Uncategorized

the End of the Worst Broken Heart

Kata @petitepoppies, we are what remained after numerous broken hearts. And, here I am, after my recent (and the worst) broken heart.

Hati saya yang perih mulai membaik sejak saya mendengarkan curhatan Bapak A, salah seorang Jemaah Rosalia Indah yang weekend lalu duduk di sebelah saya pas perjalanan mudik ke Purwokerto. Curhat sepanjang Ngawi – Masaran tersebut menyadarkan saya bahwa apa yang menimpa saya ini tidak ada apa-apanya dibandingkan apa yang Bapak A hadapi. Malu, lah, kalau patah hati saya ra uwis-uwis, ketika ada teman yang baru saja merayakan kelahiran anak pertamanya di usia akhir 40-an, harus tinggal terpisah dari anak dan istrinya plus divonis menderita tumor otak.

Yang membuat hati saya megar lagi, Bapak A mengatakan pada saya bahwa dia sudah ikhlas dengan kondisinya, enjoy saja, katanya. Yang penting jangan menyerah pada keadaan, tertib menjalani pengobatan sambil terus menata hati, lanjutnya. If he can do it, so do I!

Dengan demikian, selesailah babak patah hati saya kali ini.

Terus, hari minggunya ada jalan sehat di kampus. Senang, bisa ketemu dengan teman-teman, walaupun tidak sempat ngobrol apa-apa. Kami masing-masing terlalu sibuk angon bocah-bocah yang beneran lancip bokongnya, yang tidak mau duduk tenang lebih dari 10 menit.

are we ready for another baby girl? hihihi!

 

Foto-foto2

Btw, Argo itu bagus, ya. Banget. Love it, much. Great job, Ben!

Dan sekarang, saya sudah pengen banget pulang. Menyambut long weekend bersama Sophie dan suami.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s