Uncategorized

Life of Pi

Film ini dibuka dengan pemandangan di Kebun Binatang. Jerapah, tepatnya. Tapir, lemur, flaminggo, ular (dan beberapa hewan lain) muncul satu demi satu, sampai akhirnya Richard Parker melangkah anggun di dekat kolam yang airnya jernih sekali. Oh, lupakan kebun binatang yang sering kita lihat di sini. Di kebun binatang milik Santosh Patel ini, setiap hewan memiliki kandang yang amat luas, ditambah dengan lingkungan yang hijau. Saking luasnya, rusa fallow bisa berlari-lari dan melompat tinggi seperti layaknya di Savana. Nothing beats zoo located in botanical garden. Batu Secret Zoo? Minggir deh, kalah telak. Jauh.

Image
Ternyata sebagian hewan yang muncul di opening scene Life of Pi adalah koleksi Taipei Zoo. See how Ang Lee’s crews modify the background. Pic’s taken from here

Indah.

Dan keindahan ini bertahan sampai akhir film. Mata kita dimajakan dengan view laut yang menakjubkan. Luminescence ocean –saya berasumsi Pi dan Richard Parker sedang dikelilingi ubur-ubur-, ikan terbang yang sedang bermigrasi dan juga paus yang mengambil nafas -dan sekaligus memporakporandakan seluruh cadangan makanan dan minuman yang Pi miliki-, mengingatkan saya akan Planet Earth. Indah sekali.

Image
foto-foto ini saya comot dari sana-sini dengan bantuan google

Salut untuk tim kreatif yang berhasil membawa samudra Pasifik ke dalam studio dengan tidak meninggalkan keindahan dan kemegahannya. Saya juga ternganga dengan pulau berpenghuni meerkat ciptaan mereka. Dan RICHARD PARKER! Harus dengan menekan capslock memang kalau mau menuliskan tentang si Harimau Bengali itu. Penampakan fisik dan juga karakternya sungguh menakjubkan. Rasanya baru kali ini saya bersimpati pada tokoh fiksi non manusia. Sekali lagi dua jempot untuk tim kreatif yang menghidupkannya.

Image
The island and RICHARD PARKER!

Selain yang indah-indah, saya juga menahan nafas cukup lama saat melihat Tsimtsum tenggelam. Pengambilan gambar dari sudut pandang Pi yang terlempar dari sekocinya itu sungguh mencekam. Keren.

Image
breathtaking view of shipwreck

Bersyukur saya menontonnya di bioskop 3D. Recommended.

Ada beberapa hal tentang Life of Pi yang masih saya pikirkan hingga saat ini. Yang pertama adalah bahwa anak yang hebat itu merupakan refleksi dari orang tuanya. Santosh dan Gita Patel berbesar hati menerima “keajaiban” keyakinan Pi meskipun hal itu merupakan hal yang tidak mereka sukai. Mereka memberikan ruang bagi Pi untuk berkesplorasi dengan pikirannya sendiri, menerimanya, dengan tetap memberikan rambu-rambu untuk diperhatikan Pi.

Yang kedua, membaca dan menulis itu penting. Segala pengetahuan buku yang di baca Pi sejak masa kanak-kanak berkontribusi pada perjalanannya. Bahkan booklet keselamatan di sekoci pun (Tuh, suami, baca sih ngapa? Masa iya manual HP saja dianggurin dan memilih bertanya sana-sini tentang operasional hape, ih banget deh).

Above all, don’t lose hope. Ang Lee sukses menerjemahkan quote ini secara visual. Bagi saya sih apa yang ditunjukkan Pi Patel sekian kali lebih ampuh dibandingkan mendengar nasihat Mari* Teg*h ๐Ÿ™‚

Efek lain dari menonton film ini adalah ingin membaca bukunya. tadi malam saya membaca sedikit di Gramedia, versi Bahasa Indonesia. Saya kok merasa terjemahannya kurang enak ya. Tapi daripada tidak membaca sama sekali ya versi Bahasa Indonesia pun tidak apa-apa kan ya ๐Ÿ™‚

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s