Uncategorized

Bukan Bayi Lagi

Saya senyum-senyum melulu sejak menemukan foto-foto ini tadi malam. Rasanya, kok, sudah lama sekali masa-masa ini berlalu. Waktu cepat berlalu ketika kita bersenang-senang, kan, ya.

Sophie bayi
si bayi 1-12 bulan. belum kelihatan centilnya, ya 🙂

Ingatan tentang bagaimana menjalani hari-hari saya berdua dengan baby Sophie yang gampang banget muntah waktu itu mulai dingin, saya rasa. Tapi rasa senang dan segala deg-deg-serr nya masih lekat dalam pikiran saya. Sekarang, setiap kali saya menggendong bayi imut saya selalu kikuk. Mulai lupa setelan PWnya, hahaha!

jaman jadi anak kos di Karang Menjangan. bersyukur sekali rambutmu semakin tebal dengan bertambahnya umurmu, ya, Nduk :)
jaman jadi anak kos di Karang Menjangan. bersyukur sekali rambutmu semakin tebal dengan bertambahnya umurmu, ya, Nduk  🙂

Si bocah yang dulu berendam di ember berisi softener cucian ini sekarang sudah menanyakan hal-hal yang tidak pernah terpikirkan oleh saya. Contohnya, nih, ya, obrolan kami tentang sepatu Sophie yang saya berikan padanya dua minggu sebelum percakapan ini terjadi.

“Mama beli sepatu balu aku di mana?”

“Di Surabaya, Soph”

“Nama tokonya apa?”

“ITC. Kenapa, sih?”

“ITC, ya?”

“Iya, ITC. Kenapa Sophie bertanya?”

“Teman dan Ibu Lasti kemalin beltanya belinya dimana”

Oh. Sudah bisa ngerumpiin tentang barang-barang dan belanja-belanja, ya, Nduk. Hihihi.

Bicara tentang belanja-belanja, saya amat bersyukur bahwa Sophie tidak mewarisi gaya belanja saya yang impulsif. Kalau saya ajak membeli sesuatu, responnya yang paling sering adalah bertanya,

“Titik-titiknya rusak/hilang/patah/tidak muat, ya, Ma?”

Silakan titik-titiknya diganti dengan barang yang ingin saya beli. Jelas yang beginian Sophie meniru suami. Bukan saya. Bagus, suami, ini keren! Hahaha.

Terus, kalau Sophie menginginkan suatu barang, dia butuh waktu yang lama untuk minta dibelikan pada kami. Pas jalan sehat UMP dua minggu yang lalu, Sophie menghabiskan waktu 15 menit untuk kliteran di sekitar penjual bubble sebelum akhirnya minta dibelikan. Selama 15 menit itu dia melihat-lihat dagangan, sambil mengejar-ngejar bubble yang ditiup Pak Bakul. Dari raut wajahnya saya tahu betul bahwa Sophie amat menginginkannya, tapi saya menahan diri untuk tidak menawarkannya. Ketika akhirnya kami membelikannya, Sophie menanyakan alasannya.

“Kenapa, sih, aku dibeliin babel?”

“Karena Sophie sudah pinter mau bangun pagi, jadi pas jalan tidak rewel dan mau jalan sendiri”

“Ini hadiah, ya? Telima kasih, Mama”

“Iya, hadiah untuk anak pinter. Sama-sama”

Weekend lalu, ketika suami sedang sholat Jumat, kami berdua ngadem di pusat perbelanjaan. Sophie yang selalu suka dengan pink heboh saat melihat ada banyak jam tangan berwarna pink berjejer di etalase. Sophie minta beberapa jam untuk dia coba, mulai dari yang bergambar Hello Kitty, bintang-bintang bling-bling sampai yang penuh princess. Setelah lebih dari setengah jam nongkrong di depan etalase jam, Sophie akhirnya bilang pada saya kalau dia mau beli jam bergambar Hello Kitty yang bisa menyala. Saya yang sedang tidak membawa dompet mengatakan bahwa saya tidak bisa membelikannya saat itu juga. Eh, anaknya mau dan sabar menunggu sampai suami selesai sholat Jumat, lho.

Semoga habit yang ini bertahan sampai nanti, ya Soph.

Advertisements