Uncategorized

Kemakan Omongan Sendiri

Beberapa waktu yang lalu saya menulis tentang fenomena anak-anak yang mengkonsumsi hal-hal yang seharusnya diperuntukkan orang dewasa. Nah, kali ini saya kemakan omongan saya sendiri. Apa yang saya omongkan itu kejadian di rumahliliput. Kata suami, “tuh, kan, lihat anaknya gimana dulu baru bicara”

Hahaha!

Makanya, jangan sok iye, Tanti *sodorin kuping buat dijewer*

Ceritanya, Sophie lagi main dedek-dedekan. Dia jadi ibu, si Elly yang jadi dedeknya. Dalam rangka menghayati perannya, Sophie meminjam kerudung saya. Kerudung kaos panjang, tepatnya. Sophie kemudian sibuk melilit-lilitkan kerudung saya (yang anomali bener ukurannya, 210 x 50 cm) di kepalanya, memaganginya biar tidak jatuh sambil berkaca.

“Mama, tolong dipasangkan bos disini, ya”

Sophie menunjukkan lokasi di kepalanya yang ingin dipasangi bros. Lokasi bros ini penting buat Sophie (nanti saya tunjukkan letak pentingnya, ya), walau hanya dia sendiri yang tahu alasannya.

Hasilnya, Sophie terlihat lucu dengan kerudungnya. Kecentilan saya untuk mendandani anak pun bergelora. Saya kemudian ingat bahwa saya punya kerudung warna peach yang ukurannya lebih bersahabat dengan ukuran tubuh Sophie. Saya menawarkannya, dan tentu saja, Sophie menerimanya dengan gembira. (Yanti, terima kasih, ya. Sophie suka banget kerudung darimu itu). Setelah dipakai, Sophie meminta sesuatu yang tak terpikirkan oleh saya sebelumnya.

“Mama, besok aku mau sekolah pake keludung ini, ya”

“Apa boleh, Soph? Itu kan kerudung untuk ibu-ibu”

“Boleh, kok. Aku mau pake keludung ini ke sekolah, lah. Kayak Afida”

Oh, baiklah. Kalau sudah ada anak lain yang memakai kerudung emaknya ke sekolah, saya tidak perlu merasa bersalah sama ibu-ibu yang kebingungan tiba-tiba anaknya pinjam kerudung untuk dipakai bersekolah.

“OK, boleh”

Dan kerudung peach itu nangkring di kepala Sophie selama berjam-jam, baru mau dilepas setelah dipamerkan pada suami (dan mau mandi juga).

Keesokan harinya, beginilah penampakan warga rumahliliput sebelum beraktivitas. Saya mau setor muka ke kampus pagi itu, maka pake baju batik yang ibu-ibu banget itu.

Instant NMR

Siangnya, ketika saya menjemputnya dari sekolah, Sophie muncul dari balik gerbang dengan kerudung peach-nya (yang rapi banget) sambil membak-membik menahan tangis. Setelah peluk-peluk sayang-sayang akhirnya Sophie bercerita kenapa dia menangis. Gara-gara apa? Gara-gara Bu Romy pas memakaikan kerudung, pemasangan brosnya meleset 3 senti dari yang dimaui Sophie. Tuh, kan, posisi bros itu penting buat Sophie.

Keesokan harinya, pas saya sudah di Surabaya, Sophie masih mau memakai kerudung peach itu. Sudah diberitahu kotor, bau, masih juga ngotot. Akhirnya suami memakaikannya ala kadarnya, yang berakibat Sophie tidak nyaman memakainya. Sepagian itu suami tiga kali membongkar kerudung Sophie, karena anaknya minta dibeneri melulu.

Kata suami, memang paling bener balita ya pake kerudung instan yang tinggal dimasukkan. Bebas ribet.

Iya, memang paling bener itu ya bocah berpakaian sesuai umurnya. Habis perkara.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s