Uncategorized

Meracau

“Ini boys band apa, Kak?”

“Take That”

“Kok aku kayanya belum pernah dengar, ya, tentang boys band ini?”

Gara-gara kok-aku-kayanya-belum-pernah-dengar  itu, saya kemudian bercerita  padanya siapa Take That itu. Reaksinya membuat saya merasa tua seketika.

“Tahun 90 aku belum lahir, Kak. Pantes ga tahu”

Kesenjangan, kesenjangan.

***  ***

Anggota Take That favorit saya pasca 2006 adalah Howard Donald. Saya mulai jatuh cinta sejak melihatnya menyanyikan Never Forget di Beautiful World Tour, keren sekeren-kerennya, lah. Selain Never Forget, lagu yang dinyanyikan oleh Howard selaku lead vocal favorit saya adalah Mancunian Way. Saya suka sekali bagaimana Howard (dan Gary, Mark dan juga Jason, tentu saja) mengungkapkan keterikatannya pada Manchester. Saya yang selalu merasa bahwa saya tidak terikat pada suatu tempat (for me, it’s the people, not the place), sering iri pada mereka setiap kali mendengarkan lagu ini.

*** ***

Musik yang saya dengarkan lima tahun terakhir ini ya itu-itu saja. Ya, itu, tuh, mereka-mereka yang saya sukai di era  90an sampai 2003, lah. Play list saya isinya ya itu lagi – itu lagi. Kalaupun ada yang lebih baru, biasanya adalah materi baru dari musisi yang saya sukai pada kurun waktu tersebut. Mungkin kutukan musik generasi 90an itu benar-benar ada, kami-kami ini (atau saya saja?) tidak bisa move on dari kegemilangan masa-masa itu. Sampai kapan pun akan menganggap bahwa musik terkeren itu ya dari masa 90an. Musik masa kini? Itu bukan buat kami. Dengan sedikit pengecualian, tentunya.

Btw, saya memutar Windows Media Player sambil menulis posting ini, sambil menunggu kantuk datang. Berikut lagu-lagu yang saya dengar. Mancunian Way, This I Promise You, Violet Hill, Pretty Baby, Iris, the Freshmen, Secret Smile, For What It’s Worth, I Won’t Change You, Mr. Unhappy, It’s Only Us, Chasing Cars, Warning Sign, These Hard Times, Sunday Morning, Leave, Tears in Heaven, Don’t Dream It’s Over, Right Here Waiting, Head Over Feet, Can’t Afford to Die, Wherever You Will Go, Colours of the Wind, Run, The Call, If You Tolerate This Then Your Children Will Be Next, Bent, Switch Light, dan Summer Son. Lama? Most of them.

***  ***

Say hello to Ellie Goulding. Tahu-tahu saya suka begitu saja padanya dan lagu-lagunya masuk dalam play list harian saya. Saya menyukainya begitu saja sejak melihat video musik Lights, yang dibuat oleh Sophie Muller. Ellie memainkan sesuatu yang normalnya bukanlah preferensi saya, sama halnya seperti ketika saya mulai menyukai Sophie Ellis Bextor dulu. Kalau Lights ‘lucu’ dan hangat, Elly went to the darker side on Halcyon, dan saya amat menyukainya. Halcyon adalah soundtrack drama patah hati saya Maret lalu. Sudah tahu hati lagi berdarah-darah, kok, ya, mendengarkan Explosions dan kawan-kawannya. There’s a little bit of masochist in me, I guess. Halcyon ini sungguh emosional, sedih tapi realistis. Memang konteksnya beda ya, tapi entah kenapa saya merasa related.

Dari beberapa lagu Halcyon yang sudah dibuat video musiknya, favorit saya adalah Figure 8. Saya sempat mengira Figure 8 dibuat oleh Sophie Muller, gara-gara kain merah yang dipegang Ellie. Bold colors on black and white or plain background itu, kan, signature style Sophie. Tapi, ternyata bukan. Figure 8 dibuat oleh W.I.Z, yang belakangan saya ketahui adalah pembuat video musik See It in Boy’s Eyes-nya Jamelia. Oh, dunia ini kecil, ya.

***  ***

Setelah 2003, saya juga suka Ed Sheeran, Leona Lewis dan Yuna, selain Ellie. Boyce Avenue dan Daughtry juga.

***  ***

Oh, saya butuh tidur.

***  ***

Dan, saya merindukan pelukan suami dan duselan Sophie. Kangen udara Karanggintung.

***  ***

Ya, saya ingin tidur.  

***  ***

The Hurt Locker itu bagus sekali. Love it, as much as I love Jeremy Renner. Lah, buntutnya begini, ya.

***  ***

We used to think we were the bomb, then someone left a real one (Take That dan Eg White). Sekian.

 

Advertisements