Uncategorized

Current Love: Out of Eden Walk

Walking is falling forward. Each step we take is an arrested plunge, a collapse averted, a disaster braked. In this way, to walk becomes an act of faith. We perform it daily: a two-beat miracle—an iambic teetering, a holding on and letting go. For the next seven years I will plummet across the world

Narasi pembuka artikel Paul Salopek di NGM edisi Desember ini langsung menarik perhatian saya. Saya menyukai cara Paul menuliskan ceritanya, dengan keindahan bahasa dan foto-fotonya (tidak semua foto yang di NGM milik Paul, sih). Sebelumnya, saya membaca versi terjemahan bahasa Indonesia artikel ini di NGI. Indah juga, tapi tidak bisa disangkal bahwa versi bahasa Inggrisnya lebih nampol. Dan saya praktis jatuh cinta pada perjalanan Paul ini ketika mulai membaca outofedenwalk.com dan outofedenwalk.nationalgeographic.com. I love every bit of it. 

He’s doing such a great thing. Perjalanan dan cerita perjalanannya membangkitkan romantisme saya tentang konsep melihat dunia. Melihat hari ini dengan memahami masa lalu. Melihat masa depan dalam kerangka berpikir hari ini. Melihat potret kemanusiaan di masa lalu, hari ini dan proyeksinya di masa depan. Melihat dunia secara keseluruhan, sebagai satu kesatuan.

Membaca rekaman perjalanan Paul ini juga membuat saya semakin menyadari bahwa kita perlu mendokumentasikan perjalanan kita.  Rekaman perjalanan yang baik akan membantu kita melihat kembali apa yang sudah kita lewati, agar kita tahu seberapa jauh kita telah melangkah. Agar kita tahu progress yang kita alami, apa pun definisi dari progress itu. Dan di atas semua itu, rekaman perjalanan akan membantu kita untuk lebih bisa bersyukur. Dan, ya, hidup adalah perjalanan itu sendiri.  Life is our greatest journey.

Paul menjawab pena dan kertas ketika ditanya tentang the most powerful tool in documenting his journey. Hal ini menarik, bahwa dengan dukungan teknologi yang membuat segala sesuatunya lebih mudah, lebih cepat dan lebih praktis, Paul memilih pena dan kertas yang paling sederhana, yang paling tidak membutuhkan pendukung untuk bisa digunakan. Sesuatu untuk dipikirkan, ketika kita (atau saya saja, ya?) hidup dalam jajahan teknologi (atau lebih spesifiknya, internet),  bukan?

By walking, I am forced to slow down. The world blurs and flattens with speed. On foot there is clarity

Blur, flatten and clarity. What a statement, i love it. Keep walking and stay safe, Paul.

Advertisements