Uncategorized

Menjadi Mama dari Anak Besar

Yang berarti bahwa saya harus siap menjawab setiap pertanyaan Sophie, yang semakin hari semakin rumit, seiring dengan perkembangan logikanya.

Iya, lho. Selain tambah enak diajak jalan-jalan, tambah susah makan sayur, tambah tinggi badannya (sehingga kalau saya gendong sekarang kakinya sudah kewer-kewer kemana-mana), juga tambah fasih mengekspresikan emosinya, menjadi besar bagi Sophie juga berarti tambah suka bertanya. Apa saja ditanyakan. Sebagai mama yang (berusaha) baik, saya tentunya juga berusaha memgimbangi perkembangan Sophie tersebut. Tapi ya, gitu, deh. Saya ini orangnya spontan. Terlalu spontan, malah. Jadi kalau menjawab pertanyaan Sophie tidak pernah saya pikir masak-masak dulu. Yang pertama terpikir, ya, itulah jawaban saya. Makanya, sering terjadi jawaban saya tidak menjawab pertanyaan Sophie, menimbulkan pertanyaan baru, atau malah salah sama sekali. Terus, saya ini orangnya juga ekspresif banget. Kadang saya tidak bisa meredam ekspresi kaget saya ketika mendengar pertanyaan Sophie. Saya khawatir kekagetan saya (yang lebay) ketika merespon pertanyaan Sophie bisa menekan keingintahuannya, jadi tidak suka bertanya lagi. Jadi, ya, menjadi mama dari Sophie yang tambah besar itu bagi saya berarti harus bisa mengendalikan spontanitas dan ekspresi lebay saya.

*** ***

Di kasur, sambil peluk-pelukan. Yang ini, sih, lebih ke diskusi sebenarnya. Sophie mengkonfirmasi beberapa hal yang sudah diketahuinya plus menanyakan beberapa hal lain. 1 – 0 untuk Sophie.

“Mama dulu mantenan sama Papa, ya?”

“Iya, Soph”

“Telus ada aku yang masih bayi di pelut Mama. Telus apa, Ma?”

“Terus Sophie lahir. Sophie pas masih bayi suka digendong Mama”

“Suka menyusu juga, ya Ma? Wadah susu Mama isinya banyak?”

“Iya, banyak sekali. Sophie kan belum bisa makan nasi pas bayi”

“Aku menyusu banyak telus jadi besal, ya, Ma?”

“Iya, dong”

“Setelah aku besal wadah susu Mama habis isinya?”

“Iya, tapi Sophie setelah besar kan sudah pinter makan nasi, buah, sayur …”

Niat saya, sih, mau brainwashing Sophie tentang makan sayur. Sekalian, lah.

“Aku gak mau sayul!”

Gagal, deh.

“Nanti kalau aku punya adik bayi, wadah susu Mama ada isinya lagi?”

“Ada, untuk diminum adik”

“Isinya apa, Ma?”

“Isinya ASI”

“ASI apa?”

“Isinya banyak, ada air, lemak, protein, gula…”

Ya Allah, apa-apaan ini saya memberitahukan kandungan ASI pada bocah 3,5 tahun?

“Lemak?”

“Iya, lemak”

Alhamdulilah mengulang kata lemak dengan intonasi datar bisa menghentikan pertanyaan Sophie tentang hal ini. Tapi pertanyaan selanjutnya membuat saya mati kutu.

“Mengisi susunya bagaimana?”

“Mmmm, mengisinya sedikit-sedikit, lewat makanan”

“Yang mengisi siapa?”

“Allah yang mengisinya”

Dan saya pun menyalakan televisi sambil menanyakan apakah Sophie mau menonton Hi 5. I didn’t think I was ready for her next questions on breastmilk.

*** ***

On the phone, saya pulang dari Lab, Sophie sedang menonton Jake and Neverland Pirates.

“Ma, halta kalun itu, apa?”

“Errr, sesuatu yang disukai dan disimpan dalam jangka waktu yang lama”

Definisi macam apa, ini, Tanti?

“Kok di Jek koin?”

“Iya, Soph, soalnya Jake sukanya koin”

“Oh, halta kalunnya Jek koin, ya Ma?”

Sehari setelahnya, pertanyaan serupa muncul lagi.

“Beluntung itu apa, Ma?”

Sik, sebentar, ya”

“Mama tidak tahu, ya?”

Hih, mbok tidak meruntuhkan kepercayaan diri Mama seperti itu, sih.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s