Uncategorized

Tiga-Dua

Tadi pagi saya bangun kesiangan, terus mengirim pesan pada suami bahwa saya tidak bisa melek dan malas untuk beranjak dari kasur. Suami membalas bahwa saya ketinggalan dan sudah banyak yang mengucapkan ulang tahun padanya. Ya, maaf, begini, deh, kalau punya istri yang ingatan tentang harinya parah.  Seingat saya tanggal 26 itu masih besok. Baiklah, SELAMAT ULANG TAHUN, SUAMIIIIII! Doanya sudah, ya, tadi. Selamat datang di hitungan tiga dua. I love you, i love you, i love you.

You make my life have purpose, and so I’m gonna make my goal just to love you as much as I can do. I hope you’re proud of being my man the way I’m proud of holding your hand in my hand.

Gombal banget, ya, Mbakyu Sophie di Love is Here ini. Lagu ini pernah jadi soundtrack yang pas banget dulu, hampir 6 tahun yang lalu. Dan saya berharap kegombalan ini akan tetap terdengar romantis hingga puluhan tahun ke depan bagi kami berdua. Walaupun, ya, gak begitu-gitu amat, lah, ya. Masa iya tujuan hidup saya hanya mencintai suami thok. Pastinya ada beberapa tujuan lain, tapi yang sayang-sayangan dan cinta-cintaan (yang terdengar hampir gombal bagi telinga pasangan yang telah menikah hampir 5 tahun ini)  semoga selalu menjadi salah satu prioritas kami.

We love you, suami. Mama and this pink turtle love you.

"Ini kula-kula, bukan Sophie Hamad"
“Ini kula-kula, bukan Sophie Hamad”
Advertisements
Uncategorized

It is Easier When You are Younger

Judul post ini adalah pendapat saya tentang putus. Tahu, lah, ya, bagaimana rasanya putus itu. Nah, segala rasa yang tidak enak itu sebanding dengan umur pelakunya. Semakin tua semakin berantakan, karena daftar what if nya tidak habis-habis, bererotan macam gerbong kereta api di musim liburan.

image

image

Buat teman ABG kami yang sedang patah hati, beneran kok. You’ll be alright. As i said couple years ago, sudah deh, dinikmati saja perihnya. Boleh nangis, kok. But for sure, you’ll find yourself laughing when you remember this part someday.

Sudah, deh, percaya saja. Soalnya, yang bicara ini orangnya cengeng, suka berpikir yang tidak-tidak, (mulai dari what if A, what if B,  to what if Z, ada semua, hahaha!), plus mengalami patah hati di usia yang tidak muda lagi dulu. Look at me now, i am survive, and happily married to THAT Patrick.

One way or another, i know you will read this post. Sudah, ah, ayo mudik weekend ini. Nanti aku (dan Sophie juga) peluk, deh. Btw, kalau butuh soundtrack biar babak belurnya makin terasa, coba deh dengerin Mad Season-nya Matchbox 20, X & Y-nya Coldplay atau Halcyon-nya Ellie Goulding. Tapi jangan mendengarkannya sendiri, ya. Ngenes-nya maksimal, soalnya.

Uncategorized

Menjadi Mama dari Anak Besar

Yang berarti bahwa saya harus siap menjawab setiap pertanyaan Sophie, yang semakin hari semakin rumit, seiring dengan perkembangan logikanya.

Iya, lho. Selain tambah enak diajak jalan-jalan, tambah susah makan sayur, tambah tinggi badannya (sehingga kalau saya gendong sekarang kakinya sudah kewer-kewer kemana-mana), juga tambah fasih mengekspresikan emosinya, menjadi besar bagi Sophie juga berarti tambah suka bertanya. Apa saja ditanyakan. Sebagai mama yang (berusaha) baik, saya tentunya juga berusaha memgimbangi perkembangan Sophie tersebut. Tapi ya, gitu, deh. Saya ini orangnya spontan. Terlalu spontan, malah. Jadi kalau menjawab pertanyaan Sophie tidak pernah saya pikir masak-masak dulu. Yang pertama terpikir, ya, itulah jawaban saya. Makanya, sering terjadi jawaban saya tidak menjawab pertanyaan Sophie, menimbulkan pertanyaan baru, atau malah salah sama sekali. Terus, saya ini orangnya juga ekspresif banget. Kadang saya tidak bisa meredam ekspresi kaget saya ketika mendengar pertanyaan Sophie. Saya khawatir kekagetan saya (yang lebay) ketika merespon pertanyaan Sophie bisa menekan keingintahuannya, jadi tidak suka bertanya lagi. Jadi, ya, menjadi mama dari Sophie yang tambah besar itu bagi saya berarti harus bisa mengendalikan spontanitas dan ekspresi lebay saya.

*** ***

Di kasur, sambil peluk-pelukan. Yang ini, sih, lebih ke diskusi sebenarnya. Sophie mengkonfirmasi beberapa hal yang sudah diketahuinya plus menanyakan beberapa hal lain. 1 – 0 untuk Sophie.

“Mama dulu mantenan sama Papa, ya?”

“Iya, Soph”

“Telus ada aku yang masih bayi di pelut Mama. Telus apa, Ma?”

“Terus Sophie lahir. Sophie pas masih bayi suka digendong Mama”

“Suka menyusu juga, ya Ma? Wadah susu Mama isinya banyak?”

“Iya, banyak sekali. Sophie kan belum bisa makan nasi pas bayi”

“Aku menyusu banyak telus jadi besal, ya, Ma?”

“Iya, dong”

“Setelah aku besal wadah susu Mama habis isinya?”

“Iya, tapi Sophie setelah besar kan sudah pinter makan nasi, buah, sayur …”

Niat saya, sih, mau brainwashing Sophie tentang makan sayur. Sekalian, lah.

“Aku gak mau sayul!”

Gagal, deh.

“Nanti kalau aku punya adik bayi, wadah susu Mama ada isinya lagi?”

“Ada, untuk diminum adik”

“Isinya apa, Ma?”

“Isinya ASI”

“ASI apa?”

“Isinya banyak, ada air, lemak, protein, gula…”

Ya Allah, apa-apaan ini saya memberitahukan kandungan ASI pada bocah 3,5 tahun?

“Lemak?”

“Iya, lemak”

Alhamdulilah mengulang kata lemak dengan intonasi datar bisa menghentikan pertanyaan Sophie tentang hal ini. Tapi pertanyaan selanjutnya membuat saya mati kutu.

“Mengisi susunya bagaimana?”

“Mmmm, mengisinya sedikit-sedikit, lewat makanan”

“Yang mengisi siapa?”

“Allah yang mengisinya”

Dan saya pun menyalakan televisi sambil menanyakan apakah Sophie mau menonton Hi 5. I didn’t think I was ready for her next questions on breastmilk.

*** ***

On the phone, saya pulang dari Lab, Sophie sedang menonton Jake and Neverland Pirates.

“Ma, halta kalun itu, apa?”

“Errr, sesuatu yang disukai dan disimpan dalam jangka waktu yang lama”

Definisi macam apa, ini, Tanti?

“Kok di Jek koin?”

“Iya, Soph, soalnya Jake sukanya koin”

“Oh, halta kalunnya Jek koin, ya Ma?”

Sehari setelahnya, pertanyaan serupa muncul lagi.

“Beluntung itu apa, Ma?”

Sik, sebentar, ya”

“Mama tidak tahu, ya?”

Hih, mbok tidak meruntuhkan kepercayaan diri Mama seperti itu, sih.

Uncategorized

Sentra Keluarga di Rumahliliput

Beberapa waktu yang lalu kami sempat bingung memikirkan kapan sebaiknya Sophie masuk SD. Anak yang lahir bulan Oktober itu tanggung bener, ya. Dimasukkan SD 6 tahun kurang 3 bulan kok rasanya terlalu cepat, tapi kalau diundur setahun juga khawatir nantinya dia berasa paling tua di kelas. Saya tahu, hal ini tidak bisa digeneralisir, tergantung kesiapan dan kematangan dari anak itu sendiri, memang. Tapi, memprediksikan kematangan Sophie di umur 5 tahun 9 bulan berdasarkan tingkahnya ketika berumur 3 tahun 6 bulan ini, ya, minta ampun susahnya.

Dulu saya selalu berpikir bahwa Sophie akan masuk SD umur 6 tahun lebih, tapi saya mulai goyah ketika melihat perkembangannya di kelas Planet Sinar Mentari. Sophie diikutkan kelas dengan kelompok umur diatasnya (per Juli 2012 berumur 4-5 tahun, Sophie saat itu berumur 3 tahun 9 bulan), dan terlihat bisa mengikutinya. Terlihat, lho, ya. Di mata orang tuanya pula, yang pastinya kebanyakan unsur subyektifnya.

Kami mulai menemukan titik terang akan hal ini bulan lalu, saat kami mengambil laporan perkembangan tiga bulanan di sekolah Sophie. Menurut Ibu Lastri, wali kelas Sophie, Sophie itu kalau di kelas termasuk tipe yang bisa diberitahu. Dasarnya “kreatif”, sih, polah melulu, suka inisiatif melakukan ini-itu, bosenan, tapi kalau diberitahu aturannya begini-begitu, dia mau menurut. Singkatnya, menurut Ibu Lastri, Sophie secara kognitif sudah OK, tetapi secara kemandirian, motivasi dan semangat masih kurang, bila dibandingkan teman-temannya. Tapi, dua tahun itu bukan sebentar ya, banyak hal yang bisa terjadi dalam rentang waktu itu, ada hal yang berkembang, atau justru menghilang, tergantung penanganannya.

Keputusan kami tentang kapan Sophie masuk SD bulat minggu lalu, ketika suami melihat sendiri bagaimana Sophie di kelas. Minggu lalu adalah jadwal sentra keluarga kelas Sophie di rumah kami. Sentra keluarga ini, pada dasarnya, adalah program sekolah dimana pembelajaran dilakukan di rumah salah satu murid dan orang tua murid membantu “mengajar”. Karena posisi saya sedang di Surabaya, otomatis peran guru playgroup dadakan itu jatuh pada suami. Iya, suami bolos sehari untuk menyukseskan Sentra Keluarga di rumahliliput. Love you, suami *kecup*.

Suami, akhirnya, menyaksikan sendiri semua cerita Bu Lastri tentang sikap Sophie selama di sekolah. Bosenan pol. Sepuluh menit pertama duduk manis mendengarkan apa yang disampaikan Ibu Lastri, setelahnya mulai tidak jenak duduknya. Yang jongkok-jongkok lah, mengajak teman bicara lah, sampai kabur meninggalkan Ibu guru dan teman-temannya untuk melihat entah apa di luar rumah. Kalau sudah begitu, Ibu Lastri akan memanggil Sophie, diberitahu kalau sekarang adalah waktunya apa, diminta gabung lagi, dan anaknya menurut. Tapi setelah sekian menit, ya, siklus itu terulang lagi. Bukan, Sophie bukan satu-satunya anak yang seperti itu. Kata suami, sih, level Sophie itu intermediate. Ada teman-temannya yang menurut dan anteng banget (salim sama Mamah Dimas, Mamah Nendra dan Mamah Afida, resepnya apa, sih, Bu?), tetapi ada juga yang lebih suka meninggalkan kelas dibandingkan Sophie.

Instant NMR
sebagian dari foto live report si asisten guru PAUD

Selain menyaksikan beberapa hal yang sudah terprediksikan, suami  sukses terkejut saat melihat Sophie mau mengambil makan sendiri, makan sampai habis dan bahkan nambah nasi, juga mau antri dengan tertib. Dan satu hal lagi, ternyata anak kami suka sok ngebos, suka mengatur teman-temannya dalam bermain. Di rumah juga begitu, sih, tapi kan teman main Sophie di rumah semuanya lebih muda dibanding Sophie.

Terus, Juli nanti masih di Sinar Mentari atau masuk TK di kota? Insyaallah, Sophie tetap di Sinar Mentari dulu, nanti masuk SD di umur 6 tahun 9 bulan. Biar semuanya enak dan nyaman nantinya, amin.

Eh, ini ada beberapa foto yang diambil oleh Ibu Lastri. Untuk urusan dokumentasi, mah, suami memang tidak bisa diharapkan. Lupa melulu, hahaha!

antri cuci tangan sebelum snack time
antri cuci tangan sebelum snack time. mohon abaikan sepatu yang nangkring di atas kotak susu di atas rak itu, ya.
membuat pesawat terbang bersama guru PAUD dadakan
membuat pesawat terbang bersama guru PAUD dadakan
waktunya bermain bebas. sungguh kagum dengan Ibu Lastri yang bisa mengarahkan anak-anak untuk membereskan sekeranjang mainan yang tersebar di seluruh penjuru rumah dalam sekejap. jempol!
waktunya bermain bebas. sungguh kagum dengan Ibu Lastri yang bisa mengarahkan anak-anak untuk membereskan sekeranjang mainan yang tersebar di seluruh penjuru rumah dalam sekejap. jempol!

 

kenapa kebanyakan anak lelaki mau memakai seragam, sedangkan yang perempuan ogah semua?
kenapa kebanyakan anak lelaki mau memakai seragam, sedangkan yang perempuan ogah semua?

 

suami saya cocok jadi guru PUD, ya? hihihi...
suami saya cocok jadi guru PAUD, ya? hihihi…

Dari 11 teman sekelas Sophie, ada 8 anak yang kemarin mengikuti Sentra Keluarga di rumahliliput. Mereka adalah Dimas, Anas, Uchan, Nendra, Zaki, Afida,  Ami dan Sophie. Sasa, Icha dan Aos berhalangan hadir. Nampaknya, Sentra Keluarga adalah agenda sekolah yang menjadi favorit anak-anak. Mereka berebutan pengen ketempatan rumahnya. Sophie sejak beberapa hari sebelumnya sudah antusias pamer kesana-sini bahwa akan ada teman-teman sekolahnya yang mau datang ke rumah. Dan ketika sudah waktunya teman-teman pulang, Sophie mulai pasang wajah cemberut. Tidak ikhlas ditinggal, ceritanya.

si muka bete dan teman-teman berpose di tangga
si muka bete dan teman-teman berpose di tangga

Terima kasih, teman-teman. Terima ksih juga, ibu Lastri dan Pak Panggih. Juga untuk Sinar Mentari. Sampai jumpa tahun depan, ya.

 

Uncategorized

Meracau

“Ini boys band apa, Kak?”

“Take That”

“Kok aku kayanya belum pernah dengar, ya, tentang boys band ini?”

Gara-gara kok-aku-kayanya-belum-pernah-dengar  itu, saya kemudian bercerita  padanya siapa Take That itu. Reaksinya membuat saya merasa tua seketika.

“Tahun 90 aku belum lahir, Kak. Pantes ga tahu”

Kesenjangan, kesenjangan.

***  ***

Anggota Take That favorit saya pasca 2006 adalah Howard Donald. Saya mulai jatuh cinta sejak melihatnya menyanyikan Never Forget di Beautiful World Tour, keren sekeren-kerennya, lah. Selain Never Forget, lagu yang dinyanyikan oleh Howard selaku lead vocal favorit saya adalah Mancunian Way. Saya suka sekali bagaimana Howard (dan Gary, Mark dan juga Jason, tentu saja) mengungkapkan keterikatannya pada Manchester. Saya yang selalu merasa bahwa saya tidak terikat pada suatu tempat (for me, it’s the people, not the place), sering iri pada mereka setiap kali mendengarkan lagu ini.

*** ***

Musik yang saya dengarkan lima tahun terakhir ini ya itu-itu saja. Ya, itu, tuh, mereka-mereka yang saya sukai di era  90an sampai 2003, lah. Play list saya isinya ya itu lagi – itu lagi. Kalaupun ada yang lebih baru, biasanya adalah materi baru dari musisi yang saya sukai pada kurun waktu tersebut. Mungkin kutukan musik generasi 90an itu benar-benar ada, kami-kami ini (atau saya saja?) tidak bisa move on dari kegemilangan masa-masa itu. Sampai kapan pun akan menganggap bahwa musik terkeren itu ya dari masa 90an. Musik masa kini? Itu bukan buat kami. Dengan sedikit pengecualian, tentunya.

Btw, saya memutar Windows Media Player sambil menulis posting ini, sambil menunggu kantuk datang. Berikut lagu-lagu yang saya dengar. Mancunian Way, This I Promise You, Violet Hill, Pretty Baby, Iris, the Freshmen, Secret Smile, For What It’s Worth, I Won’t Change You, Mr. Unhappy, It’s Only Us, Chasing Cars, Warning Sign, These Hard Times, Sunday Morning, Leave, Tears in Heaven, Don’t Dream It’s Over, Right Here Waiting, Head Over Feet, Can’t Afford to Die, Wherever You Will Go, Colours of the Wind, Run, The Call, If You Tolerate This Then Your Children Will Be Next, Bent, Switch Light, dan Summer Son. Lama? Most of them.

***  ***

Say hello to Ellie Goulding. Tahu-tahu saya suka begitu saja padanya dan lagu-lagunya masuk dalam play list harian saya. Saya menyukainya begitu saja sejak melihat video musik Lights, yang dibuat oleh Sophie Muller. Ellie memainkan sesuatu yang normalnya bukanlah preferensi saya, sama halnya seperti ketika saya mulai menyukai Sophie Ellis Bextor dulu. Kalau Lights ‘lucu’ dan hangat, Elly went to the darker side on Halcyon, dan saya amat menyukainya. Halcyon adalah soundtrack drama patah hati saya Maret lalu. Sudah tahu hati lagi berdarah-darah, kok, ya, mendengarkan Explosions dan kawan-kawannya. There’s a little bit of masochist in me, I guess. Halcyon ini sungguh emosional, sedih tapi realistis. Memang konteksnya beda ya, tapi entah kenapa saya merasa related.

Dari beberapa lagu Halcyon yang sudah dibuat video musiknya, favorit saya adalah Figure 8. Saya sempat mengira Figure 8 dibuat oleh Sophie Muller, gara-gara kain merah yang dipegang Ellie. Bold colors on black and white or plain background itu, kan, signature style Sophie. Tapi, ternyata bukan. Figure 8 dibuat oleh W.I.Z, yang belakangan saya ketahui adalah pembuat video musik See It in Boy’s Eyes-nya Jamelia. Oh, dunia ini kecil, ya.

***  ***

Setelah 2003, saya juga suka Ed Sheeran, Leona Lewis dan Yuna, selain Ellie. Boyce Avenue dan Daughtry juga.

***  ***

Oh, saya butuh tidur.

***  ***

Dan, saya merindukan pelukan suami dan duselan Sophie. Kangen udara Karanggintung.

***  ***

Ya, saya ingin tidur.  

***  ***

The Hurt Locker itu bagus sekali. Love it, as much as I love Jeremy Renner. Lah, buntutnya begini, ya.

***  ***

We used to think we were the bomb, then someone left a real one (Take That dan Eg White). Sekian.