Uncategorized

Mendengarkan Apa? Nonton Apa? Pakai Baju Apa?

Saya sedang duduk di kereta Pasundan, dalam perjalanan ke Solo. Di gerbong saya banyak anak-anak, berisik, tentu saja. Ada satu anak yang mendengarkan lagu dari HP orang tuanya. Errr, lebih tepatnya memaksa penumpang seperempat gerbong mendengarkan juga, dhing, wong volumenya gedhe bener. Lagu-lagu yang ada di play list nya adalah lagu-lagu masa kini yang kebanyakan tidak saya kenal. Si anak ini fasih ikut bernyanyi menirukan apa yang didengarnya. Lucu, sih, mendengar dia mengucapkan sain brait laik damen sambil senyum-senyum riang. Tapi kok rasanya ada yang tidak pas ya. Lha iya, si anak ini menurut perkiraan saya baru berumur 5 tahunan. Duh, Nak, tidak ada lagu lain yang bisa kamu pilih, apa ya?

Nah, kejadian ini mengingatkan saya pada event yang saya ikuti hari minggu lalu. Saya datang ke Indonesian Hijab Festival yang kebetulan siang itu mendatangkan Cowboy Junior. Sejak pagi, lagu-lagu Cowboy Junior diputar dan gadis-gadis kecil (3 tahun sampai SD, mungkin ya) ikut bersenandung dan menari-nari centil sambil menunggu si artis datang. Ketika akhirnya Cowboy Junior datang, nona-nona kecil (dan beberapa mas-mas kecil juga, sih) histeris mendekati panggung. Bapak ibu mereka yang bingung harus bagaimana, tampaknya.

Terus, ada satu cerita lagi sebelum saya sampai pada inti dari post ini. Kemarin-kemarin suami bercerita pada saya tentang keheranannya pada tetangga kami, sebut saja T. T ini sepantaran dengan Sophie, dan amat suka bernyanyi. Suami heran karena mendapati T menyanyikan lagu dangdut koplo yang secara lirik amat tidak pantas untuk dinyanyikan anak 4 tahun, yang nyerempet-nyerempet hooh, gitu deh. T ini bernyanyi sambil mendengarkan lagu dari HP juga, sama seperti teman segerbong saya (yang alhamdulillah akhirnya mau mematikan HPnya dan mencoba tidur sekarang).

Nah, yang ingin saya sampaikan sebenarnya adalah tentang realita anak-anak yang mengkonsumsi hal-hal yang sebenarnya ditujukan untuk orang dewasa. Bukan hanya tentang musik, tapi juga film, cara berpakaian dan bahkan make up. Iya, saya paham sepenuhnya bahwa anak-anak itu walaupun kecil, mereka manusia juga. Mereka punya selera juga, yang harus dihargai oleh orang dewasa yang didekatnya. Tapi semua hal, saya rasa, ada waktunya tersendiri. Paparan terhadap hal-hal dewasa pada anak-anak sebelum waktunya ini, pasti akan meninggalkan jejak di diri anak. For good or for bad, Allah knows it.

Setiap kali mendapati sesuatu yang tidak pas pada anak-anak, saya selalu ingat perkataan Mbak @AlissaWahid, it’s never about the kids, it’s about adults around them. Sebuah refleksi buat saya sebagai orang tua. Lagu, film, buku dan baju macam apa yang saya sediakan untuk diakses Sophie? Apakah saya tahu persis apa isinya? Apakah semua itu cocok dan pantas untuk usia Sophie? Banyak pertanyaan yang harus saya jawab di sini, dan yang lebih penting, banyak hal yang harus saya lakukan untuk menidaklanjutinya.

PS: Sophie tidak kenal Justin Bieber, Rihanna, Cowboy Junior ataupun dangdut koplo karena emak bapaknya tidak suka. HP saya isinya Take That melulu, mulai dari Everything Changes sampai Progressed, tapi sampai sekarang Sophie belum tertarik.

Advertisements
Uncategorized

Sophie 3 Tahun 7 Bulan

si nona poni yang sedang kurus gara-gara meriang
si nona poni yang sedang kurus gara-gara meriang

Sophie is officially Nona Poni now. Hari minggu kemarin kami memotong poni Sophie yang sudah sampai ke mata. Di Salma, seperti biasanya. Ketika ditanya sama ibu resepsionis, Sophie menjawab,

“Mau potong poni saja. Belakangnya tidak usah, bial panjang”

Sip, anak besar tahu apa yang diinginkannya.

Kalau potong rambut sebelumnya masih minta pegangan tangan sama saya, kemarin itu Sophie sudah berani tanpa saya pegangi. Sophie duduk manis di kursi tinggi sambil senyum-senyum centil  melihat bayangannya di kaca. Mbak kapster menawarkan bagaimana kalau poni Sophie dibuat ke depan, tidak ke samping seperti biasanya. Saya mengiyakannya sambil terus ndemimil mengatakan pada Sophie bahwa potongan rambutnya bagus dan menanyakan apakah dia menyukainya. Tentu saja Sophie menyukainya, senyumnya tidak pernah meninggalkan wajahnya. Awalnya mbak kapster memotong poni Sophie tepat di atas alis, tapi saya minta diperpendek lagi. Yaaa, terlihat culun, sih, tapi kan dengan lebih pendek poninya berarti akan butuh waktu yang lebih lama untuk potong lagi nantinya.

Selesai potong rambut, Sophie mau mengucapkan terima kasih pada mbak kapster (Emaknya bangga!)  lalu lari pamer poninya pada suami di ruang tunggu. Kata Sophie, sekarang rambut belakangnya jadi panjang karena poninya dipotong. Efek perbandingan, mungkin, ya. Karena poninya memendek, rambut belakangnya terkesan jadi  lebih panjang.

Bagi Sophie, rambut panjang itu keren karena dua alasan, yang pertama karena seperti Rapunzel dan yang kedua karena seperti saya. Sampai detik ini Sophie masih mengidolakan saya, dalam pikirannya semua hal yang seperti mama itu keren dan benar. Kalau ikut bahasa suami, Sophie itu adalah fans berat Mama.  PR banget kan ya, ini, saya harus berusaha untuk selalu baik dan benar karena ada peniru yang akan mengimitasi segala hal yang ada pada saya (Dapat salam, tuh, dari @MamaYeah, siapa suruh jadi ibu yang tidak sempurna? Bwek). Di sisi lain, saya sungguh bersyukur pada kondisi ini. Dulu, saat memutuskan Sophie di Purwokerto dan saya di Surabaya, salah satu ketakutan terbesar saya adalah mbok-mbok Sophie jadi tidak dekat secara emosional dengan saya. Alhamdulillah bonding Sophie dan saya saat ini masih seerat dulu.

Ya, Sophie meniru hampir semua kebiasaan saya, kecuali habit makan. Saya kan nggeragas ya, makan apa saja mau. Yaaa, tidak semua, dhing. Saya tidak suka pisang dan pepaya, juga suka rewel kalau makanan disajikan tidak seperti ekspektasi saya. Tapi, saya berani bereksplorasi dengan makanan, lah. Sementara Sophie, duh Gustiiii, saya mesti berjuang sekuat tenaga untuk tidak manyun dan ngomel setiap kali waktu makan tiba. Sophie itu pemakan karbo. Segala macam karbo dia mau. Protein yang dia mau cuma putih telur, ceker ayam, KULIT ayam dan bebek. Tahu tempe ogah. Kacang-kacangan tidak doyan. Daging olahan seperti bakso dan sosis mau, tapi itu juga kadang-kadang. Sayuran berwarna hijau tidak mau semua. Wortel dan jagung (yang mana lebih dominan karbonya, kan, ya) mau kalau dirayu-rayu. Favoritnya adalah labu siam (Sophie menyebutnya weloh, just like a real Ngapaker says, hahaha!). Sophie suka tepung mendoan (dan bakwan sayuran yang juga disebutnya mendoan). Untungnya, Sophie suka pisang, pepaya, melon dan semangka. Apel dan pear mau kalau manis, kalau ada asemnya sedikit saja ogah. Kelengkeng, duku dan salak tidak mau karena tidak suka penampakannya. Ck!

Edisi picky eater kali ini mencapai puncaknya saat Sophie meriang weekend lalu. Ini tidak mau, itu tidak mau. Mogok makan. Kalau ditanya maunya makan apa, jawabannya selalu mi. Dan sekarang sudah kenal mi instan, pula (dilempar bom molotov beneran, ini, nanti saya, ya, sama @MamaYeah). Sophie itu benar-benar hanya mau makan apa yang diinginkannya. Kalau kami menyembunyikan potongan bayam di sendoknya, ya, dia akan melepeh makanannya begitu merasakan keberadaan si bayam. Dan ini berlaku untuk semua hal. If you want to see the most annoying way eating mendoan, come and see Sophie. Dia dengan telaten akan nithili tepungnya, membuang potongan daun bawang dan memakan tepungnya. Terus begitu sampai bersih, lalu dia akan menyerahkan tempe yang sudah telanjang sambil berkata, sudah. Grrrrrr!

Trik suami supaya Sophie mau makan adalah dengan mengolahnya menjadi gorengan. Brokoli, wortel, kalau perlu bayam dll juga, dicincang halus dimasukkan ke adonan tepung atau telur, jadilah bakwan atau dadar yang biasanya Sophie mau. Kata suami, Sophie sudah lumayan mau makan hari ini. Semoga edisi picky eater ini beneran segera berlalu. Ironis kan, ya, emak bapaknya semakin bulat sementara anaknya mengurus kurang nutrisi. Gara-gara pilih-pilih makan menyebalkan dan juga meriang kemarin itu, Sophie terlihat lebih kurus. Padahal minggu depan mau ke rumah mbah, lho. Ah, embuh, wis.

Sudah, ah, cukup membicarakan masalah kunyah-mengunyah yang membuat kepala saya berasa berasap ini.

Sebagai penutup, inilah janji yang yang diucapkan Sophie setiap paginya sesaat setelah bangun tidur, sambil mengulurkan jari kelingkingnya pada suami,

“Aku mau nonton TV sambil minum susu, tapi janji nanti mau mandi. Janji”

Dan tadi pagi ada tambahan kalimat ini,

“Mandinya setelah Litel Enstein”

Hahaha!

Love you, Sophie, a lot!

Uncategorized

Welcome Back, KTP dan KTM Saya

Jumat minggu lalu saya kehilangan dompet lagi. Kali ini karena kecopetan di len jalur E. Salah satu edisi kehilangan dompet yang membuat saya panik, sih. Oknum pencopetnya adalah bapak-bapak yang membawa tas segedhe gaban yang ditutupkan ke tas saya, yang usrek terus tidak bisa diam sepanjang jalan. Saya sebenarnya merasa ketika resleting tas saya dibuka, semacam bergetar, gitu, deh, tapi saya sama sekali tidak menyadari apa yang terjadi. Ketika bapak-bapak itu turun, ibu-ibu yang didepan saya menyuruh saya untuk memeriksa tas, karena beliau curiga dengan polah si bapak-bapak. Dan benar saja, tas saya sudah terbuka dan dompet saya raib. Respon pertama saya adalah bengong, sampai ibu-ibu yang tadi meminta Pak Sopir untuk berhenti dan menyuruh saya turun untuk mengejar si bapak-bapak. Turun dari len, saya berjalan ke arah turunnya bapak-bapak bertas besar itu, berharap dompet saya dibuang di sana. Harapan yang tak terjawab, sayangnya.

Setelah edisi bengong lewat, saya memeriksa tas, mencari apakah ada uang yang bisa saya gunakan. Saya hanya menemukan uang 7 ribu thok, coba. Kemudian saya menelpon suami. Sambil menelpon suami, saya berpikir opsi apa yang saya miliki. Pertama, putar balik ke kos, meminjam uang pada ibu kos terus ke agen bis. Oh, itu Jumat sore, saya tidak akan bisa mengejar waktu keberangkatan bis bila harus balik ke kos dulu. Kedua, telpon teman. Lagi-lagi, ini Jumat sore dan beberapa teman yang sempat terpikirkan oleh saya posisinya jauh dari saya semua, di luar Surabaya. Pilihan ketiga, yang saya kemudian saya pilih, adalah melanjutkan perjalanan ke agen Rosalia Indah. Tujuh ribu rupiah cukup untuk menyambung len dan bis kota. Sesampainya di Rosalia, saya bisa meminjam uang untuk ongkos bis pada siapapun yang saya temui di sana, toh ini hari Jumat dan saya kenal dengan sebagian besar penumpang reguler weekend Rosalia Indah. You know, Jemaah Rosalia Indah.

Selama perjalanan ke Bungur, saya menelpon call center dari beberapa bank. Saya baru ngeh bahwa ternyata call center yang (kebanyakan) lima digit itu ditujukan untuk fixed line. Untuk telpon dari HP ada nomor tersendiri. Untung ada google. Saya merasa jauh lebih tenang setelah berhasil mengeblok kartu-kartu ATM. Tapi, saya baru benar-benar tenang setelah berhasil mendapatkan pinjaman uang untuk membayar tiket bis. Bapak BI, terima kasih banyak, ya.

Seperti halnya pelangi yang muncul setelah hujan badai, ada satu hal menyenangkan dibalik semua hal menyebalkan yang terkait dengan kehilangan dompet. Selain bersungut-sungut melapor ke polisi, antri di bank, sowan pak RT, Pak RW, kelurahan dan seterusnya, saya lumayan bisa tersenyum karena saya jadi bisa beli dompet baru. Oh, saya tahu ini cethek banget. Tapi, bagi saya yang malam sebelumnya menahan diri untuk tidak membeli dompet, kejadian ini adalah legalisasi atas keinginan saya itu.

Ketika saya di rumah, ada telpon masuk dari nomor asing. Setelah beliau memperkenalkan diri, ternyata beliau adalah sopir len jalur S yeng menemukan kartu ATM dan KTP saya di bawah meja lennya ketika sedang bebersih. Bisa, ya, saya kehilangan di len jalur E tapi dompet saya ditemukan di len jalur S, yang mana kedua jalur itu tidak ada titik temunya blas. Singkat kata kami janjian bertemu di depan DTC (yang mana saya belum pernah ke sana sekali pun) untuk serah terima dompet.

Tadi malam, saya chat dengan teman saya. Dia mengingatkan saya untuk waspada, mengingat temannya pernah mengalami pemalakan oleh orang yang menemukan STNKnya, di Surabaya. Ya, intinya yang menemukan barang itu memasang tarif uang-terima-kasih yang tinggi. Saya yang clueless ini akhirnya cuma bisa berdoa semoga Bapak Yani yang menemukan dompet saya adalah orang baik. Saya juga berusaha untuk terlihat tenang dan tangguh, plus mengeset pikiran saya untuk bernegosiasi.

Tadi pagi, saya langsung mangkal di depan DTC, sesampainya di Surabaya, untuk bertemu dengan Bapak Yani. Alhamdulillah, ternyata Bapak Yani orangnya baik. Beliau tidak mengatakan apapun tentang uang-terima-kasih, tapi malah minta maaf ketika menyerahkan amplop ke saya. Iya, amplop yang berisikan isi dompet saya (kecuali uang, tentu saja). Dan ternyata, len Pak Yani itu jalur F, bukan S. Ih, jauh, ya, telinga saya ini benar-benar, deh.

Yo, wis, lah. Saya kan sudah dibelikan dompet baru sama suami kemarin, jadi kartu-kartu yang pulang tanpa dompet itu sama sekali tidak membebani pikiran saya. KTP kembali saja saya sudah senang, yang berarti saya tidak harus mengurus surat pengantar dr RT sampai kecamatan untuk dapat KTP baru plus bisa menggunakan kembali jasa kartu debit yang saya miliki.

Tadi saya sudah ke BNI dan Bank Mandiri, happy. Semoga saya lebih waspada, ya, setelah ini. Amin.