Uncategorized

Pendidikan Seks untuk Balita Level 2

Pertanyaan tentang bagaimana bayi lahir akhirnya keluar dari mulut Sophie kemarin.  Sophie yang menonton Tayo the Little Bus bersembunyi di belakang saya, sambil berkata bahwa dia takut. (Iya, Sophie selalu begini setiap kali ada adegan yang tegang/sedih di film yang sedang ditontonnya. Kadang dia bersembunyi di belakang punggung suami atau saya, atau lari ngumpet di kamar). Saya melihat ke TV dan melihat adegan Tayo sedang membantu ibu hamil yang sedang menangis, lalu mengantarnya ke rumah sakit.

Adegan selanjutnya, Tayo sudah kembali ke garasi dan bertemu teman-temannya.

“Ibu-ibunya tadi mana, Ma?”

“Ibu-ibu tadi sudah di rumah sakit, Soph”

“Kenapa tadi ibu-ibunya menangis?”

Ingin rasanya bilang, –ya bagaimana tidak menangis ketika kontraksi terjadi di jalan dan sendirian, Sophie? Sakit dan gugup luar biasa, tahu– Tapi, untung saya ingat bahwa jawaban semacam itu potensial membuat Sophie memiliki persepsi yang negatif tentang melahirkan.

“Karena ibu-ibu tadi mau melahirkan sendirian, dan masih di jalan. Untung ada Tayo yang mengantarnya ke rumah sakit”

“Kenapa halus diantal?”

“Karena ibu yang mau melahirkan biasanya sudah susah untuk berjalan sendiri. Apa lagi kalau rumah sakitnya jauh, kan, capek kalau jalan kaki sendiri”

“Kalau Mama dulu pas aku mau lahil diantal siapa ke lumah sakitnya?”

“Mama diantar Papa dulu. Sama, kan, ibu-ibu tadi diantar Tayo”

“Dedek bayi nanti kelual pelut lewat mana?”

“Di rumah sakit nanti adik bayi keluar dibantu dokter dan bidan”

Jawaban saya itu contek dari mayoclinic. Saya suka contoh pertanyaan dan jawaban sederhana yang ada di sana.

“Iya, setelah dedek bayi lahil telus nenen mamanya kaya aku dulu, ya, Ma”

Lega, Sophie tidak melanjutkan pertanyaan mendetail tentang jalan lahir adik bayi. Mungkin kebanyakan balita sudah bisa, ya, diterangkan tentang proses kelahiran bayi. Tapi saya merasa Sophie belum siap untuk itu. Lha wong anaknya suka takut sendiri pada hal-hal sepele, kok. Yang ada malah anaknya serem sendiri klo saya bercerita sekarang.

PS: pendidikan seks untuk balita level 1 di rumahliliput bisa dibaca di sini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s