatas sambil ngoceh ini itu.

TIGA

Sophie paling tertarik dengan jerapah (yang katanya tinggiii bangeeet) dan zebra. Suami suka singa dan harimau dan penataannya yang memang bagus banget. Saya sih sudah bahagia karena bisa berdamai dengan perasaan kasihan saya akan hewan-hewan penghuni BSZ πŸ™‚

Bagian dari tur yang menjadi favorit kami bertiga adalah safari farm, dimana kita dinaikkan kereta yang ditarik traktor untuk berkeliling memberi makan beberapa jenis herbivora, ada ilama, rusa, kuda, bison, zebra, onta dan lain-lain. Memegang ilama dan dicium onta yang menyangka kita punya sayuran itu menyenangkan. Jangan khawatir, hewan di safari farm ini dijamin sehat dan ada tempat cuci tangan lengkap dengan sabunnya di zona akhir safari.

empat

Fantasy Land juga berkesan buat kami. Sophie naik beberapa wahana, dan dia terlihat amat menikmatinya. Playground-nya juga surga banget buat Sophie, dia bebas bermain semaunya, memanjat-manjat, guling-guling, merosot daaan seterusnya. Sophie minta berenang juga sebenarnya, tapi karena kami harus segera kembali ke kota dan juga tidak membawa baju renang, kami menolaknya dan sukses nangis dong ya anaknya πŸ™‚

lima

Kalau kebun binatangnya seru, museum satwanya tidak kalah menarinya juga kok. Sayang kami cuma numpang lewat thok, tidak sempat menikmatinya. Lha wong kami baru masuk, baru sampai replika kerangka dinosaurus, kami sudah ditelpon sopir taksi yang menjemput kami. Errrr

enam

We’ll be back there, insyaallah. Dan kalau nanti ada kesempatan lagi, saya maunya nginep di Pohon Inn, sekalian kan? Kemarin itu belum puas melihat semuanya, waktunya kurang banget.

Best zoo I ever visited, indeed πŸ™‚

Advertisements
Uncategorized

Dancing is Fun

Sophie suka sekali menari. Well, berusaha menari tepatnya. Sejak masih bayi banget sudah suka menggerak-gerakkan anggota badannya. Mendengar suara sedikit saja langsung direspon dengan gerakan tangan, kepala, atau kaki. Makanya, penghargaan pertama yang didapatkannya dari Sinar Mentari dulu adalah Bintang Terbaik dalam Menari Tangan. Waktu itu, Sophie baru berumur 7 bulan.

Semakin ke sini, Sophie semakin mendapatkan stimulasi untuk menari. Backyardigans, serial favoritnya, adalah serial musikal yang tentunya banyak porsi menyanyi dan menarinya. Sophie suka menirukan gerakan-gerakan yang dilakukan oleh Tasha, Uniqua, Pablo, Austin dan Tyrone. Karena memang Backyardigans itu ditujukan untuk anak umur 2-7 tahun, gerakan-gerakannya juga tidak susah-susah amat untuk ditirukan Sophie.

Kesukaan Sophie akan menari semakin menjadi-jadi saat saya mengenalkannya dengan Angelina Ballerina. Dari judulnya saja sudah kelihatan serial itu tentang apa kan ya πŸ™‚ Sophie suka sekali dengan Angelina, tapi juga mengidolakan Alice yang jago gymnastic dance dan memainkan piano, juga Marco yang hebat dengan permainan drumnya. Sekarang, prosesi sebelum tidur Sophie bertambah satu lagi, yaitu melakukan rolling forward ala Alice yang oleh Sophie dinamakan GULING-GULING. Terjemahan yang cair ya Nduk πŸ˜€

Minggu lalu ketika sedang di Malang, Sophie melihat mbak-mbak UKM Tari Jawa Universitas Brawijaya latihan menari. Tentu saja Sophie amat tertarik. Suara gamelan dan gerakan-gerakan dari penari-penari itu merupakan sesuatu yang baru dan keren buat Sophie. Dia langsung menggandeng tangan suamiΒ  dan mendekat agar bisa melihat dengan lebih jelas. Sophie betah menonton di posisinya itu sampai latihan tersebut selesai.

Image

Sampai hari ini, Sophie masih suka menirukan gerakan tari mbak-mbak mahasiswa itu sambil diiringi ning-nong-ning-gung dari mulut suami. Dia juga senang sekali saat saya menawarkan selendang saya, yang katanya sama seperti yang dipakai mbak penari di Malang, dan memakainya sesiangan kemana-mana. Sophie juga bilang kalau dia ingin belajar menari seperti mbak-mbak di kampus.

Image

Mungkin sudah tiba waktunya untuk mencarikan sanggar tari untuk Sophie ya, supaya dia bisa bersenang-senang dengan apa yang menjadi ketertarikannya. Informasi dari beberapa teman, di Mersi ada tempat les tari untuk anak. Ketika kami ke sana, ternyata ada syarat umur peserta yang tidak bisa kami penuhi. Minimal harus kelas 1 SD untuk bisa ikut belajar menari di sana, karena yang diajarkan adalah tari jawa lengkap. Jadi, kalau ada yang tahu informasi tentang les tari untuk Balita di Purwokerto, silakan berbagi ya. Tidak harus tari Jawa kok, balet, tari modern, ayo saja. Yang penting Sophie bisa megal-megol jingkrak-jingkrakΒ  menggerak badannya rame-rame bersama anak-anak seumurannya.