Uncategorized

Les Miserables

  • Masuk bioskop dengan niat untuk melihat cowok ganteng bernyanyi
  • Keluar bioskop dengan mata bengep karena menangis. Menangis berkali-kali, tepatnya.
  • Lah, bagaimana tidak menangis kalau diharapkan ganteng ternyata berpenampilan semacam ini: jean_valjean_by_schillingart-d5mnywk
  • Seriously, Anne Hathaway bagus banget bermainnya. Momen paling menyayat hati ya pas dia menyanyikan I Dreamed a Dream.
  • Saya jatuh hati pada pandangan pertama pada bocah ini, meskipun saya kurang terpesona dengan versi remajanyaImage
  • Saya juga suka sama yang ini:Image
  • Bapak dan Ibu Thenardier itu sungguh penyeimbang yang OK. Kelakuan mereka berdua yang gengges abiss itu cukup untuk membawa sedikit tawa di tengah sekian tangis yang ada. Mengingatkan saya pada peran goro-goro punakawan di pagelaran wayang sedalu natas. Ampun deh ya nama perancis, susah amat dilafalkan. Saya pas pamer sama suami, demi mempermudah pengucapan, mengubah nama mereka menjadi Belatrix dan suaminya. Haha.
  • Apakah keadilan itu? Manusia yang baik itu seperti apa? Revolusi itu seharusnya meletus begitu saja atau perlu dipikir analisis SWOTnya?
  • Eponine, iya, saya team Eponine. Definitely choose her over Cosette.  Hidup cinta tak kesampaian yang dibawa mati! Diantara sekian kematian nampaknya Eponine yang punya happy ending ya, mati di pelukan orang yang dicintainya, setelah sukses mengungkapkan perasaannya.
  • In the end, saya bersimpati pada semua tokoh. Apa itu protagonis dan antagonis? Tidak berlaku di sini.
  • Terakhir, saya suka sekali momen di mana Do You Hear People Sing dinyanyikan di akhir film. Ending yang ceria untuk film yang penuh air mata.
Advertisements
Uncategorized

Menanti Before Midnight

Salah satu film favorit saya adalah Before Sunset. Saya suka sekali melihat bagaimana Jesse dan Celine bereuni dan menghabiskan sore yang indah di Paris dengan berbincang ngalor ngidul.  Saya suka dialog panjang mereka, merasa connected dengan kondisi kejiwaan Celine, juga menikmati imajinasi saya tentang bagaimana cerita itu akan berakhir. Saya juga suka Before Sunrise dan segala aura kemudaan yang ada di dalamnya. Makanya, saya kegirangan layaknya Sophie mendapatkan balon warna pink pink ketika saya mengetahui bahwa the final sequel dari Before… sudah selesai diproduksi dan siap didistribusikan.

Membaca review-nya saja saya sudah senang lho. Positif, tentu saja. Andai kata review Before Midnight ini jeblok sekalipun, saya rasa saya tetap antusias menantikan filmnya masuk Indonesia. Apalagi setelah saya mengintip foto-foto dari Before Midnight di sini, saya jadi tambah kangen sama Jesse dan Celine.

before-midnight-julie-delpy-ethan-hawke

Spoiler Before Midnight sudah mulai bocor dimana-mana. Tapi ini bukan sesuatu yang mengganggu bagi saya yang memang suka baca-baca review suatu film sebelum menontonnya. Tapi dialog panjang lebar Celine – Jesse adalah elemen yang sulit untuk dibocorkan, saya rasa. Boleh saja plot Before Midninght dijembereng dimana-mana, selama belum ada script yang bocor di media, saya rasa tidak akan mengurangi keindahan film ini.

Bicara tentang spoiler ya, ternyata ketika Before Sunset berakhir, Jesse memilih untuk tinggal di flat Celine. You can imagine the rest of the story. Dulu, jaman masih gadis, saya selalu menginginkan ending seperti ini. Jesse mengambil kesempatan yang ada, menghidupi kembali obsesi masa mudanya dan masa bodoh lah dengan dunia di luar mereka.

Setelah saya menikah, sudut pandang saya berubah dengan sendirinya. Saya berharap Jesse menyelamatkan pernikahannya. Meskipun dia merasa sudah tidak mencintai istrinya, demikian pula sebaliknya, tapi yang namanya pernikahan kan bukan melulu urusan cinta semata. Apalagi dia sudah punya anak kan ya. Masa lalu, segemilang apapun itu, adalah masa lalu yang harusnya tunduk pada institusi berjudul pernikahan. Mau saya, sih, seperti itu.

Tapi kalau memang endingnya dibuat semacam itu, ya tidak akan ada Before Midnight tahun ini.