Uncategorized

Penggunaan Skin Care dan Kosmetik pada Kehamilan

Tidak, saya tidak sedang hamil. Belum.

Saya menulis post ini atas permintaan seorang teman yang sedang merasa super buluk di trimester pertama kehamilannya. Teman saya ini sebelum hamil memiliki kulit mulus nan cantik, hasil dari perawatan dengan skin care premium yang harganya aduhai bener untuk ukuran kantong saya. Dia langsung menghentikan penggunaan skin care andalannya, juga kosmetik kesayangannya, begitu tahu kalau dia hamil. Semua itu gara-gara dia mendengar KATANYA skin care dan kosmetik itu bisa membahayakan janin.

Awalnya saya bengong menanggapi permintaan teman saya ini. Saya? Menulis tentang skin care dan kosmetik? Tidak salah, nih?

Jawaban teman saya membuat saya mingkem seketika.

“Lah, lo, kan, orang Farmasi, Tanti”

Baiklah, kalau sudah bawa-bawa Farmasi segala, saya tidak bisa ngeles lagi. Saya akan menuliskan perihal keamanan skin care dan kosmetik ini dari sudut pandang saya, ya. (Iya, yang ada embel-embel Farmasinya itu *lirik tajam si bumil yang bahkan namanya pun tidak boleh disebut*). Semoga saya bisa menjelaskan dengan bahasa yang mudah dipahami, karena alasan utama dari teman saya request hal ini ke saya adalah dia terintimidasi dengan bahasa-bahasa yang digunakan berbagai artikel yang dia dapatkan dari internet. Katanya, semakin banyak dia membaca malah semakin takut. Dia mau seseorang yang dia percaya membuat review untuknya, dengan gaya bahasa yang familiar baginya. Rejeki saya, anggap saja demikian.

Sebelum membahas aman/tidaknya produk skin care dan kosmetik bagi bumil dan bayinya, kita perlu tahu kenapa kulit bumil jadi kusam, berminyak dan berjerawat? Untuk kasus teman saya ini, penghentian penggunaan skin care andalannya secara mendadak adalah penyebabnya. Skin care itu kan bekerjanya secara sementara, ya. Dalam artian kalau sedang dipakai ya akan memberikan efek yang diharapkan, kalau tidak dipakai, ya, tidak berefek apa-apa. Pernah mendengar ketergantungan skin care tertentu dari dokter kulit? Sebenarnya ketergantungan itu terjadi juga pada hampir semua produk skin care yang kita pakai. Kalau kita bicara tentang penggunaan suatu senyawa pada tubuh kita, maka efek yang timbul itu bergantung pada seberapa banyak jumlah senyawa tersebut. Kebanyakan skin care dari dokter kulit  mengandung bahan yang lebih poten (lebih kuat) atau dosis yang lebih besar bila bahannya sama, dibandingkan skin care yang dijual bebas, sehingga efeknya lebih nampol dan bila dihentikan perubahan pada kulit akan lebih kentara. Selain efek penghentian penggunaan skin care, pada saat hamil terjadi perubahan komposisi hormon dalam tubuh yang bertanggungjawab terhadap munculnya berbagai gangguan pada kulit. Nah, karena situasi hormonal dalam tubuh akan menjadi normal kembali ketika proses kehamilan selesai, maka gangguan kulit yang menyebalkan itu akan hilang ketika si bayi sudah lahir. Jadi, cuma perlu modal sabar saja sampai melahirkan, sih, sebenarnya *siap-siap disambit bumil*

Jadi, bolehkan bumil memakai skin care dan kosmetik? Boleh, asal produk yang digunakan aman bagi janin. Terus, bagaimana kita tahu bahwa produk skin care dan kosmetik yang kita gunakan tidak berbahaya buat janin kita?

Pertama, mari kita cermati komposisi dari skin care yang kita gunakan. Bila kita masukkan kata kunci save skin care during pregnancy, maka google akan memberikan banyak nama dari senyawa komponen skin care (dan kosmetika juga) yang ditengarai tidak aman bagi janin dari berbagai sumber. Familiar dengan retinoid, asam salisilat, benzoil peroksida, hidrokuinon, dihidroksiaseton, paraben, ftalat, metilbenzena, formaldehida, fenilendiamin dan oksibenzona? Tapi apakah semua senyawa itu benar-benar berbahaya bagi janin? Salah satu pendekatan untuk menganalisa keamanan suatu bahan terhadap janin  adalah dengan menggunakan US FDA Pharmaceutical Pregnancy Category, mengingat beberapa bahan penyusun skin care juga bisa dikategorikan sebagai obat. Dari lima kategori dalam US FDA Pharmaceutical Pregnancy Category, idealnya bumil hanya menggunakan bahan-bahan yang masuk kategori A dan B saja. Dengan demikian, skin care dan kosmetik yang mengandung bahan yang masuk kategori X sama sekali tidak boleh digunakan, sedangkan kategori C dan D sebaiknya dihindari.

US FDA

Bila mengacu pada US FDA Pharmaceutical Pregnancy Category, dari deretan nama komponen aktif skin care yang saya tulis di paragraf sebelum ini, retinoid masuk kategori X, asam salisilat, benzoil peroksida dan hidrokuinon masuk kategori C, sedangkan sisanya belum diketahui masuk ke kategori mana.

XC

Terus, bagaimana dengan komponen skin care dan kosmetik yang belum dalam salah satu kategori US FDA Pharmaceutical Pregnancy Category tersebut? Keberadaan senyawa-senyawa tersebut dalam skin care memang kontroversial, dalam artian ada yang pro, tapi ada pula yang kontra. Bagi yang pro, senyawa-senyawa tersebut bisa digunakan karena FDA tidak mengkategorikannya sebagai bahan berbahaya, dan telah digunakan dalam jangka waktu yang panjang tanpa ada laporan efek samping terhadap janin. Bagi yang kontra, dasarnya adalah adanya beberapa penelitian yang menyebutkan bahwa senyawa tersebut berbahaya (walaupun kemudian diketahui bahwa penelitian tersebut dianggap tidak komprehensif, hanya menggunakan sedikit subyek uji sehingga tidak bisa dijadikan dasar untuk mengambil kesimpulan).

pro-kontra

Pihak yang kontra terhadap penggunaan komponen skin care yang masuk golongan ini seringkali menyarankan penggunaan bahan-bahan organik sebagai penggantinya. Bila kita memang percaya terhadap manfaat produk organik, tidak ada salahnya dicoba. Tapi, bumil dengan flek hitam  akibat perubahan hormonal saat hamil (melasma, mask of pregnancy) harus menghindari penggunaan produk skin care organik yang mengandung ekstrak kedelai. Senyawa fitoestrogen yang terkandung dalam kedelai dilaporkan malah memperparah kondisi flek hitam tersebut.

Yang kedua, cara penggunaan. Prinsipnya, semakin banyak suatu senyawa yang masuk ke darah bumil dan berinteraksi dengan janin, maka efek yang ditimbulkan akan lebih hebat juga. Secara umum, penggunaan topikal (dioleskan pada kulit) akan menghantarkan lebih sedikit bahan aktif ke dalam darah dibandingkan penggunaan oral (diminum).  Misalnya, efek birth defect yang parah dari  retinoid sejauh ini dilaporkan ditemukan hanya pada bumil yang menggunakannya secara oral. Karena retinoid ini adalah turunan vitamin A, maka hal yang sama juga berlaku untuk vitamin A dosis tinggi.

Sebenarnya, bahan skin care dan kosmetik yang jelas-jelas telah dinyatakan berbahaya dan sebaiknya dihindari oleh ibu hamil oleh otoritas pengawas obat itu hanya ada 4, yaitu retinoid, asam salisilat, benzoil peroksida dan hidrokuinon. Tapi, pilihan menjadi sulit ketika bahan-bahan tersebut saat ini sedang naik daun dan digunakan secara luas dalam banyak produk skin care. Hampir semua produk anti aging mengandung turunan retinoid, seperti halnya hampir semua produk facial wash yang menawarkan khasiat mild peeling dan/atau mencerahkan kulit mengandung asam salisilat. Terus, bagaimana?

Selalu ada pilihan, tentu saja. Bila memang tidak bisa tanpa skin care selama masa kehamilan, mungkin bisa mencoba produk pembersih yang mengandung asam glikolat (atau lazim disebut AHA, alpha hydroxy acid) , produk pelembab yang mengandung asam hyaluronat, produk sunscreen yang mengandung sunscreen fisik seperti titanium dioksida atau zink oksida. Untuk kosmetik, semua produk kosmetik mineral ditengarai aman untuk bumil.

Saya? Alhamdulillah kulit saya tidak bermasalah saat hamil dulu. Bahkan, saya merasa kulit saya berada di kondisi terbaiknya, ya, pada saat saya hamil itu. Saya sama sekali tidak menggunakan skin care saat itu (lha, wong, saya kenalan dengan skin care yang proper itu baru beberapa bulan belakangan ini). Semoga kalau suatu saat diberi amanah hamil lagi, kondisi kulit saya sebagus jaman hamil Sophie dulu, ya. Amin.

Hadeh, ini saya berasa mengerjakan tugas kuliah yang berbobot 1 SKS saja.  Oh, iya, saya juga mempersembahkan tulisan ini untuk Mbak Prita yang sedang menikmati kehamilan keduanya 🙂

Semoga bermanfaat.

Update: Khusus untuk senyawa-senyawa ftalat, hasil penelitian yang yang dipublikasikan akhir tahun lalu inimenarik untuk disimak. Penelitian tersebut membandingkan kadar metabolit ftalat pada urin ibu yang melahirkan bayi cukup umur dengan ibu yang melahirkan bayi prematur. Ternyata, kadar metabolit ftalat pada urin ibu yang melahirkan bayi prematur lebih tinggi dibandingkan kelompok yang melahirkan bayi cukup umur. Para peneliti kemudian menyimpulkan bahwa akumulasi ftalat pada ibu hamil meningkatkan risiko kelahiran prematur

Advertisements