Sophie, Uncategorized

Bahasa Gado-gado

Bertahun-tahun yang lalu saya mengerenyitkan dahi saat mendengar sepupu teman saya bicara yang berusia balita dengan menggunakan bahasa indonesia dan bahasa inggris dalam satu kalimat. Saya yang saat itu belum menikah (dan tidak punya bayangan sama sekali tentang perkembangan bahasa balita) membatin, duh Gusti, kalau boleh minta anak saya nanti jangan seperti itu, deh.

Dan sekali lagi, sengit ndulit, saudara-saudara.

Belakangan ini saya mendapati Sophie berbicara dengan mencampur bahasa indonesia dan bahasa inggris. Semoga Allah dan tante teman saya memaafkan saya.

“Wow,ada gambal lebit sama dok

Saya hanya bengong tanpa tahu harus berkomentar apa saat mendengar Sophie mengucapkan kalimat gado-gadonya itu sambil memegang majalah yang sampulnya bergambar kelinci dan anjing. Setelah terdiam beberapa saat, saya mengulang kalimatnya dalam bahasa indonesia. Refleks saja, sih, saya melakukannya. Mungkin itu adalah cerminan alam bawah sadar saya yang menginginkan Sophie berbicara dengan bahasa yang baik, ya. Hahaha!

“Iya, gambar kelinci dan anjingnya bagus, ya”

Tapiii, entah bagaimana mekanismenya, semakin ke sini saya lebih bisa menerima bahasa gado-gado ini dibandingkan di masa lalu. Setelah merasakan kejadian pada anak sendiri, rasanya tidak terlalu mengerikan, kok. Bukan sesuatu yang ideal, memang, tapi namanya juga baru belajar, kan, ya. Mungkin ini yang namanya realistis. Sophie bersekolah di sekolah yang mengajarkan bahasa inggris, menonton acara TV yang sebagian besar dalam bahasa inggris, saya dan suami kadang juga bicara dalam bahasa inggris di rumah, jadi, ya, wajar, lah kalau Sophie ikut-ikutan bicara dalam bahasa inggris. Tidak apa-apa, semoga dengan bertambahnya umur Sophie, kami bisa menata bahasa lesannya dengan lebih baik. Lagi pula, kalimat gado-gado Sophie ini masih jarang-jarang munculnya. Tidak apa-apa.

Efek dari kemampuan Sophie yang baru ini adalah, saya dan suami harus lebih kreatif mencari kode baru. Selama ini, kami berbicara dalam bahasa inggris ketika sedang membicarakan sesuatu yang kami tidak ingin diketahui oleh Sophie.

Let’s take a longer way so Sophie can sleep before we get home“, kata saya pada suami, sambil memeluk Sophie yang sudah kriyep-kriyep di pangkuan saya.

“Aku gak mau bobok!”

Saya dan suami hanya bisa tertawa mendengar teriakan Sophie itu. Dan, ya, Sophie tidak jadi tidur siang, tentu saja.

***  ***

Sophie mengenal bahasa inggris dari dua sumber utama, sekolah dan TV. Di sekolah, karena namanya juga pengenalan, Sophie belajar tentang nama-nama benda dalam bahasa inggris. Jadi tahunya, ya, kata demi kata. Selama ini, Sophie sering mengajari orang-orang disekitarnya (yang berarti suami, saya atau Adik Beryl) tentang kosa kata yang baru didapatnya dari sekolah.

Stal itu bintang. Mun, bulan. Kalau san itu matahali”, semacam itu, lah.

Memang, Sophie memiliki ketertarikan yang besar dalam hal bahasa. Untuk bahasa indonesia, Sophie selalu menanyakan kata-kata baru yang belum diketahuinya, baik saat membaca buku ataupun menonton TV. Sombong, harta karun, beruntung, dan dapat adalah beberapa kata yang ditanyakan artinya oleh Sophie, yang sukses membuat saya dan suami pandang-pandangan menunggu siapa yang mau menjawab. Di momen-momen seperti itu, sungguh saya berharap punya KBBI di rumah. Tinggal dibuka dan dibacakan, bebas pusing.

Tapi, pemegang gelar juara untuk kategori kata-rumit-untuk-dijelaskan adalah jatuh sakit, yang ada dalam kalimat, blah blah blah, lalu putri bungsu jatuh sakit. Susah, bok, menjelaskan pada anak 4 tahun yang ketika kalimat itu saya bacakan langsung nyerocos,

“Jatuh sakit itu apa, Ma? Oh, aku tahu. Puti duyung bungsu jatuh telus sakit, ya? Yang sakit apanya, Ma? Kenapa jatuh? Jatuh di mana?”

Oh….

Akhir pekan lalu, Sophie mulai meminta saya untuk menerjemahkan kata-kata yang yang bisa ditangkapnya saat menonton Hi5. Baru juga sampai lagu pembuka, Sophie sudah melontarkan serentetan kalimat yang membuat saya mau tidak mau ikut menyimak TV jadinya.

“Ma, el o fi i itu altinya apa? Kalau a lov yu en yu lov mi, apa? Dis is ho wi min to bi itu apa?”

Semester ini  sekolah Sophie memiliki program baru, namanya Javanese Day. Ketika Javanese Day berlangsung sebulan sekali, semua penghuni sekolah berpakaian dengan atribut Jawa (batik, kebaya, atau lurik), makan makanan ringan yang khas Jawa dan menggunakan bahasa jawa sebagai bahasa pengantar di kelas maupun berkomunikasi di luar kelas. Program ini efektif menambahkan beberapa kosakata dalam bahasa Jawa dalam kamus besar Sophie. Setelah berjalan beberapa kali, Sophie familiar dengan kata-kata sampun, dereng, nggih dan mboten. Seminggu setelah Javanese Day, Sophie bisa menggunakan kata-kata tersebut di rumah, meskipun menurut suami, kata-kata itu terdengar kering di mulut Sophie. Aneh, hahaha!

Beberapa hari terakhir ini, Sophie juga menggunakan lombok dan endog untuk menyebut cabe dan telur. Oh, tentu saja dengan penekanan pada huruf k dan g nya. Lombok dan endog.  Anak Karanggintung sejati, hahaha!

Tidak ada yang salah dengan anak jaman sekarang yang sedang belajar. Begitu, bukan?

Advertisements