Uncategorized

Anak #2

Saya kepikiran untuk menuliskan post tentang anak #2 ini sejak hari ulang tahun saya awal bulan ini. Beberapa teman menanyakan kapan saya mau menambah anak lagi, mengingat umur semakin tua dan Sophie juga sudah besar. Gongnya adalah ketika saya ngobrol via whatsapp dengan teman saya yang nun jauh di sana (you know who you are). Saya yang eneg ditanyain kapan-punya-anak-lagi melulu, iseng melontarkan pertanyaan serupa tapi dengan diksi yang sedikit berbeda padanya.

“Eh, kamu ada rencana nambah anak lagi gak?”

Jawabannya sukses membuat saya mangap terpana. Dia SEDANG HAMIL ANAK KETIGANYA. Terlambat haid, sudah dites di rumah tapi belum dipastikan ke dsog. Hebat ih, saya takjub karenanya. Kalau saya lihat profilnya saat gadis dulu, rasanya kok ya sulit membayangkan dia saat ini dengan dua anak dan siap menyambut hadirnya anak ketiga. Dia lho ya. Tapi dia jelas menikmati perannya sebagai saat ini. Well, everybody changes. Dan pastinya perubahan teman saya itu mengalir ke level yang lebih baik dari sebelumnya. Happy for her, I am.

Terus saya melihat diri saya sendiri. Ketika memikirkan hal ini, suami dan Sophie muncul di pikiran saya tanpa terelakkan. Nah kan, jadi mikir saya. In the end of that day, setelah ngobrol dengan suami, jiwa kompetitif saya takluk pada kesadaran bahwa anak itu adalah hak Allah semata. Mau diberi satu, dua, atau enam sekalipun itu adalah misteriNya. Dan kalau sudah diberi anak, ya sudah kewajiban orangtuanya untuk mengusahakan kehidupan terbaik baginya. Manusia berencana, Allah yang memutuskan bagaimana eksekusinya.

Untuk kasus saya, sebelum memutuskan untuk BERENCANA punya anak #2, semua pihak harus siap dulu. Saya, suami dan Sophie harus siap.

Sejak berumur 3 tahun, Sophie mulai suka berkata bahwa ia mau punya adik bayi, dengan pemahaman tentang konsep adik dan anak yang masih acak-adut. Saya berpikir Sophie bilang ingin punya adik itu cuma ke saya dan suami, sampai saat kami ke sekolah Sophie untuk mengambil progress report-nya semester ini. Ketika kami berbincang dengan Ibu Lastri, beliau mengucapkan selamat atas kehamilan saya. Lah, bengong lah saya. Iya, sih, perut saya memang gendut adanya, tapi ini isinya lemak kali. Ternyata, Bu Lastri berpikir saya hamil karena belakangan Sophie sering membuat pengumuman di kelas kalau dia MAU punya adik. Sambil senyum-senyum saya mejelaskan bahwa MAU yang dikatakan Sophie itu maksudnya adalah WANT, bukan WILL.

Efek dari Sophie sounding mau punya adik di sekolah adalah pemahamannya jadi benar. Nampaknya Ibu Lastri yang meluruskannya. Sekarang Sophie sudah tahu kalau adiknya itu lahir dari perut saya, bukan perutnya. Bahwa adik harus disayang. Sophie juga sudah merencanakan macem-macem kalau nanti adiknya lahir. Dia akan memegangi botol susu adiknya, juga akan menari dan menyanyi biar adiknya senang. Sophie bahkan sudah memikirkan pengaturan posisi saat tidur dan naik motor. Kalau tidur, yaya memeluk adik bayi sementara Sophie akan tidur di belakang saya. Di motor, Sophie duduk di depan suami, saya menggendong adik bayi membonceng di belakang. It’s sound like a plan, well, for the unplanned baby yet. Kamu itu visioner, Nduk. Hahaha….

Sophie sekarang juga lumayan sudah bisa ngemong kalau main sama anak yang lebih kecil. Mulai bisa berbagi dan bermain dengan Adik Kayla seperti seorang kakak. Sophie, sejauh pengamatan kami, nampaknya sudah siap untuk punya adik.

Suami dari dulu itu tidak ingin punya banyak anak. Sophie saja sudah cukup, kalaupun dua ya menunggu Sophie besar dulu sehingga tidak ada dua balita di rumah. Kalau tentang urusan mengasuh anak, saya tidak meragukan sedikit pun kemampuan suami. Tested and proved. Suami sekarang mengembalikan semuanya pada saya. Kalau memang mau punya anak lagi, ya beliau siap siap saja, sepanjang saya sudah siap. Kenapa kuncinya di saya?

Karena selama ini yang paling tidak siap itu ya saya. Yang kuliah gak lulus-lulus itu saya, yang bolak-balik jadi kondektur bus antar kota antar propinsi itu ya saya, yang masih sering bertingkah demi bisa menguasai perhatian suami itu ya saya sendiri. Suami sering bilang kalau saya ini bagaikan anak pertama yang sering rebutan Bapak sama adiknya. Begini kok mau punya anak lagi, coba? Terus ya, saya percaya bahwa kondisi emosional ibu selama hamil itu akan sangat berpengaruh terhadap pembawaan anaknya kalau sudah lahir nanti. Maksud saya kalau selama kehamilan si ibu itu happy-happy terus,mensyukuri kehamilannya dan menjalaninya tanpa beban, ya nanti anaknya akan berkecenderungan untuk memiliki pembawaan yang ceria, demikian pula sebaliknya. Nah, kondisi saya saat ini jauh dari happy-happy terus seperti itu. Sedang dalam kondisi di mana saya sering mangkel, marah dan kecewa, tapi belum bisa menemukan cara untuk bergeser semua itu. Belum kondisional untuk hamil. Apalagi, saya punya cita-cita kalau nanti diberi kesempatan untuk hamil lagi, maka saya maunya preggo like a princess. Yang apa-apa dituruti, apa-apa ditemani, apa-apa dilayani. Ya, biar punya pengalaman hamil yang berbeda dari pas hamil Sophie dulu, yang sendirian sejak lima hari setelah konsepsi sampai sehari menjelang melahirkan (well, pas hamil sempat ketemu suami sekitar 6 minggu juga dhing).

Jadi, inti dari post sepanjang ini adalah, selama saya belum lulus ya saya belum berencana untuk melepaskan IUD. Kalaupun sudah dipageri seperti ini masih hamil juga (btw, dipageri ini adalah diksi teman saya yang sedang hamil itu, yang membuat saya dilihatin oleh banyak orang karena ngikik sendiri di bis kota), ya itu namanya rejeki kami.

Sekian dan selamat pagi.

Eh, btw, saya menyarankan untuk menggunakan -ada rencana hamil lagi kah?- instead of -kapan mau ngasih adik ke kakak?- Memangnya kita pabrik yang bisa mengatur produksi barang sesuka jidat apa?

Pagiii….

Advertisements