Uncategorized

Wicker Park dan Romantisme Jaman Dulu

Wicker Park ini bukan jenis film yang biasanya saya tonton. Saya “menyasarkan diri” menonton film ini gara-gara soundtrack-nya. Saya penasaran film macam apa yang memiliki opening scene diiringi lantunan Maybe Tommorow. Ternyata, saya bisa menimati film ini. Plot-nya yang tidak linear. Twist-nya yang lumayan membuat saya menahan nafas, deg-degan. Josh Hartnett yang selalu  ganteng dengan karakternya yang anteng. Dan terutama music scoring-nya yang juara.  Bagaimana mungkin emosi tidak teraduk-aduk ketika Stereophonics, Jaime Wyatt, Aqualung, Lifehouse dan Snow Patrol numpang lewat, coba?

Dari segi cerita, film ini menarik karena mengingatkan saya pada romantisme masa dimana manusia masih tergantung pada telepon rumah dan surat-menyurat. Masa dimana ponsel dan internet belum dikenal. Ada sebentuk keindahan yang kini sudah langka adanya, sesuatu yang tidak pernah dinikmati anak masa kini.

Coba Matt dan Lisa hidup di hari ini. Mereka tidak perlu merana berkepanjangan hanya karena Alex tidak bisa dititipi amanah. Twitter, email, whatsapp, atau bahkan sekedar ponsel sederhana bisa menyelamatkan mereka. Saat ini, ketika komunikasi adalah sesuatu yang amat mudah dan hampir tak terbatas, kisah seperti yang terjalin diantara mereka bertiga telah mati.

Wahai anak masa kini, sungguh kalian telah kehilangan kesempatan merasakan serunya keterbatasan dalam menyampaikan pesan.Surat berperangko itu romantis, in a way. Email, bagaimanapun juga, tidak bisa mewakili keseruan snail mail. Soul-nya beda.

Ini mengerikan, sungguh. Jelas menunjukkan bahwa saya sudah tua. Hahaha!

Btw, gara-gara Wicker Park yang klasik ini saya jadi teringat masa kecil saya. Kata orang-orang, saya kelas 2 SD sudah membaca koran. Bukan apa-apa, saya membaca koran hanya karena itulah satu-satunya media yang bisa saya akses.Mmm, belakangan muncul Majalah Kuncung juga dhing. Bapak saya membawa Suara Karya (oh, halo, Orde Baru, ada yang masih ingat?) dari sekolah, dan saya membaca, semuanya. Gara-gara Suara Karya ini, saya tahu  daerah-daerah di Jakarta. Priok di Jakarta Utara. Kebayoran di Jakarta Selatan. Dan seterusnya (hanya pembaca Suara Karya yang bisa memahami hal ini, saya rasa. Hahaha!). Sungguh pengetahuan yang tidak berguna bagi saya yang baru menginjakkan kaki di Jakarta  ketika KKL, belasan tahun kemudian.

Gara-gara Suara Karya itu juga, saya hafal nama-nama atlit top pada jamannya dan juga pergeseran peringkat dunia mereka setiap bulannya . Halo, Martina Navratilova! Para menteri, petinggi Golkar? Tentu saja hafal di luar kepala (Sungguh mengerikan ya, isi, kepala saya saat masih piyik dulu). Favorit saya adalah Suara Karya edisi Minggu, dimana di halaman tengahnya ada 2 halaman full color yang membahas tentang dunia hiburan internasional. Saya tahu Cher, bagaimana perjalanan karirnya, tanpa pernah mendengarkan lagunya atau melihat filmnya. Ya bagaimana bisa tahu lagunya Cher seperti apa ketika radio di rumah saya adalah adalah radio AM yang siarannya adalah berita dalam bahasa Jawa, me-relay berita RRI tentang harga sayuran di berbagai pasar induk dan juga cokek gaya Sragenan sebagai menu sehari-hari saya, coba? TV? Ada sih, tapi nontonnya dibatasi banget, karena masih menggunakan tenaga accu, yang mana cepat habis dan untuk mengisi ulang accu yang habis itu butuh perjuangan. Hail to Album Minggu dan Aneka Ria Safari, juga Sambung Rasa dan Dari Desa ke Desa!

Dengan kondisi seperti itu, tidak aneh kalau saya bisa menuntaskan membaca sebagian besar koleksi  buku yang ada di Perpustakaan SD saya dulu. Lah, namanya juga koleksi perpustakaan SDN di pedalaman Kecamatan Kerjo di akhir dekade 80an, ya. Jangan bayangkan perpustakaan sekolah jaman sekarang, jauhhh. Buku yang masih saya ingat dari masa itu adalah tentang Kartubi (masyaallah, namanya sungguh klasik, ya, hahaha!) yang membuat kompos dan Pahit-pahit Manis yang bercerita tentang budidaya manggis.

Ketika saya SMP, ada beberapa peningkatan yang signifikan dalam hidup saya. Mulai ada listrik masuk desa saya, TV swasta dan saya mulai kenal dengan bahasa Inggris. Referensi  jendela pengetahuan saya mulai beragam, dan saya bisa mencerna hal-hal yang sebelumnya saya blas tidak tahu, seperti sebenarnya lagunya Madonna itu bercerita tentang apa. Milestone masa SMP saya adalah standby didepan radio tiap malam Rabu untuk mencatat lirik lagu barat. Rasanya bangga bener ketika bisa mengikuti diktean si penyiar sampai lengkap satu lagu. Still, saya masih bisa membaca sebagian besar koleksi perpustakaan SMP saya. Buku-buku karangan NH Dini, dan I Swasta, Setahun di Bedahulu adalah beberapa buku yang masih berbekas di kepala saya sampai sekarang.

SMA saya terpapar pada media yang lebih canggih, komik, majalah remaja dan terutama MTV yang bisa diakses di ANTV. Selamat tinggal, saya tidak lagi bergaul dengan Perpustakaan saat SMA. Kalah pesonanya dibandingkan  tiga hal tersebut. Jaman kuliah saya mulai berkenalan dengan internet, dan inilah saya saat ini, yang sering diomeli Sophie gara-gara mengintip HP saat bermain dengannya.

Ish, jadi kemana-mana ya ceritanya. Memang post ini bukan review Wicker Park, kok. Lah, untuk apa saya me-review film yang release 8 tahun yang lalu, coba?

Have a nice day, any one.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s