Uncategorized

Reuni!

Highlight dari weekend saya kemarin adalah bertemu dengan Ika. Ya ampun, ya ampun, ya ampun, hati saya kegirangan ketika menerima telponnya yang mengabarkan kalau dia sedang berada di Purwokerto! Setelah mencocokkan jadwal, kami pun ketemu. Happy tak terkira. Yay!

Di luar dugaan, saya tidak seheboh yang saya bayangkan ketika bertemu. Saya banyak diam sambil senyam-senyum mengingat kembali bagaimana masa muda kami, melihat Ika yang surprisingly sama sekali belum berubah di mata saya. Fisiknya, cara bicaranya, masih sama seperti dalam ingatan saya.

Dan kami pun mengobrol sana sini sambil membuka aib masa muda kami di depan suami. Suami, sih, sudah tahu tentang bagaimana masa muda saya, tapi kan belum tahu detailnya, semacam memanjat pagar kos jam 2 pagi dan kepergok ibu kos. Haha!

Kata Ika, saya sudah tidak seheboh dulu. Lebih keibuan. Ini saya harus sedih atau bahagia, ya, menanggapinya. (Tapi Ka, diriku tampak lebih keibuan kan gara-gara sekarang gendut dan memakai baju batik yang memang ibuk-ibuk PKK banget itu lho, beneran).

Dan, ya, saya sulit untuk mempercayai bahwa sosok Ika yang masih terlihat seperti sekian tahun yang lalu itu sudah punya 3 anak yang lucu-lucu. Iri, saya, iri seiri-irinya. Lah, saya yang baru punya Sophie saja sudah menambah berat badan sebanyak ini, coba.

Sayangnya, saya lupa mengambil foto kami berdua. Tapi tidak apa-apa, sepertinya di masa depan Ika masih akan datang ke Purwokerto lagi. Semoga nanti bisa mampir ke Karanggintung, ya, Ka, tidak terburu-buru seperti kemarin.

Terima kasih sudah datang dan membawa banyak senyum ya, Ika.

Advertisements
Uncategorized

Bahasa Sophie

Bagian terbaik dari pulang dua minggu sekali* adalah terkejut-kejut dengan perkembangan Sophie, terutama dalam berbahasa. Bocah 3 tahun 4 bulan itu ternyata sudah bisa ngeyel, ya. Dan, ya, saya makin percaya bahwa anak itu beneran meniru orang tuanya. Saya yang sering ngeyel kalo lagi ngobrol sama suami ini sekarang gigit jari dieyeli balita ceriwis kesayangan kami itu.

Foto-foto1

Saat makan pagi hari minggu lalu, Sophie menolak makan sayur. Kacang merah dan wortel dia cuthik dari sendok sebelum masuk ke mulutnya.

“Soph, sayurnya dimakan dong”

“Aku mau, kok, makan sayul”

“Kenapa kacang dan wortelnya disingkirkan?”

“Aku mau makan sayul, kok, lihat ini”

Dan Sophie pun menambahkan potongan kecil seledri atau daun bawang ke setiap suapannya.

“Tuh, kan, Ma, aku pintel mau makan sayul”

Errr….

Senewen dengan jawaban Sophie, saya menoleh dan bicara pada Si Meong, kucing yang diklaim Sophie sebagai miliknya.

“Meong, Mama membuat sop yang enak sekali lho. Tapi Sophie tidak mau. Meong mau, ya, makan wortel dan kacang ya, biar badan meong sehat dan kuat”

Dan Sophie ngikik di belakang saya,

“Kok Mama bicala sama meong, meong tidak bisa bicala lho”

Manyun, deh, saya jadinya.

Btw, Si Meong ini suka nimbrung pas kami makan. Yang mepet-mepet kaki lah, yang memandang dengan penuh harap lah, mencari kesempatan mengambil makanan di piring yang tidak terawasi lah. mengganggu  singkatnya. Saya yang keberatan dengan kehadirannya lalu mengusirnya keluar. Sophie yang penyuka kucing pun protes dengan mulut yang masih berisi makanan.

“Kok meongnya diusil?”

“Soph, makanannya dikunyah terus ditelan dulu, baru bicara. Mama tidak suka meong main ke dalam rumah terus, jadi Mama mengusirnya keluar”

Sophie buru-buru mengunyah dan menelan makanannya, lalu memeluk saya.

“Aku tadi tidak bicala, Mama, aku beltanya kok”

Saya cuma bisa diam mendengarnya. Dan diam lebih lama saat mendengar penuturan Sophie selanjutnya,

“Meong suka aku, Ma, jadi suka main ke dalam lumah”

Setelah Sophie selesai makan, saya yang makan. Dan Sophie langsung mengeluarkan serangkaian instruksinya.

“Mama makan yang pintel ya, sayulnya dimakan. Itu woltel dan kacangnya dimakan semua, biar Mama sehat dan kuat, bial mata Mama cling kayak kelinci”

Haha!

Sebagai penutup, ini adalah percakapan kami bertiga di salon ketika menunggu giliran gunting poni. Suami mengeluhkan HPnya yang hang. Seperti biasa, Sophie langsung menyamber dengan segala kesoktahuannya.

“Ha? Mama nge- hang, ya?”

“Bukan, Soph, ini HP Papa yang nge-hang

“Oh, kilain Mama nge-hang LAGI”

Doh, Soph, jadi menurutmu Mama ini sering hang ya? Oh, suami, mari perketat sensor saat ngobrol. Pusing gak tuh lihat Sophie yang menggunakan bahasa-bahasa ajaib kita untuk komunikasi sehari-harinya.

* Itulah bagian yang paling saya syukuri sebagai orang Jawa, selalu melihat sesuatu yang baik dibalik kesulitan dan ketidaknyamanan.