Uncategorized

Kebun Binatang Surabaya

Pertengahan minggu lalu, partner-ngider-saya-pas-tidak-mudik-agar-weekend-tidak-berlumut-di-kos menawarkan beberapa alternatif selain nonton untuk mengisi hari minggu kami. Car free day, Kebun Binatang Surabaya (KBS), dan museum kapal selam. Suami mengusulkan bagaimana kalau saya ke KBS saja, hitung-hitung survey untuk melihat apakah tempat itu perlu kami prioritaskan untuk kami kunjungi bila someday Sophie ke Surabaya. Yo wis, saya memilih KBS, tapi ketika Mbak Yani menanyakan apakah saya serius dengan pilihan itu, saya tentu saja menjawab tidak terlalu serius. Lah, pemberitaan tentang KBS kan memang negatif melulu akhir-akhir ini, ya. Mulai dari yang tidak  jelas instansi pemerintah yang menaunginya, kurang terawat, sampai kematian beberapa hewan koleksinya. Saya yang memang kurang sreg dengan konsep pemeliharaan binatang dengan space dan makanan terbatas ini, ya,  jelas setengah hati mengusulkannya.

(Kami akhirnya mengabiskan minggu sore di XXI lagi, btw. Jauh bener, ya, hahaha!)

Tapi entah kenapa rasa penasaran saya akan KBS semakin kuat setelahnya. Saya ingin tahu sebuluk apa kah KBS itu sebenarnya, sehingga hanya ada sedikit sekali review tentangnya. Beda banget dengan Batu Secret Zoo (BSZ) yang kalau kita ketikkan di google akan memunculkan ratusan review dari berbagai sumber. Baiklah, saya meniatkan untuk berkunjung ke sana. Secepatnya.

Kemarin pagi, menjelang berangkat ke KBS saya membaca koran basi dan menemukan berita kematian harimau Sumatra tiga hari yang lalu. Lah, saya jadi ragu untuk berangkat. Apa iya separah itu kondisinya sehingga kematian binatang koleksi KBS terus saja terjadi?

Prolog yang terlalu panjang, ya? Hihihi. Baiklah, singkat cerita saya sudah di depan KBS. Ada banyak orang berjubel di depan loket karcis. Berjubel, lho, ya, bukan antri. Membandingkannya dengan BSZ, drop, deh, banget. Di BSZ seingat saya petugas di loket dan pintu masuk adalah mbak-mbak dan mas-mas yang ramah dan banyak senyum, semantara yang saya temui tadi cenderung ketus dan acuh pada pengunjung. Begitu masuk, saya mendapati  pemandangan yang hijau. Banyak pohon-pohon besar yang rindang, sama seperti yang saya ingat tentang KBS belasan tahun yang lalu. Saya menyukainya.

Kulo nuwun, KBS
Kulo nuwun, KBS

Btw, ini adalah kunjungan kedua saya ke KBS. Pas SMP, tahun 1995, sekolah saya ber-darma wisata ke sana, juga Madura dan Blitar. Ada dua hal yang masih saya ingat tentang KBS dari kunjungan 18 tahun yang lalu itu, yaitu pohon-pohon tinggi yang rimbun dan antrian kamar mandi di dekat masjid yang luar biasa panjangnya.

Bersyukur, saya tidak mencium bebauan tidak sedap dari pintu masuk ini. Setelah berkeliling, di sekitar beberapa  kandang memang berbau, sih, tapi tolerable, lah. Namanya juga makhluk hidup, ya, pasti ada sisa metabolisme yang dibuang. Tempat sampah ada di mana-mana, tapi sayangnya masih ada saja yang membuang sampah sembarangan. Peta lokasi, penunjuk arah, peringatan pada pengunjung, dan informasi atraksi apa saja yang ada di KBS banyak dan jelas. Beberapa disampaikan dalam bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris (tapi, ya, gitu, deh. Bahasa Inggris yang #enggres).

tersesat? tidak akan.
tersesat? tidak akan.

Saya yang dasarnya kurang sreg dengan konsep mengandangi binatang non ternak ini jelas nelongso melulu tadi. Sedih, lho, melihat antelop, rusa, banteng dan kawan-kawannya, yang seharusnya berlarian dan makan rumput hijau di savana luas, terkurung di kandang yang tak seberapa luas, yang becek tanpa ada satu pun rumput yang tumbuh di didekatnya. Mungkin saya terlalu terpengaruh berita yang saya baca sebelum berangkat, tapi saya merasa bahwa harimau yang kandangnya paling ujung sedang tidak sehat. Tubuhnya kurus sekali, dan ia sama sekali tidak mau duduk. Mondar-mandir sepanjang waktu sambil sesekali mengaum. Tapi yang paling ngenes-ngenesi itu ya monyet-monyet kecil yang ditempatkan di kandang mungil dengan sedikit mainan itu. Sendirian dan terkungkung.

show me the meaning of being lonely......
show me the meaning of being lonely……

Nah, monyet-monyet yang ini adalah mereka yang beruntung. Mereka mendapatkan kemewahan untuk tinggal bersama sesamanya. Meskipun ini masih jauh dari habitat asli mereka, setidaknya kebutuhan mereka untuk bersosial  terpenuhi.  Sebagai orang yang mudah merasa senang, saya asli kegirangan saat  melihat seekor makaka mengambil kacang rebus yang dilempar pengunjung ke air. Makaka itu pinter ya, dia bisa menggunakan ranting kecil untuk meminggirkan kacang itu, sehingga dia bisa memakannya.

island of the monkeys
island of the monkeys

Sebenarnya, seberapa cepat  rusa dan kerabatnya bereproduksi, ya? Dimana-mana, kok, ya, banyak saja jumlah mereka. Melihat sekelompok besar rusa hidup di sebidang tanah becek berpagar, berkerumun di dekat tempat makan yang nyaris kosong itu pemandangan yang menyedihkan, lho. Ya jelas saja makanan mereka habis, lha wong feeding time-nya adalah sebelum KBS menerima pengunjung. Terus, saya melihat ada dua gajah yang dirantai kakinya. Saya yakin KBS pasti punya alasan tersendiri merantai gajah yang berada di kandang yang sudah terisolasi dengan air, tapi, sedih saja melihatnya. Saya juga sempat sendu saat melihat Giring, orang hutan yang kemarin bertugas di animal show. Dia bertugas melayani foto bersama pengunjung. Ketika tidak ada pengunjung yang ingin berfoto dengannya, Giring akan menepi dan berpegangan pada tiang kecil, gelendotan di sana. Yang membuat saya lega adalah instruktur Giring memperlakukannya dengan baik, berbicara dengan intonasi lembut, menuntun dengan pelan dan mengajaknya berpose dengan cara yang baik. Selain Giring, di arena animal show juga ada seekor burung nuri, tapi kemarin si burung lagi ngambek tidak mau berfoto dan nangkring di atas tembok.

ayo, dong, yang ini dibenahi
ayo, dong, yang ini dibenahi

Bicara tentang fasilitas toilet, ampun deh, nampaknya ini merupakan salah satu poin paling minus di KBS. Sudah keberadaannya jarang, kondisinya pun mengenaskan. Saya kemarin menggunakan toilet yang di dekat masjid, mengerikan kondisinya, banget. Bangunan lama di bawah pepohonan besar dengan penerangan yang minimalis. Ubin dan klosetnya sudah menghitam di sana-sini, kusammm banget, serasa tidak tega menggunakannya. Saya menduga umur bangunan toilet ini sudah setua bapak ibu saya, sih, kalau melihat kondisinya. Horor!

Hal lain yang nyebelin adalah perilaku beberapa pengunjung yang membuang sampah sembarangan dan jahil corat-coret papan informasi. Pengen diselenthik banget, deh, mereka itu.

Di KBS juga ada kolam renang mini, yang mini bener sesuai namanya. Ada playground juga, tapi masih harus membayar lagi kalau mau bermain di sana. Ada juga children zoo yang berisikan hewan piaraan yang ditujukan untuk anak-anak. Ada kucing anggora, hamster, kura-kura, beberapa jenis burung dan unggas, juga ikan. Sayangnya, kemarin kok rasanya Children Zoo ini lebih smelly dibandingkan area lain, entah apa sebabnya.

Sejauh yang saya lihat, kondisi KBS sudah jauh lebih baik dibandingkan yang saya baca di beberapa review tentangnya. Kebanyakan review itu memang ditulis tahun lalu, sih. KBS baru saja mendatangkan 2 spesies koleksi baru dari Afrika, dan akan menyusul 4 satwa lainnya. Informasi dari tiap satwa di kandangnya juga lumayan, kok. Tidak sedetail wikipedia, tentu saja. Tapi sudah cukup untuk menjawab pertanyaan balita penasaran seperti ini-apa-makannya-apa-asalnya-dari-mana dan sejenisnya, lah.

KBS berbenah, for sure. ayo kita dukung
KBS berbenah, for sure. ayo kita dukung

Overall, KBS cukup menarik untuk dikunjungi, kok. Tempatnya teduh (di beberapa tempat berlumut dan becek, jadi sebaiknya membawa baju ganti untuk balita rungsing yang suka berlarian), cukup bersih dan koleksi satwanya lumayan. Saya kemarin tidak masuk ke Aquarium karena waktunya mepet, jadi tidak tahu bagaimana kondisinya. Koleksi burung juga tidak terlalu banyak, sih. Tapi ada, tentu saja.

Penjual makanan? Banyak. Mulai dari bakso-rawon-soto dan snack chiki-chikian yang dijual paketan ada semua. Tapi, ya, makanannya model begitu, deh. Banyak penjual mainan juga, mulai di pintu depan sampai yang ngider ada juga. Ruwet, ya? Memang. Jangan membandingkan KBS dengan BSZ, intinya.

Anak-anak, sih, pasti suka diajak ketempat semacam ini. Untuk tiket seharga 15 ribu, menurut saya ya lumayan banget anak bisa berlarian sambil mengenal macam-macam hewan. Jangan lupa membawa baju ganti (in case anak nyusruk jatuh di kubangan air), handuk dan perlengkapan mandi (besar kemungkinan bocah minta berenang) payung atau jas hujan, juga hand sanitizer. Oh, kalau bisa datangnya di hari kerja juga, secara kalau hari minggu ramainya banget-banget. Dan ya, final verdict untuk survey saya adalah tempat ini harus kami kunjungi bila suatu saat Sophie ke Surabaya.

Advertisements
Uncategorized

Bukan Bayi Lagi

Saya senyum-senyum melulu sejak menemukan foto-foto ini tadi malam. Rasanya, kok, sudah lama sekali masa-masa ini berlalu. Waktu cepat berlalu ketika kita bersenang-senang, kan, ya.

Sophie bayi
si bayi 1-12 bulan. belum kelihatan centilnya, ya 🙂

Ingatan tentang bagaimana menjalani hari-hari saya berdua dengan baby Sophie yang gampang banget muntah waktu itu mulai dingin, saya rasa. Tapi rasa senang dan segala deg-deg-serr nya masih lekat dalam pikiran saya. Sekarang, setiap kali saya menggendong bayi imut saya selalu kikuk. Mulai lupa setelan PWnya, hahaha!

jaman jadi anak kos di Karang Menjangan. bersyukur sekali rambutmu semakin tebal dengan bertambahnya umurmu, ya, Nduk :)
jaman jadi anak kos di Karang Menjangan. bersyukur sekali rambutmu semakin tebal dengan bertambahnya umurmu, ya, Nduk  🙂

Si bocah yang dulu berendam di ember berisi softener cucian ini sekarang sudah menanyakan hal-hal yang tidak pernah terpikirkan oleh saya. Contohnya, nih, ya, obrolan kami tentang sepatu Sophie yang saya berikan padanya dua minggu sebelum percakapan ini terjadi.

“Mama beli sepatu balu aku di mana?”

“Di Surabaya, Soph”

“Nama tokonya apa?”

“ITC. Kenapa, sih?”

“ITC, ya?”

“Iya, ITC. Kenapa Sophie bertanya?”

“Teman dan Ibu Lasti kemalin beltanya belinya dimana”

Oh. Sudah bisa ngerumpiin tentang barang-barang dan belanja-belanja, ya, Nduk. Hihihi.

Bicara tentang belanja-belanja, saya amat bersyukur bahwa Sophie tidak mewarisi gaya belanja saya yang impulsif. Kalau saya ajak membeli sesuatu, responnya yang paling sering adalah bertanya,

“Titik-titiknya rusak/hilang/patah/tidak muat, ya, Ma?”

Silakan titik-titiknya diganti dengan barang yang ingin saya beli. Jelas yang beginian Sophie meniru suami. Bukan saya. Bagus, suami, ini keren! Hahaha.

Terus, kalau Sophie menginginkan suatu barang, dia butuh waktu yang lama untuk minta dibelikan pada kami. Pas jalan sehat UMP dua minggu yang lalu, Sophie menghabiskan waktu 15 menit untuk kliteran di sekitar penjual bubble sebelum akhirnya minta dibelikan. Selama 15 menit itu dia melihat-lihat dagangan, sambil mengejar-ngejar bubble yang ditiup Pak Bakul. Dari raut wajahnya saya tahu betul bahwa Sophie amat menginginkannya, tapi saya menahan diri untuk tidak menawarkannya. Ketika akhirnya kami membelikannya, Sophie menanyakan alasannya.

“Kenapa, sih, aku dibeliin babel?”

“Karena Sophie sudah pinter mau bangun pagi, jadi pas jalan tidak rewel dan mau jalan sendiri”

“Ini hadiah, ya? Telima kasih, Mama”

“Iya, hadiah untuk anak pinter. Sama-sama”

Weekend lalu, ketika suami sedang sholat Jumat, kami berdua ngadem di pusat perbelanjaan. Sophie yang selalu suka dengan pink heboh saat melihat ada banyak jam tangan berwarna pink berjejer di etalase. Sophie minta beberapa jam untuk dia coba, mulai dari yang bergambar Hello Kitty, bintang-bintang bling-bling sampai yang penuh princess. Setelah lebih dari setengah jam nongkrong di depan etalase jam, Sophie akhirnya bilang pada saya kalau dia mau beli jam bergambar Hello Kitty yang bisa menyala. Saya yang sedang tidak membawa dompet mengatakan bahwa saya tidak bisa membelikannya saat itu juga. Eh, anaknya mau dan sabar menunggu sampai suami selesai sholat Jumat, lho.

Semoga habit yang ini bertahan sampai nanti, ya Soph.