Uncategorized

Gara-gara Satu SMS dan Captain Phillips

Bila ada kontes pemilihan Miss Spoiler, saya berpeluang memenangkannya.

Ini ceritanya saya sedang cari teman. Adakah di luar sana, selain saya, orang yang selalu membuka wikipedia sebelum nonton film? Atau selalu loncat ke bab terakhir setelah membaca 3 bab pertama suatu novel untuk mengetahui bagaimana suatu cerita berakhir, lalu kembali urut membaca bab 4 dan seterusnya sampai selesai? Atau buru-buru googling saat melihat tayangan Masterchef di Starworld untuk mengetahui siapa keluar di episode berapa dan siapa yang akhirnya menjadi juara?

Ada, kan, ya? KAN?

Apa hanya saya seorang yang seperti itu?

Kata teman-teman saya, kebiasaan saya ini aneh.

“Kenapa juga repot-repot mengikuti suatu cerita bila sudah tahu bagaimana nanti akhirnya”, tanya mereka. Entahlah, saya juga tidak tahu alasan pastinya. Yang jelas, dengan mengetahui  bagaimana akhir ceritanya membuat saya lebih menikmati suatu cerita disampaikan. Yang membedakan satu penulis dengan penulis lain, satu sutradara dengan sutradara lain, adalah bagaimana cara mereka bercerita. Satu ide bisa diceritakan dengan cara yang berbeda oleh setiap orang. Bagi saya, di situ lah letak keindahannya.

Aha, saya rasa akhirnya saya menemukan alasan kenapa saya suka intip-mengintip, ya, akhirnya.

Sayang sekali bahwa tidak ada kontes Miss Spoiler, ya, sejauh ini. 

Film yang terakhir saya tonton adalah Captain Phillips. Saya menyukainya. Jangan khawatir, saya ini model yang suka mendapat bocoran film, bukan yang suka membocorkannya. Saya tidak akan menulis jalan ceritanya di sini. Gara-gara mengecek wikipedia dari film ini, saya tahu bahwa ternyata bagi sebagian crew Maersk Alabama yang terlibat dalam peristiwa perompakan itu, Richard Phillips dan situasi yang sebenarnya tidak seperti yang digambarkan di film.

Captain Richard Phillips is no hero and the film is one big lie”, kata narasumber yang anonim itu.

There are 3 versions of this story: the truth, my version and yours. Saya membaca/mendengar kalimat tersebut entah di mana, yang jelas itu bukan kata-kata saya. Saya mengamininya. Ketika menghadapi suatu peristiwa, setiap orang yang terlibat akan memandang (dan akhirnya menceritakan)nya secara berbeda. Jelas, lah, setiap orang memandangnya dari sudut yang berbeda.

Saya menganggap, hal itu lah yang terjadi saat itu. Posisi Richard Phillips sebagai kapten kapal yang bertanggungjawab terhadap keseluruhan muatan, termasuk krunya, jelas akan merekam peristiwa perompakan itu secara berbeda dengan krunya yang yang seharusnya berada dalam lingkungan kerja yang aman. Wajar adanya.

Saya merasakan slengkring saat membaca lebih jauh tulisan di New York Post itu. Perbedaan pendapat Richard dan beberapa krunya jelas sekali tergambar di situ. Saya lalu ingat pada beberapa peristiwa yang belakangan ini saya alami. Memang, ya, semua orang itu pengennya tidak terlihat buruk/salah ketika mengalami sesuatu di mata orang lain. Dan sering kali, beberapa orang merasa bahwa dalam rangka terlihat tidak buruk itu, sah-sah saja memposisikan pihak lain sebagai yang lebih buruk. Richard ingin terlihat sebagai kapten yang baik, yang tetap tenang di saat kritis dan melindungi anak buahnya. Kru-krunya ingin memiliki imaji yang sama, dari posisi yang berbeda. Demikian pula sumber-patah-hati-saya (halah, curcol!)

Apapun perdebatan tentang nyata tidaknya kejadian yang digambarkan dalam film itu, hal itu tidak mengubah fakta bahwa Captain Phillips adalah film yang bagus.

Btw, ketika menonton film ini saya dan partner nonton saya sempat bengong, lho. Ada banyak anak-anak dan balita yang menonton. Padahal, film ini masuk ke kategori remaja (R 15?). Saya benar-benar tidak bisa memahami jalan pikiran orang tua yang mengijinkan anaknya menonton film yang tidak sesuai untuk anak-anak. Padahal, di jam yang sama, di studio sebelah ditayangkan Cloudy with a Chance of Meatball 2 yang mana adalah film keluarga, yang cocok untuk ditonton bersama sekeluarga. Demi apa balita nonton film thriller, coba? Apa mereka tidak pusing menjawab pertanyaan anak-anak mereka tentang pembajakan, kekerasan dan ketegangan sepanjang film itu, ya? Apa mereka tidak memikirkan “jejak” yang ditinggalkan film itu pada kejiwaan anak-anak mereka, the effect of that early exposure? Ah, semakin saya bertanya, semakin saya tidak tahu jawabannya.

Btw, saya mulai menulis post ini ketika ada SMS masuk ke inbox saya. Saya tidak tahu bagaimana harus menjawabnya. Saya menulis post ini, sambil sesekali menulis balasan SMS yang akhirnya saya hapus lagi, diselingi mandi dan beberes kamar. Setelah mikir ini-itu, pada akhirnya di titik ini saya sadar bahwa beberapa SMS (dan email, juga pesan whatsapp dan sejenisnya juga) yang lebih baik tidak dibalas. SMS yang tadi adalah salah satunya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s