Uncategorized

Kesukaan Saya

Saya sering menjawab pertanyaan apakah film yang baru saja saya tonton bagus atau tidak dengan jawaban,

“Bagus, sih. Tapi aku tidak suka”

Rewel, ya. Hihihi…

Lah, bagaimana mungkin saya mengatakan Iron Man III atau Man of Steel tidak bagus, coba. Film-film itu jelas banget kalau dibuat dengan sungguh-sungguh. Niat dan eksekusinya kelihatan. Tapi, ya, namanya selera, mau bagaimana lagi. Makanya, teman nonton saya terheran-heran ketika saya bilang suka dengan Star Trek: Into Darkness kemarin. Sejak kapan suka film model begitu, tanyanya. Sejak ada Benedict Cumberbatch, jawab saya.

Film-film yang saya sukai itu tidak berasal dari satu genre. Saya kalau suka, ya, suka saja, tanpa melihat filmnya itu genre-nya apa. Saya suka 21 Grams, Babel, The Departed, Love Actually, Eternal Sunshine of the Spotless Mind, Man in Black, Lord of the Ring Trilogy, Before Sunrise dan Before Sunset, Bourne Trilogy, The Town, Tangled, Holiday, Breaking and Entering, Inside Man, Closer, Manchurian Candidate, Munich, Inglourious Basterd, Save House, Up, Constant Gardener, The Hurt Locker, Hotel Rwanda, Last King of Scotland, Little Miss Sunshine, Children of Men, A.I: Artificial Intelligence, Seven Pounds, dan banyak lagi.

Eh, kalau dilihat-lihat lagi dari daftar film yang saya suka itu, muncul nama-nama yang itu-lagi-itu-lagi, ya. Alejandro Gonzales Inarritu, Leonardo Dicaprio, Kate Winslet, Will Smith, Peter Jackson, Richard Linklater, Matt Damon, Ben Afflect, Jeremy Renner, Jude Law, Clive Owen, Denzel Washington, Steven Spielberg, Martin Scorsese. Saya ini model yang cenderung memilih nonton hasil karya seseorang yang sebelumnya saya suka, ya. Taste seseorang itu, mungkin, ya, berada di level yang relatif sama. Etapi tidak selalu begitu, sih. Meskipun saya suka banget dengan peran Jeremy Renner di The Hurt Locker dan The Town, saya kurang suka melihatnya di The Bourne Legacy (yang sungguh kebanting sama Matt Damon), apalagi di Hansel and Gretel: Witch Hunter yang aduh, Mas, kok, ya, segitunya, sih, anjloknya.

Saya yang tiba-tiba membicarakan tentang film ini dipersembahkan oleh No Country for Old Man yang saya tonton tadi malam. Saya amat menyukainya, terutama Javier Bardem. Sosok antagonis yang super menyebalkan sekaligus mengerikan. Eh, sepertinya penokohan si antagonis ini adalah salah satu hal yang saya nilai dari suatu film, lho. Semakin menyebalkan si antatagonis, ibaratnya dia diam saja sudah membuat saya sebel sampai ubun-ubun, semakin saya menyukai film itu. Selain Anton Chigurh di film ini, saya juga menemukan pola serupa di Star Trek: Into Darkness dengan Khan-nya.

Btw, Mas Cumberbatch ini ketika jadi tokoh protagonis di Sherlock sebenarnya menyebalkan juga, lho. Pengen njitak setiap kali melihatnya dengan segala ketengilannya itu. Tapi justru itu yang membuat saya s lebih menyukai versi serial TV dari pada versi layar lebarnya Mas Robert Downer Jr.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s