Uncategorized

Proud Mama #6

Akhir pekan lalu saya meriang. Tidak seru. Kalau pas di rumah kan pengennya main ini itu lah, jalan-jalan bertiga lah, atau tidur kruntelan di kasur bersama, setidaknya. Tapi gara-gara kondisi saya tidak fit, tidur pun merana karena Sophie tidak mau dipeluk-peluk seperti biasanya. Kata suami, Sophie kasihan melihat saya nglimpruk seperti karung basah plus khawatir kalau akan menyakiti saya bila berdekatan, mengingat polahnya yang sungguh boros energi itu.

Kok ya dirimu berpikirnya panjang bener macam nenek-nenek sih Soph 🙂

Di luar itu, Sophie bertingkah amat baik. Rajin sekali mengungatkan saya untuk minum air putih, makan yang banyak biar kuat dan sehat seperti dirinya, juga bertanya apakah saya sudah sembuh.

Ketika kami berangkat ke klinik IDI (btw, saya merekomendasikan klinik ini. Sebagian besar dokter yang praktek di sana OK. Mereka sabar mendengarkan pasien bercerita tentang perjalanan penyakitnya, memberikan diagnosa yang jelas, memberikan saran gaya hidup untuk meningkatkan kualitas hidup pasien, dengan bahasa yang menenangkan. Keren lah, bisa diajak diskusi singkatnya) Sophie cerewet sekali. Dia membicarakan apa saja yang dilihatnya sepanjang jalan dan meminta komentar saya. Sophie tiba-tiba berhenti ngoceh dan memegang wajah saya, lalu berucap,

“Ayo nyanyi, biar Mama senang”

Terharu sekali rasanya mendengar kalimat Sophie ini. Dengan mata berair saya menanyakan lagu apa yang ingin dinyanyikannya.

Dan kami meneriakkan Naik-naik ke Puncak Gunung hingga tiba di klinik. Dengan bahagia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s