Uncategorized

Tentang Sebuah Keputusan

Saya ingin berbagi dua foto yang amat cantik. Foto pertama adalah stasiun Purwokerto, yang kedua adalah kampus UMP. Yang istimewa dari kedua foto ini adalah bagaimana si fotografer mengambil foto tersebut dari ketinggian. Oh, tentu saja kedua foto itu bukan milik saya. Saya meminjamnya dari fanpage FB Purwokerto from Above. Bila anda menyukai foto-foto semacam ini, silakan mengunjungi laman FB tersebut. Ada beberapa landmark Purwokerto yang ditampilkan secara berbeda. Favorit saya, selain kedua foto yang saya pinjam ini, adalah foto Bendung Gerak Serayu. Cantik sekali.

Image

Image

Memang, ya, dengan segala keterbatasan mata kita, suatu obyek yang besar hanya bisa kita amati secara parsial. Dan semua hal yang teramati secara parsial ini seringkali akan terlihat berbeda ketika kita amati secara keseluruhan, sebagai suatu kesatuan. Perubahan cara pandang ini kemungkinan besar akan merubah pikiran kita tentang obyek tersebut. Gambaran menyeluruh dari suatu obyek yang besar ini hanya bisa kita dapatkan ketika kita memandangnya dari ketinggian.

Hal yang sama juga berlaku ketika kita memandang suatu masalah, saya kira.

Di awal film In Bruges, Ken mengajak Ray naik ke atas menara demi mendapatkan sensasi pemandangan Bruges dari ketinggian yang diyakininya lebih sensasional. Ray dengan sinis menolaknya, karena menurutnya untuk apa capek-capek naik ke atas ketika dia sudah bisa melihat pemandangan tersebut dari pelataran menara. Ken yang lebih tua, yang menyukai Bruges, yang merasa bahwa dirinya adalah turis sejati menginginkan imaji Bruges dari atas menara. Ray yang depresi, membenci Bruges dan terpilih sebagai turis terburuk versi Ken tidak melihat apa pentingnya naik tangga curam setinggi itu.

Bila saya menarik perdebatan perlu tidaknya naik ke atas menara ini ke dalamĀ konteks penyelesaian masalah, jelas terlihat bahwa seseorang yang “lebih” akan melihat permasalahannya secara lebih menyeluruh, tidak hanya berdasarkan apa yang teramati di depan matanya. Untuk bisa melihat keseluruhan masalah, diperlukan suatu kebijaksanaan, pengetahuan, keberanian atau pengalaman, sebagai analogi dari ketinggian.

Satu hal yang baru saya sadari, ada kalanya kita tidak berani untuk naik hanya karena takut dengan resikonya. Kita bertahan dengan keterbatasan penglihatan kita, hanya karena tidak ingin terpelanting dalam rangka mendapatkan ketinggian yang pas untuk mengamati masalah kita sebagai satu kesatuan. Kadang kita tidak juga mengusahakan untuk berada di “ketinggian” tersebut karena kita tidak punya alatnya, tidak tahu caranya. Dan untuk urusan ini, kita butuh orang lain. Orang lain untuk meminjamkan tangga (atau balon udara, pesawat atau loteng rumahnya) sekalian memegangi tangga (atau mengendalikan balon udara, mengemudikan pesawat atau mengantarkan kita ke loteng rumahnya) itu. Dan setelah itu, kita memiliki gambaran komprehensif dari masalah yang kita hadapi dan bisa memutuskan cara apa yang bisa kita gunakan untuk menyelesaikannya.

Dan saat ini, akhirnya, saya sampai di ketinggian yang memungkinkan saya untuk melihat permasalahan saya yang sebenarnya. Dengan bantuan orang lain, tentu saja.

Saya pun berpikir, kenapa saya butuh waktu yang amat lama untuk memutuskan hal ini. Saya tidak bisa menjelaskannya secara detail. Courage is not an everyday thing for me, apparently.

Advertisements