Uncategorized

Anak Besar = Heels

“Siapa yang telpon tadi, Pa?”

“Mbak-mbak yang mau ngasih voucher”

“Vocel itu apa?”

“Sesuatu yang bisa ditukar dengan hadiah”

“Hadiahnya apa?”

“Sepatu buat Sophie, juga sepatu buat Mama”

Ah, what a sweet husband, he is. Memahami saya sebagai Mamak Payless.

“Aku mau sepatunya belwalna pink dan ada pitanya, Pa”

“Lho, Sophie kan sudah punya sepatu pink”

“Tapi sekalang aku mau yang ada haknya, yang tinggi”

Saat sesi telpon malam, suami setor percakapan ini ke saya. Kami lalu menanyakan pada Sophie kenapa ia menginginkan sepatu yang berhak tinggi, tapi kami tidak mendapatkan jawaban. Ketika suami sekilas menyinggung tentang sepatu berhak yang tidak nyaman untuk berlari-lari, si nona poni menjawab pasti,

“Gak apa-apa, aku kan sudah besal”

Oh, baiklah. Anak besar. Sip.

image
Si anak besar
Uncategorized

Gara-gara Satu SMS dan Captain Phillips

Bila ada kontes pemilihan Miss Spoiler, saya berpeluang memenangkannya.

Ini ceritanya saya sedang cari teman. Adakah di luar sana, selain saya, orang yang selalu membuka wikipedia sebelum nonton film? Atau selalu loncat ke bab terakhir setelah membaca 3 bab pertama suatu novel untuk mengetahui bagaimana suatu cerita berakhir, lalu kembali urut membaca bab 4 dan seterusnya sampai selesai? Atau buru-buru googling saat melihat tayangan Masterchef di Starworld untuk mengetahui siapa keluar di episode berapa dan siapa yang akhirnya menjadi juara?

Ada, kan, ya? KAN?

Apa hanya saya seorang yang seperti itu?

Kata teman-teman saya, kebiasaan saya ini aneh.

“Kenapa juga repot-repot mengikuti suatu cerita bila sudah tahu bagaimana nanti akhirnya”, tanya mereka. Entahlah, saya juga tidak tahu alasan pastinya. Yang jelas, dengan mengetahui  bagaimana akhir ceritanya membuat saya lebih menikmati suatu cerita disampaikan. Yang membedakan satu penulis dengan penulis lain, satu sutradara dengan sutradara lain, adalah bagaimana cara mereka bercerita. Satu ide bisa diceritakan dengan cara yang berbeda oleh setiap orang. Bagi saya, di situ lah letak keindahannya.

Aha, saya rasa akhirnya saya menemukan alasan kenapa saya suka intip-mengintip, ya, akhirnya.

Sayang sekali bahwa tidak ada kontes Miss Spoiler, ya, sejauh ini. 

Film yang terakhir saya tonton adalah Captain Phillips. Saya menyukainya. Jangan khawatir, saya ini model yang suka mendapat bocoran film, bukan yang suka membocorkannya. Saya tidak akan menulis jalan ceritanya di sini. Gara-gara mengecek wikipedia dari film ini, saya tahu bahwa ternyata bagi sebagian crew Maersk Alabama yang terlibat dalam peristiwa perompakan itu, Richard Phillips dan situasi yang sebenarnya tidak seperti yang digambarkan di film.

Captain Richard Phillips is no hero and the film is one big lie”, kata narasumber yang anonim itu.

There are 3 versions of this story: the truth, my version and yours. Saya membaca/mendengar kalimat tersebut entah di mana, yang jelas itu bukan kata-kata saya. Saya mengamininya. Ketika menghadapi suatu peristiwa, setiap orang yang terlibat akan memandang (dan akhirnya menceritakan)nya secara berbeda. Jelas, lah, setiap orang memandangnya dari sudut yang berbeda.

Saya menganggap, hal itu lah yang terjadi saat itu. Posisi Richard Phillips sebagai kapten kapal yang bertanggungjawab terhadap keseluruhan muatan, termasuk krunya, jelas akan merekam peristiwa perompakan itu secara berbeda dengan krunya yang yang seharusnya berada dalam lingkungan kerja yang aman. Wajar adanya.

Saya merasakan slengkring saat membaca lebih jauh tulisan di New York Post itu. Perbedaan pendapat Richard dan beberapa krunya jelas sekali tergambar di situ. Saya lalu ingat pada beberapa peristiwa yang belakangan ini saya alami. Memang, ya, semua orang itu pengennya tidak terlihat buruk/salah ketika mengalami sesuatu di mata orang lain. Dan sering kali, beberapa orang merasa bahwa dalam rangka terlihat tidak buruk itu, sah-sah saja memposisikan pihak lain sebagai yang lebih buruk. Richard ingin terlihat sebagai kapten yang baik, yang tetap tenang di saat kritis dan melindungi anak buahnya. Kru-krunya ingin memiliki imaji yang sama, dari posisi yang berbeda. Demikian pula sumber-patah-hati-saya (halah, curcol!)

Apapun perdebatan tentang nyata tidaknya kejadian yang digambarkan dalam film itu, hal itu tidak mengubah fakta bahwa Captain Phillips adalah film yang bagus.

Btw, ketika menonton film ini saya dan partner nonton saya sempat bengong, lho. Ada banyak anak-anak dan balita yang menonton. Padahal, film ini masuk ke kategori remaja (R 15?). Saya benar-benar tidak bisa memahami jalan pikiran orang tua yang mengijinkan anaknya menonton film yang tidak sesuai untuk anak-anak. Padahal, di jam yang sama, di studio sebelah ditayangkan Cloudy with a Chance of Meatball 2 yang mana adalah film keluarga, yang cocok untuk ditonton bersama sekeluarga. Demi apa balita nonton film thriller, coba? Apa mereka tidak pusing menjawab pertanyaan anak-anak mereka tentang pembajakan, kekerasan dan ketegangan sepanjang film itu, ya? Apa mereka tidak memikirkan “jejak” yang ditinggalkan film itu pada kejiwaan anak-anak mereka, the effect of that early exposure? Ah, semakin saya bertanya, semakin saya tidak tahu jawabannya.

Btw, saya mulai menulis post ini ketika ada SMS masuk ke inbox saya. Saya tidak tahu bagaimana harus menjawabnya. Saya menulis post ini, sambil sesekali menulis balasan SMS yang akhirnya saya hapus lagi, diselingi mandi dan beberes kamar. Setelah mikir ini-itu, pada akhirnya di titik ini saya sadar bahwa beberapa SMS (dan email, juga pesan whatsapp dan sejenisnya juga) yang lebih baik tidak dibalas. SMS yang tadi adalah salah satunya.

Uncategorized

Pendidikan Seks untuk Balita Level 2

Pertanyaan tentang bagaimana bayi lahir akhirnya keluar dari mulut Sophie kemarin.  Sophie yang menonton Tayo the Little Bus bersembunyi di belakang saya, sambil berkata bahwa dia takut. (Iya, Sophie selalu begini setiap kali ada adegan yang tegang/sedih di film yang sedang ditontonnya. Kadang dia bersembunyi di belakang punggung suami atau saya, atau lari ngumpet di kamar). Saya melihat ke TV dan melihat adegan Tayo sedang membantu ibu hamil yang sedang menangis, lalu mengantarnya ke rumah sakit.

Adegan selanjutnya, Tayo sudah kembali ke garasi dan bertemu teman-temannya.

“Ibu-ibunya tadi mana, Ma?”

“Ibu-ibu tadi sudah di rumah sakit, Soph”

“Kenapa tadi ibu-ibunya menangis?”

Ingin rasanya bilang, –ya bagaimana tidak menangis ketika kontraksi terjadi di jalan dan sendirian, Sophie? Sakit dan gugup luar biasa, tahu– Tapi, untung saya ingat bahwa jawaban semacam itu potensial membuat Sophie memiliki persepsi yang negatif tentang melahirkan.

“Karena ibu-ibu tadi mau melahirkan sendirian, dan masih di jalan. Untung ada Tayo yang mengantarnya ke rumah sakit”

“Kenapa halus diantal?”

“Karena ibu yang mau melahirkan biasanya sudah susah untuk berjalan sendiri. Apa lagi kalau rumah sakitnya jauh, kan, capek kalau jalan kaki sendiri”

“Kalau Mama dulu pas aku mau lahil diantal siapa ke lumah sakitnya?”

“Mama diantar Papa dulu. Sama, kan, ibu-ibu tadi diantar Tayo”

“Dedek bayi nanti kelual pelut lewat mana?”

“Di rumah sakit nanti adik bayi keluar dibantu dokter dan bidan”

Jawaban saya itu contek dari mayoclinic. Saya suka contoh pertanyaan dan jawaban sederhana yang ada di sana.

“Iya, setelah dedek bayi lahil telus nenen mamanya kaya aku dulu, ya, Ma”

Lega, Sophie tidak melanjutkan pertanyaan mendetail tentang jalan lahir adik bayi. Mungkin kebanyakan balita sudah bisa, ya, diterangkan tentang proses kelahiran bayi. Tapi saya merasa Sophie belum siap untuk itu. Lha wong anaknya suka takut sendiri pada hal-hal sepele, kok. Yang ada malah anaknya serem sendiri klo saya bercerita sekarang.

PS: pendidikan seks untuk balita level 1 di rumahliliput bisa dibaca di sini.

Uncategorized

Aku Anak Pembantu

Saya sedang menjemur cucian ketika Sophie menyusul ke atas sambil bersenandung lagu-entah-apa-yang-hanya-Allah-dan-dia-yang-tahu-sebenarnya.

“Aku boleh membantu, Ma?”

“Boleh. Sophie jemur yang kecil-kecil, ya. Di sebelah sini”

Beberapa saat kemudian, Sophie sibuk memilih kaos kaki dan underwear, lalu menumpuknya di jemuran terendah yang bisa dijangkaunya.

“Terima kasih sudah membantu Mama menjemur baju, ya, Soph”

“Sama-sama, Ma. Aku anak hebat membantu Mama. AKU ANAK PEMBANTU”

“Iya, Sophie anak YANG SUKA MEMBANTU, senang menolong”

Berbahasa yang baik itu memang bukan perkara mudah, ya, Soph. Masih banyak yang harus kita pelajari bersama 😀

Uncategorized

Sophie 4 Years Old: She Knows What She Wants

Hari Jumat lalu adalah hari ulang tahun Sophie yang ke empat. Bukan salah satu ulang tahun terbaiknya, karena suami keluar kota sampai malam dan saya baru bisa pulang malam juga. Untuk pertama kalinya Sophie pulang sekolah ditemani Mbah Sainah (dan Mbak Lia dan Mas Rizki). Tidak rewel, mau makan dan bermain bertiga (plus Adik Beryl dan Adik Kayla sore harinya).

Mama bangga, Nduk.

Ketika saya mengucapkan selamat ulang tahun sesampainya di rumah, Sophie menanyakan apakah saat itu hari ulang tahunnya. Namanya juga belum paham konsep hari, tanggal dan bulan, ya. Setelah saya jawab iya, Sophie meminta kue dan hadiah. Bagian kue, sih, gampang ya. Sophie menginginkan kue bernuansa pink. Apapun bentuk, ukuran ataupun hiasannya dia mau, asalkan pink. Bagian hadiah ini yang lumayan membingungkan baginya.

“Sophie mau hadiah apa?”

“Mmmm, apa, ya, Ma?”

“Lha Sophie sedang ingin apa?”

“Coba, Mama bilang hadiahnya apa saja. Nanti aku pilih”

“Sepeda?”

“Aku gak mau sepeda”

“Krayon?”

“Aku sudah punya krayon”

“Sepatu?”

“Kan aku sudah dibelikan Mama sepatu pink yang ada pitanya”

“Ayam lembut?”

“Ayam lembut bukan hadiah, Ma. Itu makanan”

“Hola hop?”

“Uangku sudah cukup, ya, Ma? Tapi kalo aku mau hola hop tangan kecil yang pink, belinya dimana dong”

Oh dear, that’s my problem, not yours 😀

Sophie selama ini menabung koin di celengen dengan tujuan untuk membeli hola hop. Dia menginginkan hola hop kecil untuk dimainkan di tangan, bukan di badan (saya tidak tahu apakah ada hola hop semacam itu, fyi :D).

“Besok kita coba cari di kota, ya”

Sampai akhirnya tertidur pun, Sophie belum memilih hadiah yang diinginkannya.

Saya dan suami memang tidak terlalu mementingkan tentang hadiah ulang tahun. Kalau Sophie meminta dan harganya masuk akal, ya, ayo dibeli. Atau Sophie pas sedang butuh sesuatu. Kalau anaknya tidak meminta dan tidak butuh apa-apa, ya, sudah lah.

Sabtunya, kami ke toko buku. Saya sejak awal sudah njanjeni Sophie untuk tidak membeli buku bertema princess. Anaknya, sih, awalnya bilang iya. Tapi nampaknya godaan pricessy thing terlalu kuat untuk anak 4 tahun, ya. Sophie langsung ndoprok di lorong buku anak, setelah beberapa saat dia mengacungkan buku berjudul Putri Salju.

“Mama, aku mau beli buku ini’

“Hari ini kita tidak membeli buku princess, Sophie”

“Tapi aku mau buku ini, Ma”

“Bagaimana kalau buku tentang hewan ini, Soph? Atau Strawberry Shortcake?”

” Aku mau buku ini, Ma. Untuk hadiah ulang tahunku”

Baiklah, karena ada embel-embel hadiah ulang tahun, saya mengijinkan Sophie membeli buku itu (walaupun saya beneran sudah eneg membacakam cerita semacam itu padanya). Selayaknya hadiah, Sophie meminta bukunya dibungkus yg rapi. Sophie memilih bungkus kado bermotif bunga dengan warna dominan pink.

Selamat menjadi anak berumur empat tahun, ya, Nduk. Semoga kesehatan, keceriaan, kecerdasan, kebaikan, kebahagiaan dan kebijaksanaan senantiasa dianugerahkan Allah sepanjang hidupmu.