Uncategorized

Lima Tahun Bersamamu

Bojomu piye, Mbak? Wis persiapan sekolah meneh?”

“Wis nimbang-nimbang, sih. Tapi riil-e yo mengko, yen aku wis lulus”

“LAH, KAPAN BARENGE, MBAK? MOSOK GANTIAN SEKOLAH TERUS

*jleb*

*nangis di pojokan*

Iya, ya. Kalau dirasa-rasa, kok, ya, begini amat pernikahan kami. Lima tahun menikah, tapi suami di mana, istrinya di mana. Belum juga berkumpul, ini sudah ada wacana mencar-mencar lagi. Ck.

Iya, kami sudah bersama sebagai suami istri selama lima tahun per 29 Juli, hari ini.

Lima tahun yang tercecer di antara Purwokerto, Bangkok dan Surabaya. Lima tahun yang membuat saya sedikit mengerti tentang kesabaran dan perjuangan. Lima tahun dalam tempaan jarak  yang membuat kami sering ber-miskomunikasi.

Tapi, ya, tidak begitu-begitu amat, kok, pernikahan kami. Tidak melulu tentang miskomunikasi dan sedih-sedih, sepi-sepi itu. Banyak tawa yang terselip diantaranya. Rasanya masih seperti jaman pacaran yang kangen melulu itu. Kata-kata love you dan sejenisnya masih kami obral setiap harinya. Kami masih merayakan setiap pertemuan dengan keceriaan dan segala euforianya.

Dan, ya, kami belajar dari apa yang telah terjadi. Untuk saya, kalau sedang anyel, ya, jangan telpon dari pada cuma diam dan memancing suami untuk anyel juga.  Kalau sedang tidak mau mendengar yang panjang-lebar dan diulang-ulang, ya, tutup saja telponnya. Kalau sedang marah, ya, ingat-ingat saja betapa sepelenya semua itu.

Long distance love ini bukan sesuatu yang mudah, tapi dengan beberapa pengaturan (dan kelonggaran hati) tetap bisa dinikmati, kok. Tapi, kalau bisa memilih, ya, lebih enak bersama terus kemana-mana, pastinya.

Belakangan ini kami bercermin pada pernikahan kenalan kami yang sedang mengalami masalah. Kami belajar dari apa yang terjadi pada mereka bahwa love alone is not enough, seperti kata Manic Street Preachers. Untuk lebih tepatnya, love we knew when we were younger. Cinta yang meletup-letup, yang muncul dari daya tarik fisik atau kepribadian semata, yang sering dideskripsikan sebagai sensasi butterfly in stomach, you know it. Yes, that kind of love is not enough for a strong marriage, terlebih ketika mulai ada banyak isu baru yang sebelumnya tidak pernah ada yang perlu dipikirkan dalam pernikahan itu. Dari mereka kami mengerti bahwa demi suatu hubungan yang sehat, kedua pihak perlu menyesuaikan diri. Porsi it is me dan it is you-nya perlu diatur. Yang namanya tanggung jawab bersama, ya, dipikul bersama. Di sisi lain, kedua pihak juga harus bertumbuh. Lha, wong, sudah 30+, kok, ya, masa iya mau terus memandang hidup dari kaca mata ABG yang masih pengen having fun dan ignorant tiada batasnya. Ah, pengalaman orang lain memang guru yang berharga. Semoga Allah senantiasa menjauhkan kami dari hal seperti itu.

Melihat kembali lima tahun yang telah kami lewati ini, saya menyadari bahwa yang namanya “cinta” pada pasangan itu tumbuh adanya. Ber-evolusi. Saya tidak tahu apakah diksi yang saya gunakan tepat, tapi begitulah yang saya rasakan. Semakin ke sini, yang ada bukan lagi cinta yang meledak-ledak seperti saat muda dulu. Tapi lebih kepada rasa sayang yang tumbuh bersama respect ketika melihat kesehariannya, dirinya yang sesungguhnya. “Cinta” itu nyata dalam  caranya mengurus Sophie, menenangkan saya ketika saya bergejolak, sikapnya dalam menghadapi masalah, dan juga dorongan dan motivasinya agar saya terus bertumbuh.

Semoga suami juga merasakan “cinta” saya dalam keseharian saya.

Satu hal, saya percaya pada ilmu kebacut. Setelah lima tahun menikah, ada banyak hal dari suami yang dulunya belum nampak, hal-hal kecil, sekarang mulai kelihatan dengan jelas. Kok suami ternyata begini begitu. Dan tidak semuanya cocok dengan preferensi saya. Begitupun adanya saya di mata suami. Kalau sudah begini, saya kembalikan pada ilmu kebacut tadi. Yo wis kebacut dinikahi, ya sudah, lah. Dirombak sedikit-sedikit kalau bisa, kalau tidak, ya, terima saja. Lha, wong, ya, cuma hal-hal sepele seperti itu. Yang penting kepentingan bersama (yang lebih besar dan penting) masih bisa terus terakomodasi.

Selamat, ya, suami, kita lulus babak lima tahun pertama ini. Masih ada tahun-tahun yang akan datang dengan beraneka tantangan untuk kita, semoga kita juga bisa melaluinya dengan baik. Semoga kita selalu ingat bahwa apapun yang kita lakukan akan berefek pada Sophie (nah, lho, berat banget, kan?). Dan karena tahun ini kita mulai sadar tentang pentingnya menjaga kesehatan, please, stay active, eat more fruits-veggies and less gorengans. Kalau Howard Donald saja bisa tetap bugar, sehat dan ganteng di usia yang semakin matang (he’s getting better and better, actually), kamu juga bisa, Sayang 🙂

Image
Suami, ayo kita kembalikan berat badan kita ke timbangan jaman muda ini, yuk.

Kembali tentang masalah sekolah, saya yakin akan ada jalan. Sudahlah, saya tidak mau menambah beban pikiran saya dengan hal ini. Saya tidak mau nyicil pusing duluan.

PS: Soundtrack tahun ini adalah Beautiful World-nya Take That.  And I know that it’s you that’s stopping me from falling, crashing down, losing ground til I see you again. And you know, the sun will shine, and we will see there’s nothing standing in our way. Love will stand and never break, never thought this could be me. Do you feel what I feel? Everytime that you are near it’s a beautiful world.

Advertisements
Uncategorized

Ayo sekolah!

Hari pertama Sophie masuk sekolah tahun ini, 15 Juli lalu, diawali dengan drama terlambat gara-gara kami mbablas tidur setelah sahur. Terus, hari itu kami juga harus mengumpulkan pas foto Sophie ke kantor suami, sehingga kami mampir dulu ke studio foto sebelum ke sekolah. Telatnya tidak tanggung-tanggung, deh. Btw, ternyata susah banget, ya, membuat pas foto balita yang proper itu. Sophie yang biasanya suka saya foto, hari itu mengkeret karena atmosfer studio foto yang asing dan juga pembawaan om fotografer yang kurang child friendly. Setelah beberapa kali jepretan, akhirnya kami mendapatkan foto yang, yaaa, sedikit lebih baik dibanding pas foto Sophie di paspor, lah. Hahaha….

Sophie masih bersekolah di sekolah lamanya. Sekarang Sophie masuk kelas Bintang, dengan wali kelas Ibu Romy. Sophie sejak dulu memang cocok dengan Ibu Romy, sehingga so far semuanya lancar-lancar saja. Apa lagi, sekarang Sophie sekelas lagi dengan Ege dan Alghi, teman se-genk-nya sewaktu di kelas Pluto dulu. Kelas Bintang ini memang ditujukan untuk anak-anak yang per bulan Juli ini berusia 3t8b – 4t1b, yang kebetulan jumlahnya mencukupi untuk dibuatkan kelas tersendiri.

Selain faktor nyaman dengan wali kelas dan teman-temannya, Sophie juga lebih mudah beradaptasi di Kelas Bintang karena tidak ada efek keplayu guru di kelas sebelumnya. Sudah dua bulan terakhir ini Ibu Lastri, wali kelas Planet, bedrest karena hamil. Sophie dan teman-teman kelas Planet di handle sementara oleh Ibu Pri. Pergantian ini membuat bonding anak-anak dengan Ibu Lastri “terputus”, sehingga tidak ada sindrom lari ke kelas sebelumnya lagi seperti tahun kemarin.

Semenjak kami mengetahui pembagian kelas dua minggu sebelumnya, kami menyampaikan ke Sophie tentang hal itu, dengan harapan dia semangat berangkat sekolah. Alhamdulillah cara ini berhasil. Kata-kata anak besar dan seru masih punya daya jual yang kuat bagi Sophie, ternyata.

“Nanti Sophie sekolah di kelas ANAK BESAR, namanya kelas Bintang. Ibu guru Sophie nanti adalah Ibu Romy, terus sekelas lagi sama Ege dan Alghi. Ada banyak teman baru juga nanti. SERU banget, deh, nanti. Afida, Dimas dan teman-teman yang lain nanti kelasnya lain, ya”

“Kenapa aku tidak sekelas dengan Afida lagi?”

“Supaya Sophie dan Afida punya teman baru lagi, nanti. SERU, kok”

Sekarang, kalau sedang kumat isengnya, Sophie suka menyebut teman-teman di kelas Planetnya sekarang masuk ke kelas Pluto.

“Mama, sekalang Afida di kelas adik bayi”

“Hah, sama Ibu Yani lagi?”

“Tidak, Ma. Hahaha. Tadi bohongan. Afida, kan, sudah besal kayak aku”

Seminggu di kelas Bintang, Sophie sudah amat menjiwainya. Setiap kali kami memujinya setelah ia melakukan sesuatu yang baik, selalu, deh, keluar kata-kata berikut,

“Iya, aku, kan, sudah besal. SUDAH KELAS BINTANG. Aku sudah pintel titik-titik”

Silakan titik-titik tersebut diganti dengan hal yang baru dilakukannya. Katakanlah membuang sampah di tempat sampah, memasukkan baju kotor ke tempatnya, mengelap tumpahan air, dsb dst.

Image
bukan, ini bukan foto hari pertama Sophie di sekolah 🙂

Tahun ini kami sengaja tidak mengambil saragam sekolah, mengingat tahun lalu Sophie sama sekali tidak mau memakai seragamnya yang berbentuk celana itu. Nampaknya, tulisan saya yang ini menjadi jinx semata: setelahnya Sophie blas tidak mau memakai celana lagi.

Btw, apakah menuliskan Illiyina Sophia itu terlalu sulit, ya? Suami pas orientasi sekolah dulu kesulitan menemukan kelas Sophie karena tidak bisa menemukan nama Sophie di daftar nama murid per kelas. Setelah ditelusuri ulang, ternyata nama (yang mengacu ke) Sophie tertulis di baris pertama lho, dengan ejaan yang salah, tapi: Illiyani Shofia. Saya dan suami agak-agak deg-degan membayangkan masa depan yang terkait dengan penulisan nama ini, lho. Sophie itu anaknya galak banget kalau ada sesuatu yang menurutnya tidak benar. Kami, kok, membayangkan dia akan ngomel-ngomel bawel sama siapapun yang salah menuliskan namanya di kemudian hari. And so a lessson is learnt: nanti adiknya Sophie diberi nama yang gampang saja penulisannya, yang sekiranya semua orang bisa menuliskan (dan mengucapkan)nya dengan mudah.

Uncategorized

Penggunaan Skin Care dan Kosmetik pada Kehamilan

Tidak, saya tidak sedang hamil. Belum.

Saya menulis post ini atas permintaan seorang teman yang sedang merasa super buluk di trimester pertama kehamilannya. Teman saya ini sebelum hamil memiliki kulit mulus nan cantik, hasil dari perawatan dengan skin care premium yang harganya aduhai bener untuk ukuran kantong saya. Dia langsung menghentikan penggunaan skin care andalannya, juga kosmetik kesayangannya, begitu tahu kalau dia hamil. Semua itu gara-gara dia mendengar KATANYA skin care dan kosmetik itu bisa membahayakan janin.

Awalnya saya bengong menanggapi permintaan teman saya ini. Saya? Menulis tentang skin care dan kosmetik? Tidak salah, nih?

Jawaban teman saya membuat saya mingkem seketika.

“Lah, lo, kan, orang Farmasi, Tanti”

Baiklah, kalau sudah bawa-bawa Farmasi segala, saya tidak bisa ngeles lagi. Saya akan menuliskan perihal keamanan skin care dan kosmetik ini dari sudut pandang saya, ya. (Iya, yang ada embel-embel Farmasinya itu *lirik tajam si bumil yang bahkan namanya pun tidak boleh disebut*). Semoga saya bisa menjelaskan dengan bahasa yang mudah dipahami, karena alasan utama dari teman saya request hal ini ke saya adalah dia terintimidasi dengan bahasa-bahasa yang digunakan berbagai artikel yang dia dapatkan dari internet. Katanya, semakin banyak dia membaca malah semakin takut. Dia mau seseorang yang dia percaya membuat review untuknya, dengan gaya bahasa yang familiar baginya. Rejeki saya, anggap saja demikian.

Sebelum membahas aman/tidaknya produk skin care dan kosmetik bagi bumil dan bayinya, kita perlu tahu kenapa kulit bumil jadi kusam, berminyak dan berjerawat? Untuk kasus teman saya ini, penghentian penggunaan skin care andalannya secara mendadak adalah penyebabnya. Skin care itu kan bekerjanya secara sementara, ya. Dalam artian kalau sedang dipakai ya akan memberikan efek yang diharapkan, kalau tidak dipakai, ya, tidak berefek apa-apa. Pernah mendengar ketergantungan skin care tertentu dari dokter kulit? Sebenarnya ketergantungan itu terjadi juga pada hampir semua produk skin care yang kita pakai. Kalau kita bicara tentang penggunaan suatu senyawa pada tubuh kita, maka efek yang timbul itu bergantung pada seberapa banyak jumlah senyawa tersebut. Kebanyakan skin care dari dokter kulit  mengandung bahan yang lebih poten (lebih kuat) atau dosis yang lebih besar bila bahannya sama, dibandingkan skin care yang dijual bebas, sehingga efeknya lebih nampol dan bila dihentikan perubahan pada kulit akan lebih kentara. Selain efek penghentian penggunaan skin care, pada saat hamil terjadi perubahan komposisi hormon dalam tubuh yang bertanggungjawab terhadap munculnya berbagai gangguan pada kulit. Nah, karena situasi hormonal dalam tubuh akan menjadi normal kembali ketika proses kehamilan selesai, maka gangguan kulit yang menyebalkan itu akan hilang ketika si bayi sudah lahir. Jadi, cuma perlu modal sabar saja sampai melahirkan, sih, sebenarnya *siap-siap disambit bumil*

Jadi, bolehkan bumil memakai skin care dan kosmetik? Boleh, asal produk yang digunakan aman bagi janin. Terus, bagaimana kita tahu bahwa produk skin care dan kosmetik yang kita gunakan tidak berbahaya buat janin kita?

Pertama, mari kita cermati komposisi dari skin care yang kita gunakan. Bila kita masukkan kata kunci save skin care during pregnancy, maka google akan memberikan banyak nama dari senyawa komponen skin care (dan kosmetika juga) yang ditengarai tidak aman bagi janin dari berbagai sumber. Familiar dengan retinoid, asam salisilat, benzoil peroksida, hidrokuinon, dihidroksiaseton, paraben, ftalat, metilbenzena, formaldehida, fenilendiamin dan oksibenzona? Tapi apakah semua senyawa itu benar-benar berbahaya bagi janin? Salah satu pendekatan untuk menganalisa keamanan suatu bahan terhadap janin  adalah dengan menggunakan US FDA Pharmaceutical Pregnancy Category, mengingat beberapa bahan penyusun skin care juga bisa dikategorikan sebagai obat. Dari lima kategori dalam US FDA Pharmaceutical Pregnancy Category, idealnya bumil hanya menggunakan bahan-bahan yang masuk kategori A dan B saja. Dengan demikian, skin care dan kosmetik yang mengandung bahan yang masuk kategori X sama sekali tidak boleh digunakan, sedangkan kategori C dan D sebaiknya dihindari.

US FDA

Bila mengacu pada US FDA Pharmaceutical Pregnancy Category, dari deretan nama komponen aktif skin care yang saya tulis di paragraf sebelum ini, retinoid masuk kategori X, asam salisilat, benzoil peroksida dan hidrokuinon masuk kategori C, sedangkan sisanya belum diketahui masuk ke kategori mana.

XC

Terus, bagaimana dengan komponen skin care dan kosmetik yang belum dalam salah satu kategori US FDA Pharmaceutical Pregnancy Category tersebut? Keberadaan senyawa-senyawa tersebut dalam skin care memang kontroversial, dalam artian ada yang pro, tapi ada pula yang kontra. Bagi yang pro, senyawa-senyawa tersebut bisa digunakan karena FDA tidak mengkategorikannya sebagai bahan berbahaya, dan telah digunakan dalam jangka waktu yang panjang tanpa ada laporan efek samping terhadap janin. Bagi yang kontra, dasarnya adalah adanya beberapa penelitian yang menyebutkan bahwa senyawa tersebut berbahaya (walaupun kemudian diketahui bahwa penelitian tersebut dianggap tidak komprehensif, hanya menggunakan sedikit subyek uji sehingga tidak bisa dijadikan dasar untuk mengambil kesimpulan).

pro-kontra

Pihak yang kontra terhadap penggunaan komponen skin care yang masuk golongan ini seringkali menyarankan penggunaan bahan-bahan organik sebagai penggantinya. Bila kita memang percaya terhadap manfaat produk organik, tidak ada salahnya dicoba. Tapi, bumil dengan flek hitam  akibat perubahan hormonal saat hamil (melasma, mask of pregnancy) harus menghindari penggunaan produk skin care organik yang mengandung ekstrak kedelai. Senyawa fitoestrogen yang terkandung dalam kedelai dilaporkan malah memperparah kondisi flek hitam tersebut.

Yang kedua, cara penggunaan. Prinsipnya, semakin banyak suatu senyawa yang masuk ke darah bumil dan berinteraksi dengan janin, maka efek yang ditimbulkan akan lebih hebat juga. Secara umum, penggunaan topikal (dioleskan pada kulit) akan menghantarkan lebih sedikit bahan aktif ke dalam darah dibandingkan penggunaan oral (diminum).  Misalnya, efek birth defect yang parah dari  retinoid sejauh ini dilaporkan ditemukan hanya pada bumil yang menggunakannya secara oral. Karena retinoid ini adalah turunan vitamin A, maka hal yang sama juga berlaku untuk vitamin A dosis tinggi.

Sebenarnya, bahan skin care dan kosmetik yang jelas-jelas telah dinyatakan berbahaya dan sebaiknya dihindari oleh ibu hamil oleh otoritas pengawas obat itu hanya ada 4, yaitu retinoid, asam salisilat, benzoil peroksida dan hidrokuinon. Tapi, pilihan menjadi sulit ketika bahan-bahan tersebut saat ini sedang naik daun dan digunakan secara luas dalam banyak produk skin care. Hampir semua produk anti aging mengandung turunan retinoid, seperti halnya hampir semua produk facial wash yang menawarkan khasiat mild peeling dan/atau mencerahkan kulit mengandung asam salisilat. Terus, bagaimana?

Selalu ada pilihan, tentu saja. Bila memang tidak bisa tanpa skin care selama masa kehamilan, mungkin bisa mencoba produk pembersih yang mengandung asam glikolat (atau lazim disebut AHA, alpha hydroxy acid) , produk pelembab yang mengandung asam hyaluronat, produk sunscreen yang mengandung sunscreen fisik seperti titanium dioksida atau zink oksida. Untuk kosmetik, semua produk kosmetik mineral ditengarai aman untuk bumil.

Saya? Alhamdulillah kulit saya tidak bermasalah saat hamil dulu. Bahkan, saya merasa kulit saya berada di kondisi terbaiknya, ya, pada saat saya hamil itu. Saya sama sekali tidak menggunakan skin care saat itu (lha, wong, saya kenalan dengan skin care yang proper itu baru beberapa bulan belakangan ini). Semoga kalau suatu saat diberi amanah hamil lagi, kondisi kulit saya sebagus jaman hamil Sophie dulu, ya. Amin.

Hadeh, ini saya berasa mengerjakan tugas kuliah yang berbobot 1 SKS saja.  Oh, iya, saya juga mempersembahkan tulisan ini untuk Mbak Prita yang sedang menikmati kehamilan keduanya 🙂

Semoga bermanfaat.

Update: Khusus untuk senyawa-senyawa ftalat, hasil penelitian yang yang dipublikasikan akhir tahun lalu inimenarik untuk disimak. Penelitian tersebut membandingkan kadar metabolit ftalat pada urin ibu yang melahirkan bayi cukup umur dengan ibu yang melahirkan bayi prematur. Ternyata, kadar metabolit ftalat pada urin ibu yang melahirkan bayi prematur lebih tinggi dibandingkan kelompok yang melahirkan bayi cukup umur. Para peneliti kemudian menyimpulkan bahwa akumulasi ftalat pada ibu hamil meningkatkan risiko kelahiran prematur

Uncategorized

(Not) a Miss Ring-Ring

“Ma, teleponnya sudah dulu, ya”

“Sophie mau apa, sih?”

“Aku sayang Mama”

“Mama juga sayang sekali sama Sophie”

“Sampai jumpa lagi”

“Sampai jumpa, Sophie mau kemana?”

“Assalamu’alaikum”

“Wa’alaikumsalam”

Sejak kemarin, Sophie menambahkan AILOVYU sebelum menutup telepon. Meniru kebiasaan suami 😀

Happy me.

Iya, aku-sayang-mama plus ailovyu.

Lebay? Yes. That’s my toddler!

Uncategorized

Butuh Hiburan

Senin pagi yang gloomy. Badan harus disini sementara maunya kemana-mana. Pikiran harus waras untuk bisa fokus mengerjakan satu hal sementara banyak bener yang rebutan minta dipikirkan. Pengen nangis di pojokan!

Tapi, masa iya, sih, hawa negatif ini diikuti. Untuk mendongkrak mood, mari kita lihat foto kesayangan saya, yang hanya dengan melihatnya sudah membuat saya bahagia.

Dan selamat menjalankan ibadah puasa -mengikuti tradisi di Indonesia- mohon maaf bila ada salah, ya.

Image

Image

Image