Uncategorized

Imunisasi yang Tertunda

Saya membuat post ini spesial untuk Santi. Saya ceritakan lewat blog saja, mengingat entah kapan bisa ketemu dan ngobrol santai dengan dirinya. Keburu bahasan ini hilang dari ingatan saya yang kebangetan ini, kalau harus menunggu ketemu dulu.

Weekend lalu kami ke rumah sakit dalam rangka imunisasi MMR Sophie. TELAT BANGET. Saya baru kepikiran tentang hal ini bulan kemarin, ketika adik dan keponakan saya terdiagnosis infeksi campak jerman. Kami (waktu itu) merencanakan untuk berkunjung ke rumah mereka. Suami menanyakan apakah Sophie sudah mendapatkan imunisasi yang memberikan imunitas terhadap campak jerman. Saya ke-PD-an menjawab sudah, karena seingat saya semua imunisasi Sophie sampai 2 tahun sudah beres, termasuk MMR. Yeah, ingatan saya, gitu, lho. MMR terlewat, ternyata.

Dulu sebelum boyongan ke Surabaya saya merencanakan untuk mencari DSA yang mau memberikan imunisasi simultan, biar sekali jalan beres semua. Dan itulah yang saya minta ketika saya membawa Sophie ke klinik DSA-yang-maaf-saya-lupa-namanya di usia 15 bulan, minta varicella dan MMR sekaligus. Rencananya seperti itu. Tapi, Pak DSA-yang-maaf-saya-lupa-namanya itu menolak memberikan MMR waktu itu. Alasan beliau, Sophie belum lancar bicara (gemes, ya, bahwa ada DSA yang masih juga menghubungkan vaksin MMR dengan autisme. Tapi memang bapak DSA-yang-maaf-saya-lupa-namanya itu sudah sepuh banget, sih). Akhirnya, waktu itu Sophie hanya mendapatkan imunisasi varicella saja.

Entah bagaimana ceritanya kok yang nempel dalam ingatan saya adalah rencananya, bukan eksekusi dari rencana tersebut. Untungnya suami masih ingat bagian ini. Saya yang lupa sama sekali ini ngeyel bahwa Sophie sudah beres imunisasinya. Saya baru menyadari kekeliruan ingatan saya setelah suami mengirimkan foto buku imunisasi Sophie.

(Btw, ini adalah jadwal imunisasi rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia tahun 2011. Silakan di cek dengan buku imunisasi masing-masing, ya, ibu-ibu. Semoga yang siwer keliwat cuma saya seorang)

Kemudian kami mencari informasi tentang catch up immunization. Kesimpulan yang bisa kami ambil adalah imunisasi yang terlewat dapat diberikan secepatnya ketika kondisi anak sehat. Kami merencanakan untuk imunisasi di RSIA Bunda Arif, dengan bidan, seperti biasanya. Imunisasinya menunggu saya pulang, karena suami tidak PD sendirian mengantar Sophie di rumah sakit. Ndilalah pas saya pulang, kok, ya, Sophie demam. Kami menundanya.

Sejak pertama sepakat tentang imunisasi MMR ini saya dan suami setiap hari membicarakannya dengan Sophie, agar dia siap. Kami menyampaikan pada Sophie bahwa dia akan imunisasi di rumah sakit sekian hari lagi, agar badannya sehat. Vaksin nanti akan disuntikkan di lengannya, dan mungkin akan terasa sakit. Bila sakit, dia boleh menangis, tapi nangisnya jangan terlalu heboh, mbok malah muntah nantinya. Kami juga selalu mengatakan padanya bahwa dia adalah anak pemberani yang tidak takut diimunisasi.

“Nanti aku imunisasi di lumah sakit bial apa?”

“Imunisasi supaya Sophie sehat”

“Nanti sakit sedikit?”

“Iya, kalau sakit Sophie boleh nangis, kok”

“Nangisnya tidak kelas-kelas, ya, Ma?”

“Iya, nangisnya pelan-pelan saja supaya Sophie tidak muntah”

Percakapan semacam itu terjadi hampir setiap hari, bahkan ketika kami mengantri di ruang tunggu rumah sakit. Dan efektif, lho. Sophie masuk ke ruang bidan dengan gagah berani, mau bersalaman dengan Bu Bidan dan memainkan Ulil si boneka ulat. Sophie tidak menangis pas di suntik, malah. Setelah imunisasi selesai dia mengeluh beberapa kali kalau lengannya sakit, tetapi segala keluhan dan rasa sakitnya hilang setelah dia memainkan puzzle, hadiah dari saya untuk anak yang berani imunisasi.

Kasus Sophie, sih, gampang, ya. Dia hanya ketinggalan satu macam imunisasi sehingga bisa diberikan kapan saja tanpa harus  memikirkan interval  satu imunisasi ke imunisasi yang lain. Terus bagaimana kalau yang ketinggalan itu lebih dari satu macam imunisasi, katakanlah si anak baru mendapatkan (yang sebelum tahun 2011 dikategorikan) imunisasi wajib dan belum mendapatkan (yang sebelum tahun 2011 dikategorikan) imunisasi yang dianjurkan? Silakan berdiskusi dengan DSA kesayangan anda. Sebagai bahan diskusi, serba-serbi imunisasi dari CDC ini akan sangat membantu. Terus, kalau mau instan langsung simulasi jadwal catch up imunisasi anak, scheduler ini, dan ini bisa dicoba juga. Ya, maaf, saya mencomot scheduler dari depkes negara lain, lha wong web dinkes kita tidak memuat informasi ini.

Fyi, saya menganut paham kalau setuju tidak perlu ngotot memaksa dan kalau tidak setuju tidak usah menjelek-jelekkan dalam menjalani peran saya di dunia emak-emak. Begitupun pandangan saya tentang imunisasi. Saya memilih untuk memberikan imunisasi lengkap untuk anak saya. Dan saya menghormati pilihan ibu-ibu dan bapak-bapak semua, apapun itu.

Semoga bermanfaat.

Advertisements

2 thoughts on “Imunisasi yang Tertunda”

  1. thanks bun, info tentang catch up imunisasi lengkap banget. 🙂
    anak saya banyak ketinggalan imunisasi karena dari lahir sampai umur 3 bulan di daerah yang tidak terjamah imunisasi.. Sekarang, bener-bener dikejar, “better late than never” pokoknya..

    1. Sama-sama, senang bahwa apa yang saya tulis di blog bermanfaat, Mbak Utari. Bener banget, tuh, better late than never, demi kesehatan si kecil di masa depan. Setidaknya kita sudah berusaha, ya. Semoga si kecil selalu sehat dan ceria, Mbak. Salam kenal dari Purwokerto 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s