Uncategorized

Terapi Hipertensi

Disclaimer:  apa yang saya tuliskan di sini, utamanya, saya ambil dari medscape, dengan tambahan dari sana-sini. Kalau salah-salah dan tidak akurat, itu karena kekurangan saya dalam menginterpretasi dan menerjemahkannya. Untuk mendapatkan info lengkap yang komprehensif, silakan membaca langsung di sumbernya. Kalau anda termasuk tipe yang pusing sendiri saat membaca artikel dengan bahasa yang textbook banget dan ingin memposisikan diri sebagai pasien, versi mayoclinic ini lebih cocok untuk anda. Saya menulis ulang (sebagian kecil) tulisan yang sebenarnya bisa diakses dengan mudah oleh semua orang ini karena bagi beberapa orang yang membutuhkan informasi ini, membaca tulisan semacam itu sama sekali tidak menarik dan juga sulit dipahami. Kebetulan beberapa dari orang-orang tersebut adalah orang-orang yang saya sayangi. So, yes, i write this for them.

Sebenarnya, tekanan darah dikatakan tinggi kalau sudah berapa, sih?

Berdasarkan rekomendasi Seventh Report of the Joint National Committee on Prevention, Detection, Evaluation, and Treatment of High Blood Pressure (JNC7), klasifikasi tekanan darah untuk orang dewasa (18 tahun ke atas) adalah sebagai berikut:

klasifikasi TD

Inti dari tulisan ini adalah: bila masuk kategori normal  pertahankan gaya hidup saat ini, prehipertensi mulai modifikasi pola makan, stop merokok dan giat berolahraga, HT stage 1 dan 2 ditambah dengan rajin konsultasi dan taat dengan rencana pengobatan yang diberikan dokter. Singkatnya begitu, panjangnya , ya, silakan baca sampai selesai.

Bagaimana terapi untuk menurunkan tekanan darah bila seseorang didiagnonis hipertensi?

Tujuan terapi hipertensi adalah untuk mengurangi morbiditas dan mortalitas akibat kerusakan kardiovaskuler dan ginjal, dengan fokus mengendalikan TD sistolik (karena pada umumnya TD diastolik juga akan terkontrol seiring dengan terkontrolnya TD sistolik). Ada dua macam terapi untuk hipertensi, yaitu dengan obat dan tanpa obat. Terapi tanpa obat adalah dengan modifikasi gaya hidup.  JNC7 merekomendasikan hal-hal berikut ini untuk menurunkan tekanan darah, dengan penekanan bahwa dua atau lebih modifikasi gaya hidup akan memberikan hasil yang lebih baik:

  • Kurangi berat badan. Penurunan per 10 kg BB diperkirakan akan menurunkan tekanan darah sistolik  5-20 mm Hg. The European Society of Hypertension (ESH) dan  the European Society of Cardiology (ESC) menspesifikkan pengurangan berat badan ini ke dalam target indeks massa tubuh maksimal 25 dan lingkar pinggang kurang dari 102 cm pada pria dan kurang dari 88 cm pada wanita.
  • Batasi konsumsi alkohol. Untuk pria batasnya 30 mL etanol/hari, sedangkan untuk wanita sebesar 15 mL etanol/hari.  Volume total dari etanolnya, lho, ya, yang dihitung. Pembatasan sejumlah tersebut diperkirakan akan menurunkan tekanan darah sistolik 2-4 mm Hg
  • Kurangi konsumsi garam dapur hingga maksimal 6 g saja per hari. Jumlah ini setara dengan 1 sendok teh. Pembatasan intake natrium ini diperkirakan menurunkan tekanan darah sistolik sebesar 2-8 mm Hg
  • Cukupi kebutuhan kalium harian sebesar 90 mmol/hari, yang setara dengan 3,51 g/hari. Jumlah ini bisa dipenuhi oleh 9 buah pisang berukuran sedang,  4 buah kentang berukuran sedang, 4 buah alpukat berukuran sedang, 7 cup yoghurt, 8 cup jamur, atau 21 cup sayuran hijau. Jangan eneg dulu membaca banyaknya makanan kaya kalium yang dibutuhkan setiap harinya. Variasi makanan adalah solusinya. Untuk lebih mudah dan lebih enaknya, konsumsi saja makanan-makanan tersebut dalam porsi wajar setiap harinya
  • Cukupi kebutuhan kalsium (1000 mg/hari, bisa didapatkan dari susu dan produk turunannya,kacang-kacangan (termasuk kedelai, tentu saja) dan produk turunannya, wijen, ikan laut, oat, brokoli, bok choi, jeruk, dan rumput laut) dan magnesium (400 mg/hari, bisa didapatkan dari sayuran berdaun hijau tua, ikan laut, kedelai, beras merah, alpukat, susu segar, pisang, dan dark chocholate) untuk kesehatan secara umum
  • Berhenti merokok dan kurangi konsumsi lemak jenuh dan kolesterol  (ada dalam minyak goreng, mentega, lemah hewan, dark chocholate, minyak ikan, keju,daging olahan)
  • Lakukan latihan aerobik 30 menit sehari, setidaknya lima kali dalam seminggu. Lari, bersepeda, renang, senam, spinning, jalan kaki, whatever you love to do. Latihan aerobik diperkirakan dapat menurunkan tekanan darah sistolik 4-9 mm Hg.

Katanya ada terapi hipertensi dengan obat? Kok belum dibahas? Obatnya apa?

Berikut ini adalah panduan terapi dari JNC7:

  • Kelompok prehipertensi membutuhkan modifikasi gaya hidup seperti yang sudah diterangkan di bagian terapi tanpa obat untuk mencegah kenaikan tekanan darah yang progresif dan penyakit kardiovaskuler. Tidak perlu obat antihipertensi.
  • Untuk kebanyakan kasus hipertensi tanpa komplikasi, bisa menggunakan obat  diuretik thiazida (contoh obat dari golongan ini yang banyak digunakan: hydrochlorothiazide, dan chlorthalidone), baik secara sendiri maupun dalam kombinasi dengan obat dari golongan lain.
  • Untuk kasus khusus beresiko tinggi (ada komplikasi), lebih baik menggunakan obat antihipertensi dari golongan lain, misalnya angiotensin-converting enzyme inhibitor (ACE inhibitor, contohnya captopril, benazepril, enalapril, fosinopril, lisinopril, moexipril, perindopril, quinapril, ramipril dan trandolapril), angiotensin II receptor blocker (ARB, contohnya losartan, candesartan, eprosartan, irbesartan, olmesartan, telmisartan, dan valsartan), beta blocker (contohnya propanolol, acebutolol, atenolol, bisoprolol, metoprolol, nadolol, dan nebivolol), dan calcium channel blocker (contohnya amlodipin, diltiazem, felodipine, isradipine, nicardipine, nifedipine, nisoldipine, dan verapamil).
  • TD target untuk pasien hipertensi yang juga menderita diabetes atau penyakit ginjal kronis adalah 140/90 mm Hg atau  < 130/80 mm Hg. Hal ini bisa tercapai dengan penggunaan dua atau lebih obat antihipertensi secara simultan.
  • Pasien yang memiliki TD lebih dari 20 mm Hg di atas TD sistolik target atau lebih dari 10 mm Hg diatas TD diastolik target pada  awal terapi menggunakan dua obat antihipertensi, yang mana biasanya, salah satunya  adalah dari golongan diuretik thiazida.
  • Apapun jenis terapi yang digunakan, kemauan pasien untuk taat pada rencana terapi adalah faktor yang paling utama untuk mendukung keberhasilan terapi.

Memang, dokter (umumnya di Indonesia, lho) lah yang berwenang untuk menentukan obat bagi pasien. Tapi, pasien dan keluarganya juga wajib berpartisipasi dengan cara menceritakan sedetail mungkin perjalanan penyakit dan terapi yang sudah dijalani. Kenapa? Karena terapi perlu dievaluasi dan bisa berubah seiring dengan perjalanan penyakit. Masukan dari pasien (dan keluarganya) penting untuk tujuan ini. Apalagi bila berobatnya di klinik atau rumah sakit yang mana dokternya berganti-ganti. Medical record tidak menjamin dokter yang berbeda akan memberikan rencana pengobatan yang sama, lho. Kemudian, penting untuk mengetahui obat apa saja yang diberikan, cara penggunan, efek samping dan kegunaannya (bila perlu, mekanisme kerjanya bagaimana) sejelas mungkin. Bila dokter tidak memberikan informasi ini (apapun alasannya)atau anda ingin penjelasan lebih lanjut, tanyakahlah pada apoteker yang bertugas di apotek.

Bagaimana dengan obat herbal? Bisa tidak digunakan untuk mengobati hipertensi?

Penelitian tentang  obat herbal untuk menurunkan tekanan darah secara klinis belum banyak dilakukan. Sebaiknya obat herbal dikonsumsi ketika tekanan darah sedang tidak tinggi-tingginya,  jadi untuk tujuan pencegahan saja. Bila memang harus minum obat herbal ketika tekanan darah sedang tinggi, pastikan anda memberitahukannya kepada dokter yang merawat anda dan tetap mengkonsumsi obat antihipertensi yang diresepkan dokter. Sesuai sifatnya, obat herbal bekerja secara pelan, terkait dengan kandungan bahan aktifnya yang rendah. Jadi belum bisa diandalkan untuk mengendalikan tekanan darah pada kondisi kronis secara tunggal. Terkait dengan penggunaan obat herbal dan  obat antihipertensi secara  bersamaan ini, perlu diwaspadai kemungkinan interaksi antara keduanya. Itulah sebabnya kenapa penggunaan obat herbal pada hipertensi perlu diawasi oleh dokter.

Beberapa obat herbal telah diuji klinis untuk pengobatan hipertensi adalah bawang putih dan ginseng. Pada salah satu uji klinik, konsumsi 2,4 g serbuk bawang putih/hari bisa menurunkan TD sebesar 7/16 mm Hg. Studi lain tentang  efek bawang putih terhadap 47 penderita hipertensi  menunjukkan bahwa bahan herbal ini bisa menurunkan TD diastolik hingga 13 mm Hg, tetapi tidak menurunkan TD sistolik. Pada beberapa penelitian yang lain malah menunjukkan bahwa bawang putih sama sekali tidak menurunkan tekanan darah.Hasil yang variatif ini ternyata dipengaruhi oleh bentuk sediaan yang digunakan dalam penelitian tersebut. Senyawa aktif yang bisa menurunkan tekanan darah dalam bawang putih diketahui mudah rusak seiring dengan prosen penyiapan bentuk sediaan. Untuk mendapatkan manfaat yang optimal, sebaiknya bawang putih di konsumsi  dalam bentuk segar. Sementara itu, dalam sebuah uji klinik, konsumsi 4,5 g ginseng per hari bisa menurunkan TD sistolik signifikan setelah delapan minggu penggunaan. Ilustrasi ini jelas menunjukkan bahwa efek obat herbal itu tidak instan, butuh waktu yang lama.

Sirsak, seledri, teh, wortel, kedelai, rosela, lavender, kemangi, delima, lobak, wijen, dan coklat dilaporkan memiliki aktivitas hipotensif pada hewan coba. Berita baiknya adalah, kebanyakan dari bahan herbal tersebut adalah makanan yang biasa kita konsumsi sehari-hari. Mengkonsumsi bahan-bahan tersebut dalam jumlah yang wajar setiap hari mungkin bisa mengontrol tekanan darah dalam jangka panjang. Cara ini juga lebih menyenangkan dan nyaman dibandingkan harus minum ramuan ini -itu atau kapsul berbutir-butir, bukan?

Selanjutnya, ada beberapa bahan herbal yang tidak boleh dikonsumsi oleh pasien hipertensi karena diketahui memiliki efek samping meningkatkan tekanan darah. Herbal tersebut adalah jahe, licorice, yohimbine dan ginseng. Iya, benar. Ginseng bisa meningkatkan tekanan darah bila dikonsumsi secara berlebihan. Penulis artikel tersebut menggambarkannya sebagai efek dari abuse syndrom. See? Apapun bila digunakan secara berlebihan memiliki efek yang merugikan.

Semoga bermanfaat.

PS: Pembahasan tentang penggunaan herbal untuk pengobatan hipertensi bisa dibaca di sini, sini, sini, dan sini.

Uncategorized

Obsesi Hari Ini: Naik Gunung

Kami mendapatkan oleh-oleh kalender bergambar Gunung Fuji dari Binar. Sophie menyukainya, dan mendapatkan ide tentang apa yang ingin dilakukannya ketika ia besar nanti.

Oh, saya dan suami tertawa terus gara-gara keinginan Sophie itu. Please, somebody, tell me how to teach geography to my 4 years old baby girl. Saya dan suami lebih banyak menahan tawa dari pada memberikan pemahaman yang benar tentang subyek ini pada Sophie, nampaknya. 

“Aku mau ke gunung, lah. Aku mau naik gunung Fujiyama”

“Oh, ya. Boleh kok, kalau Sophie sudah besar”, jawab saya via telpon.

“Aku besar kalau umurku sudah 5 tahun, ya, Ma?”

“Bukan 5 tahun. Sophie boleh naik gunung kalau Sophie sudah kuat”

“Lima tahun belum kuat, ya?”

“Ya belum cukup kuat untuk naik gunung.  Agar kuat dan sehat, Sophie harus makan sayur dan buah yang banyak”

“Aku sekarang baru kuat sedikit, ya?”

Oh, dear, kuat sedikit, coba, bahasanya. Hahaha!

Pernah kejadian, Sophie tidak mau makan kangkung. Biasanya, kalau sudah tidak mau, ya, beneran tidak mau. Tapi kapan itu, Sophie mau dibujuk. Gara-gara apa? Gara-gara Gunung Fujiyama.

“Aku gak mau kangkungnya, Pa”

“Lho, katanya Sophie mau kuat biar bisa naik Gunung Fujiyama nanti”

“Oh, aku mau kangkungnya, dhing. Tapi sedikit”

Hahaha, akhirnya kami mendapatkan senjata yang bisa digunakan untuk membujuk Sophie makan sayur.

Beberapa malam yang lalu, Sophie kembali membicarakan tentang detail naik Gunung Fujiyama.

“Apa motor Papa bisa sampai Gunung Fujiyama? Aku takut terpeleset salju seperti di Miki, tapi. Kita nanti jalannya lewat yang saljunya sedikit saja biar gak terpeleset, ya, Pa. Kita bisa lewat yang banyak bunganya ini saja. Bunga apa ini namanya?”

Kita?

Bertiga?

Menurut Sophie, sih, iya. Naik gunung bertiga. Ide yang terlalu besar untuk suami.

“Nanti Papa sampai taman bunga saja, Sophie naik gunungnya sama Mama”

“Kenapa Papa tidak ikut naik gunung?”

“Karena Papa gendut dan tidak kuat naik gunung”

“Makanya  Papa makan buah dan sayur yang banyak, ya, biar kuat”

Rasakan, suami. Senjata makan tuan. Hahaha!

“Papa boleh tidak ikut naik, tapi aku nanti dijemput gasik, ya”

Hahaha! Nduk, naik gunung itu  beda sama berangkat sekolah, lho. Beda banget!

“Ma, nanti kalau aku segini tahun kita naik Gunung Fujiyama, ya”

“Tujuh tahun” kata suami menerjemahkan segini-nya Sophie.

“Mmm, kita lihat nanti, ya. Kalau di umur 7 tahun Sophie sudah kuat dan kita sudah punya  uang yang cukup, ya , boleh saja”

“Apa bayar, Ma?”

“Gunung Fujiyama itu jauh, Sophie. Kita harus membayar tiket pesawat untuk bisa sampai di sana”

Oh, how i love this kind of coversation.  Saya berharap suatu hari Sophie akan membaca post ini, dan kami akan melihat bersama apakah Sophie masih tetap Sophie yang sama, yang langsung menyukai sesuatu secara berlebihan, tapi tidak cukup sabar untuk mencari tahu lebih dalam sebelum merencanakan ini itu.

Meniru siapa, coba? *ngaca*

Uncategorized

Boy Band Jadul, Hari Ini

Ada satu masa dimana saya menyukai boy band asal UK. Kapan itu? Tentu saja saat mereka mendapatkan lampu sorot di panggung musik dunia, the glorious 90s. Hari-hari saya indah bersama mereka. Saya, si ABG yang belum kenalan sama beban hidup, yang menyenandungkan lagu-lagu sambil memandangi wajah-wajah imut mereka di majalah. Waktu kemudian berlalu. Satu demi satu boy band asal UK berguguran di awal 2000-an, ada yang benar-benar bubar, ada yang hanya hiatus sementara. Ruang yang mereka tinggalkan di diri saya perlahan digantikan oleh band-band yang lebih macho, yang benar-benar memainkan musiknya sendiri dan oleh mereka-mereka yang menulis lirik yang indah. Good songs for me are those with beautiful lyrics, still.

Waktu terus berlalu, sampai di suatu masa saya merasa bahwa telinga saya terlalu malas untuk mengikuti perkembangan musik dunia. Saya lebih banyak mendengarkan lagu-lagu yang sebelumnya saya sukai, atau kalaupun lagu baru biasanya dari penyayi  yang sebelumnya saya sukai lagunya. Menjadi tua bagi saya adalah, salah satunya, tidak mudah untuk menyukai musik jaman sekarang. Nah,dengan demikian jadilah lagu-lagu dari boy band UK rutin ada dalam play list harian saya.

Sore kemarin, teman ngelab saya yang masih ABG menanyakan lagu apa yang dimainkan oleh mp3 player saya. Bagus, katanya. It was 911’s The Day We Find Love. 

 Pertanyaan selanjutnya sungguh menunjukkan kesenjangan usia kami berdua,

“911 itu siapa, Mbak? Tahun berapa terkenalnya?”

Dari pada repot menerangkan, saya buka laman wikipedia tentang 911 dan saya sodorkan laptop padanya. Saya refleks tersenyum saat membaca baris pertama di introduction section, “911 (pronounced “nine one one”) are an English boy band bla bla bla…”

Are, lho. ARE.

911 reuni, ternyata. Juga 5ive, Boyzone dan East 17. Ah, East 17! Terhisteris 2013, lah, pokoknya!

Jadilah saya sejak pulang dari lab browsing sana-sini tentang empat boy band kesukaan saya jaman muda itu. Hal yang paling menyenangkan dari semua ini adalah saat membandingkan penampilan mereka di masa lalu dengan penampakan mereka belakangan ini.  Leg pertama vs leg kedua (atau leg ketiga untuk East 17). Saya beneran tidak bisa berhenti tersenyum semalaman ini gara-gara aktivitas konyol  saya itu.

OK, mari kita lihat 911. Dulu, saya paling suka sama Lee Brennan. Cute to the max. Secara keseluruhan, mereka bertiga di leg pertama dulu memang mengusung citra clean-cut boys, anak-anak manis. Dan sesungguhnya semua itu adalah pencitraan yang amat sukses. Di leg kedua, mereka mengaku kalau sebenarnya mereka tidak semanis yang terlihat. Dailymail mencatat pengakuan mereka, that they would stay up partying late and would wake up with a woman, or in any cases, woman who they didn’t know the names of.

I was a walking hormone”, kata Jimmy.

Are you, Jimmy? Dengan popularitas yang memudar dan tampang yang kata teman se-lab saya om-om-banget seperti ini?

Oh, saya sudah mendengarkan lagu baru mereka, 2 Hearts 1 Love. Dan tidak suka. 

Image

 

Terus, 5ive. Atau Five saja, lah, saya menuliskannya. Saya dulu paling suka J Brown. Sayangnya, J tidak bergabung dengan Five di leg kedua ini.  Masalah yang menyebabkan Five dulu bubar ternyata belum bisa selesai hingga sekarang. They are on their stadium tour now. Good luck.

Image

 

Boyzone sebenarnya hanya berhiatus sampai 2006. Tapi saya sama sekali tidak mendengar kabar mereka kembali aktif bernyanyi hingga kematian Stephen Gately.  Sepertinya mereka lumayan sukses pasca hiatus, terutama di Irlandia. Tidak banyak yg bisa dibicarakan dari Boyzone, yg jelas Ronan Keating versi dewasa itu ehem sekali. Begitu bukan, ibu-ibu? 

Image

 

Kebalikannya, saya punya banyak hal yang ingin saya tuliskan tentang East 17. Mereka adalah boy band favorit saya di masa itu. Terfavorit dari semua boy band yang ada. Di tahun 90an, mereka menulis (!) dan menyanyikan musik yang berbeda dari kebanyakan boy band.  Tony Mortimer, si penulis lagu, adalah favorit saya di masa lalu. Iya, Gary Barlow pun menulis sendiri lagu-lagunya untuk Take That, tapi Tony memasukkan unsur bengal-bengal nakal, bukan hanya cinta-cintaan yang manis-manis  (why oh why, most of girl was drawn to bad boy, once. But it doesn’t matter, since most of them will settle with the nice man as their husband).

Saya sempat patah hati ketika usaha mereka untuk bereuni kembali di 2006-2009 gagal dan semua anggota berpikir bahwa hal terbaik yang seharusnya mereka lakukan adalah tidak akan menyanyi bersama lagi sebagai band. Saya mengira bahwa East 17 telah menjadi bagian dari sejarah 90an yang telah mati, souvenir dari masa muda saya.

Makanya, tadi saya senang luar biasa menemukan fakta bahwa mereka telah bereuni, bahkan mengeluarkan album baru di 2012. They are a three piece band now, Brian Harvey is no longer with them on the lineup. Banyak yang telah berubah, baik secara fisik maupun musik. Secara umur, East 17 ini memang seangkatan dengan Take That, sih, ya. Mereka sudah 40an tahun sekarang ini, lebih tua dibandingkan 911, Five ataupun Boyzone.

Begitu pula musik yang mereka mainkan. Ketika mendengarkan Can’t Get You Off My Mind (Crazy) saya sempat bengong. Heh, ini East 17 atau Manic Street Preachers, sih? Beda amat.

Di Guardian, Tony menjelaskan perubahan ini, ”It gets to a point when you’re too old to be doing a certain type of music and I think we’re old enough to be the dads of the people making club music now. It would just feel wrong. We’re all parents as well and I’ve got a 17-year-old and a 19-year-old daughter and I know that no matter how much you kid yourself, kids that age do not think you’re cool

Brilliant as ever, he is. He launched his solo albom earlier this year, but it was not a big success then

Image

 

Jadi bagaimana, ibu-ibu? Lebih suka penampakan mereka semasa muda atau setelah dewasa ini? Kalau saya, jelas lebih suka penampilan masa kini mereka. Lebih matang.  Nampak seperti om-om? Yealah, mereka memang om-om kali. Kita pun sudah tante-tante, so, why bother?

Menutup posting konyol ini, tidak sreg rasanya bila tidak mengikutkan Take That, band favorit saya ini. Setelah membaca cerita proyek reuni beberapa boy band asal UK, tidak ada satu pun dari mereka yang menyamai  kesuksesan Take That. Not even close. And nobody looks better than these Manchester lads, hahaha!

Image

 

PS: Ada dua boy band asal UK yang saya tunggu kabar reuninya: Ultra dan Caught in the Act (yang setengah Belanda, sih, sebenarnya). 

Uncategorized

Current Love: Out of Eden Walk

Walking is falling forward. Each step we take is an arrested plunge, a collapse averted, a disaster braked. In this way, to walk becomes an act of faith. We perform it daily: a two-beat miracle—an iambic teetering, a holding on and letting go. For the next seven years I will plummet across the world

Narasi pembuka artikel Paul Salopek di NGM edisi Desember ini langsung menarik perhatian saya. Saya menyukai cara Paul menuliskan ceritanya, dengan keindahan bahasa dan foto-fotonya (tidak semua foto yang di NGM milik Paul, sih). Sebelumnya, saya membaca versi terjemahan bahasa Indonesia artikel ini di NGI. Indah juga, tapi tidak bisa disangkal bahwa versi bahasa Inggrisnya lebih nampol. Dan saya praktis jatuh cinta pada perjalanan Paul ini ketika mulai membaca outofedenwalk.com dan outofedenwalk.nationalgeographic.com. I love every bit of it. 

He’s doing such a great thing. Perjalanan dan cerita perjalanannya membangkitkan romantisme saya tentang konsep melihat dunia. Melihat hari ini dengan memahami masa lalu. Melihat masa depan dalam kerangka berpikir hari ini. Melihat potret kemanusiaan di masa lalu, hari ini dan proyeksinya di masa depan. Melihat dunia secara keseluruhan, sebagai satu kesatuan.

Membaca rekaman perjalanan Paul ini juga membuat saya semakin menyadari bahwa kita perlu mendokumentasikan perjalanan kita.  Rekaman perjalanan yang baik akan membantu kita melihat kembali apa yang sudah kita lewati, agar kita tahu seberapa jauh kita telah melangkah. Agar kita tahu progress yang kita alami, apa pun definisi dari progress itu. Dan di atas semua itu, rekaman perjalanan akan membantu kita untuk lebih bisa bersyukur. Dan, ya, hidup adalah perjalanan itu sendiri.  Life is our greatest journey.

Paul menjawab pena dan kertas ketika ditanya tentang the most powerful tool in documenting his journey. Hal ini menarik, bahwa dengan dukungan teknologi yang membuat segala sesuatunya lebih mudah, lebih cepat dan lebih praktis, Paul memilih pena dan kertas yang paling sederhana, yang paling tidak membutuhkan pendukung untuk bisa digunakan. Sesuatu untuk dipikirkan, ketika kita (atau saya saja, ya?) hidup dalam jajahan teknologi (atau lebih spesifiknya, internet),  bukan?

By walking, I am forced to slow down. The world blurs and flattens with speed. On foot there is clarity

Blur, flatten and clarity. What a statement, i love it. Keep walking and stay safe, Paul.

Uncategorized

Bagi Sophie, There’s No Place Like Home

Hari 1,2,3.

 “Kok rumah Mama kecil sekali? Kok kasurnya juga kecil?Kenapa kamar mandi Mama kecil sekali? Kenapa kamar mandi Mama tidak ada klosetnya? Kenapa Mama tidak punya nasi dan lauk? Kenapa?”

Hari 4,5,6.

“Kenapa Mama gak punya motor? Kenapa aku jalan kaki terus? Tapi aku suka naik becak dan angkot dan bis kota. Mama senang aku ikut ke Surabaya? Kenapa Mama senang aku ikut? Aku juga senang ikut Mama ke Surabaya.”

Hari 7,8.

“Rumah Karanggintungku ada tivinya, ada sofanya, ada kasurnya. Kasurnya besar, cukup buat aku, Papa dan Mama, cukup untuk guling-guling. Aku di sini brontokan semua, garuk-garuk terus kayak monyet”

Hari 9, di rumah.

“Aku senang sekali di rumah Karanggintung. Aku gak suka tinggal di Surabaya”

Btw, brontokan itu maksudnya adalah miliaria, pricky heat, alias keringat buntet. Kasihan benar rasanya melihat Sophie beruntusan sekujur badan, dari wajah sampai kaki gatal-gatal semua. Saking banyaknya, kalimat pertama yang diucapkan suami waktu pertama kali melihat Sophie adalah,

“Ayo pulang saja, Nok. Seminggu di Surabaya hidungmu jadi burik begitu”

Hahaha! Burik!

Indeed, there’s no place like home.