Uncategorized

Sentra Keluarga di Rumahliliput

Beberapa waktu yang lalu kami sempat bingung memikirkan kapan sebaiknya Sophie masuk SD. Anak yang lahir bulan Oktober itu tanggung bener, ya. Dimasukkan SD 6 tahun kurang 3 bulan kok rasanya terlalu cepat, tapi kalau diundur setahun juga khawatir nantinya dia berasa paling tua di kelas. Saya tahu, hal ini tidak bisa digeneralisir, tergantung kesiapan dan kematangan dari anak itu sendiri, memang. Tapi, memprediksikan kematangan Sophie di umur 5 tahun 9 bulan berdasarkan tingkahnya ketika berumur 3 tahun 6 bulan ini, ya, minta ampun susahnya.

Dulu saya selalu berpikir bahwa Sophie akan masuk SD umur 6 tahun lebih, tapi saya mulai goyah ketika melihat perkembangannya di kelas Planet Sinar Mentari. Sophie diikutkan kelas dengan kelompok umur diatasnya (per Juli 2012 berumur 4-5 tahun, Sophie saat itu berumur 3 tahun 9 bulan), dan terlihat bisa mengikutinya. Terlihat, lho, ya. Di mata orang tuanya pula, yang pastinya kebanyakan unsur subyektifnya.

Kami mulai menemukan titik terang akan hal ini bulan lalu, saat kami mengambil laporan perkembangan tiga bulanan di sekolah Sophie. Menurut Ibu Lastri, wali kelas Sophie, Sophie itu kalau di kelas termasuk tipe yang bisa diberitahu. Dasarnya “kreatif”, sih, polah melulu, suka inisiatif melakukan ini-itu, bosenan, tapi kalau diberitahu aturannya begini-begitu, dia mau menurut. Singkatnya, menurut Ibu Lastri, Sophie secara kognitif sudah OK, tetapi secara kemandirian, motivasi dan semangat masih kurang, bila dibandingkan teman-temannya. Tapi, dua tahun itu bukan sebentar ya, banyak hal yang bisa terjadi dalam rentang waktu itu, ada hal yang berkembang, atau justru menghilang, tergantung penanganannya.

Keputusan kami tentang kapan Sophie masuk SD bulat minggu lalu, ketika suami melihat sendiri bagaimana Sophie di kelas. Minggu lalu adalah jadwal sentra keluarga kelas Sophie di rumah kami. Sentra keluarga ini, pada dasarnya, adalah program sekolah dimana pembelajaran dilakukan di rumah salah satu murid dan orang tua murid membantu “mengajar”. Karena posisi saya sedang di Surabaya, otomatis peran guru playgroup dadakan itu jatuh pada suami. Iya, suami bolos sehari untuk menyukseskan Sentra Keluarga di rumahliliput. Love you, suami *kecup*.

Suami, akhirnya, menyaksikan sendiri semua cerita Bu Lastri tentang sikap Sophie selama di sekolah. Bosenan pol. Sepuluh menit pertama duduk manis mendengarkan apa yang disampaikan Ibu Lastri, setelahnya mulai tidak jenak duduknya. Yang jongkok-jongkok lah, mengajak teman bicara lah, sampai kabur meninggalkan Ibu guru dan teman-temannya untuk melihat entah apa di luar rumah. Kalau sudah begitu, Ibu Lastri akan memanggil Sophie, diberitahu kalau sekarang adalah waktunya apa, diminta gabung lagi, dan anaknya menurut. Tapi setelah sekian menit, ya, siklus itu terulang lagi. Bukan, Sophie bukan satu-satunya anak yang seperti itu. Kata suami, sih, level Sophie itu intermediate. Ada teman-temannya yang menurut dan anteng banget (salim sama Mamah Dimas, Mamah Nendra dan Mamah Afida, resepnya apa, sih, Bu?), tetapi ada juga yang lebih suka meninggalkan kelas dibandingkan Sophie.

Instant NMR
sebagian dari foto live report si asisten guru PAUD

Selain menyaksikan beberapa hal yang sudah terprediksikan, suami  sukses terkejut saat melihat Sophie mau mengambil makan sendiri, makan sampai habis dan bahkan nambah nasi, juga mau antri dengan tertib. Dan satu hal lagi, ternyata anak kami suka sok ngebos, suka mengatur teman-temannya dalam bermain. Di rumah juga begitu, sih, tapi kan teman main Sophie di rumah semuanya lebih muda dibanding Sophie.

Terus, Juli nanti masih di Sinar Mentari atau masuk TK di kota? Insyaallah, Sophie tetap di Sinar Mentari dulu, nanti masuk SD di umur 6 tahun 9 bulan. Biar semuanya enak dan nyaman nantinya, amin.

Eh, ini ada beberapa foto yang diambil oleh Ibu Lastri. Untuk urusan dokumentasi, mah, suami memang tidak bisa diharapkan. Lupa melulu, hahaha!

antri cuci tangan sebelum snack time
antri cuci tangan sebelum snack time. mohon abaikan sepatu yang nangkring di atas kotak susu di atas rak itu, ya.
membuat pesawat terbang bersama guru PAUD dadakan
membuat pesawat terbang bersama guru PAUD dadakan
waktunya bermain bebas. sungguh kagum dengan Ibu Lastri yang bisa mengarahkan anak-anak untuk membereskan sekeranjang mainan yang tersebar di seluruh penjuru rumah dalam sekejap. jempol!
waktunya bermain bebas. sungguh kagum dengan Ibu Lastri yang bisa mengarahkan anak-anak untuk membereskan sekeranjang mainan yang tersebar di seluruh penjuru rumah dalam sekejap. jempol!

 

kenapa kebanyakan anak lelaki mau memakai seragam, sedangkan yang perempuan ogah semua?
kenapa kebanyakan anak lelaki mau memakai seragam, sedangkan yang perempuan ogah semua?

 

suami saya cocok jadi guru PUD, ya? hihihi...
suami saya cocok jadi guru PAUD, ya? hihihi…

Dari 11 teman sekelas Sophie, ada 8 anak yang kemarin mengikuti Sentra Keluarga di rumahliliput. Mereka adalah Dimas, Anas, Uchan, Nendra, Zaki, Afida,  Ami dan Sophie. Sasa, Icha dan Aos berhalangan hadir. Nampaknya, Sentra Keluarga adalah agenda sekolah yang menjadi favorit anak-anak. Mereka berebutan pengen ketempatan rumahnya. Sophie sejak beberapa hari sebelumnya sudah antusias pamer kesana-sini bahwa akan ada teman-teman sekolahnya yang mau datang ke rumah. Dan ketika sudah waktunya teman-teman pulang, Sophie mulai pasang wajah cemberut. Tidak ikhlas ditinggal, ceritanya.

si muka bete dan teman-teman berpose di tangga
si muka bete dan teman-teman berpose di tangga

Terima kasih, teman-teman. Terima ksih juga, ibu Lastri dan Pak Panggih. Juga untuk Sinar Mentari. Sampai jumpa tahun depan, ya.