Uncategorized

tentang Princess-Princessan

Sebagai emak-emak yang dulunya tumbuh tanpa kenal princess-princessan, saya tentu saja tidak mengenalkan sosok-sosok cantik itu pada Sophie. Lah, bagaimana bisa mengenalkan kalo saya saja tidak tahu, coba? Ditambah lagi dulu saya sempat membaca bahwa cerita princess-princessan macam itu bisa berbahaya bagi konsep diri anak (perempuan) bila orang dewasa di sekitarnya tidak menyampaikannya dengan pas. Itu, lho, tentang stereotip princess yang tidak mandiri dan lemah, yang harus bergantung pada prince agar bisa hidup bahagia, juga tentang ukuran kebahagiaan yang berupa pasangan ganteng dan status sosial yang tinggi. Semakin ogah, dong, saya jadinya.

Ketika Sophie mulai menyukai segala jenis hewan, saya tanpa berpikir mengenalkannya pada Maximus, kuda putih dalam Tangled. Sophie, tentu saja, langsung jatuh cinta pada Maximus. Namun, itu tidak bertahan lama. Preferensi Sophie dengan cepat bergeser pada Rapunzel. Sejak saat itu Sophie bercita-cita punya rambut panjang seperti Rapunzel (yang mana ini membuatnya suka dan gampang dikeramasi, hahaha!), juga menamakan semua baju panjang berwarna ungu sebagai baju-kayak-Rapunzel. Bahkan, saat bermain peran Sophie seringkali memainkan Rapunzel, dengan suami sebagai Eugene dan saya sebagai Maximus.Hahaha!

Image
Baju batik Rapunzel!

Dengan berjalannya waktu, Sophie tahu bahwa ada sosok-sosok lain yang penampilannya senada dengan Rapunzel. Sophie menamakan mereka Mbak-mbak-yang-bajunya-kayak-Rapunzel. Tidak cantik babar blas, ya, jadinya nama mereka. Nama ini bertahan agak lama, sampai akhirnya Sophie tahu bahwa nama golongan gadis (yang sebagian besar) berambut panjang, berbaju megar dan tampil penuh senyum itu adalah princess. Tampaknya ini adalah hasil dari pergaulannya di sekolah. Masalah mulai muncul saat Sophie mulai menanyakan nama-nama princess tersebut. Saya, ya, jawabnya tidak tahu melulu. Begitu pun dengan suami. Demi bisa menjawab pertanyaan Sophie, saya minta bantuan google dan wikipedia untuk tahu tentang princess-princess dari Disney. Ya, setidaknya tahu ini princess siapa di cerita apa bagaimana nasibnya, lah. Tapi, sampai sekarang saya masih sering tertukar-tukar. Yang hapal di luar kepala, ya, Rapunzel, Jasmine, Mulan dan Pocahontas thok. Eh, yang rambutnya kuning itu Aurora atau Belle, sih? Kan? Hahaha!

Image
contekan saya, gambar dari sini

 

Belakangan Sophie mengatakan kalau dia paling suka Rapunzel dan Ariel, tapi tidak suka dengan Pocahontas. Alasan Sophie, Pocahontas tidak memakai baju, hahaha!

Karena Sophie suka Ariel, saya kemudian mencari The Little Mermaid. Saya berniat untuk mengenalkannya pada film klasik tersebut. Tapi saya berubah pikiran setelah saya menontonnya. The Little Mermaid masih terlalu menegangkan untuk ukuran Sophie. Lah, Sophie itu kalau menonton Tangled suka takut dan heboh minta dipeluk ketika Mother Gothel muncul. Yo wis, nanti saja kalau dirimu sudah gedhean kita tonton bareng, ya, Soph. Saya, sih, suka The Little Mermaid, dan yakin Sophie juga akan menyukainya. Tapi semua kan ada waktunya tersendiri, ya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s