Uncategorized

Ketukeran Kodok – Kecebong

Saya pulang membawa batpil yang tentunya dengan mudah menular pada Sophie. Saya memang tidak memakai masker, karena Sophie takut melihat penampakan saya dengan masker.

“Kenapa sih mulut dan hidung Mama tidak boleh dicium?”

“Karena Mama sedang pilek, Soph, kalau dicium Sophie bisa ketularan”

“Mulut dan hidung Mama ada apanya?”

“Ada virusnya”

“Mana coba aku lihat”

“Tidak bisa, Soph, virus itu kecil sekali, jadi tidak kelihatan”

“Keciiiiil bangeeet ya, Ma, vilusnya?” Sophie mengucapkan kalimat ini sambil memicingkan matanya sampai merem dan menjentikkan jarinya. Bocah ekspresif!

“Iya, kecil sekali”

“Kalau pipi Mama ada vilusnya gak?”

“Tidak ada”

“Sini aku cium pipi Mama”

Dan ciuman semi basah signature Sophie mendarat di pipi saya.

Btw, meskipun produksi lendir di hidung saya kebangetan banyaknya, tapi itu tidak menghalangi kami dari bemain-main. Sabtu pagi kami berenang di Tirta Kencana. Suami berenang, Sophie main air dan saya jeprat-jepret mengambil foto mereka, sih, tepatnya. Dimana-mana ya, anak kecil itu bahagia bener kalau ketemu air. Entah di water park yang keren ataupun di kolam renang biasa yang airnya ada laronnya pun, mereka sudah senang tidak terkira. Sophie pun demikian. Di Tirta Kencana yang tidak ada apa-apanya, kecuali kalau  perosotan, ember tumpah dan Teletubbies dihitung ya, dia sudah betah bermain sampai kedinginan.

image

Bagian yang membuat sàya tertawa-tawa adalah ketika Sophie tidak mau ditinggal suami di kolam cethek. Serasa ada paus terdampar lah. Ya bayangkan saja ada pria berbobot diatas 80 kg bermain-main di kolam 50 cm.

Pas melihat-lihat foto, yang banyak terekam justru tidak seperti paus,sih, tapi lebih mirip kodok dan kecebong. Si kecebong ini selalu menempel ke badan si kodok dengan berbagai cara. Sophie suka sekali dengan analogi yang saya buat ini.

“Papa kodoknya, aku kecebongnya”

Hahaha…

image

Ketika laporan perkembangan di sekolah Sophie, kami diberitahu oleh Ibu Yani bahwa Sophie SELALU menari ketika di kolam renang begitu mendengar suara musik. Kemarin juga begitu, pengelola kolam renang memutarkan lagu-lagu daerah dan Sophie pun menari dan menari mengikuti suara musik.

Malamnya kami nongkrong di alun-alun setelah sekian lama absen. Mood Sophie bagus banget seharian itu, sampai malam pun dia masih menyayi dan menari.

image

Tadi pagi, kami duduk santai sambil sarapan (sambil sentrap-sentrup berdua). Saya dong sukses terbengong-bengong karena mendengar kosakata baru anak saya.

“Mama aku KETUKELAN”

“Heh? Apa, Soph?”

“Aku tadi malam mencium mulut Mama, jadi KETUKELAN vilus Mama”

KETULARAN, Sophie, bukan KETUKERAN! HAHAHAHA…

Oh, tentu saja adegan saya ngakak hanya kejadian ketika saya nulis entry post ini. Demi menghargai inisiatif berbahasa Sophie, saya cuma bisa mengelus-elus kepalanya sambil tersenyum geli.

“KETULARAN, Sophie, KE-TU-LA-RAN”

“Aku dan Mama pilek balengan. Kita LOMBA PILEK ya, Ma, Papa gak”

Cuma balita yang bisa membanggaka pileknya, ya, saya rasa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s