Uncategorized

Menanti Before Midnight

Salah satu film favorit saya adalah Before Sunset. Saya suka sekali melihat bagaimana Jesse dan Celine bereuni dan menghabiskan sore yang indah di Paris dengan berbincang ngalor ngidul.  Saya suka dialog panjang mereka, merasa connected dengan kondisi kejiwaan Celine, juga menikmati imajinasi saya tentang bagaimana cerita itu akan berakhir. Saya juga suka Before Sunrise dan segala aura kemudaan yang ada di dalamnya. Makanya, saya kegirangan layaknya Sophie mendapatkan balon warna pink pink ketika saya mengetahui bahwa the final sequel dari Before… sudah selesai diproduksi dan siap didistribusikan.

Membaca review-nya saja saya sudah senang lho. Positif, tentu saja. Andai kata review Before Midnight ini jeblok sekalipun, saya rasa saya tetap antusias menantikan filmnya masuk Indonesia. Apalagi setelah saya mengintip foto-foto dari Before Midnight di sini, saya jadi tambah kangen sama Jesse dan Celine.

before-midnight-julie-delpy-ethan-hawke

Spoiler Before Midnight sudah mulai bocor dimana-mana. Tapi ini bukan sesuatu yang mengganggu bagi saya yang memang suka baca-baca review suatu film sebelum menontonnya. Tapi dialog panjang lebar Celine – Jesse adalah elemen yang sulit untuk dibocorkan, saya rasa. Boleh saja plot Before Midninght dijembereng dimana-mana, selama belum ada script yang bocor di media, saya rasa tidak akan mengurangi keindahan film ini.

Bicara tentang spoiler ya, ternyata ketika Before Sunset berakhir, Jesse memilih untuk tinggal di flat Celine. You can imagine the rest of the story. Dulu, jaman masih gadis, saya selalu menginginkan ending seperti ini. Jesse mengambil kesempatan yang ada, menghidupi kembali obsesi masa mudanya dan masa bodoh lah dengan dunia di luar mereka.

Setelah saya menikah, sudut pandang saya berubah dengan sendirinya. Saya berharap Jesse menyelamatkan pernikahannya. Meskipun dia merasa sudah tidak mencintai istrinya, demikian pula sebaliknya, tapi yang namanya pernikahan kan bukan melulu urusan cinta semata. Apalagi dia sudah punya anak kan ya. Masa lalu, segemilang apapun itu, adalah masa lalu yang harusnya tunduk pada institusi berjudul pernikahan. Mau saya, sih, seperti itu.

Tapi kalau memang endingnya dibuat semacam itu, ya tidak akan ada Before Midnight tahun ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s