Uncategorized

Boy Band Jadul, Hari Ini

Ada satu masa dimana saya menyukai boy band asal UK. Kapan itu? Tentu saja saat mereka mendapatkan lampu sorot di panggung musik dunia, the glorious 90s. Hari-hari saya indah bersama mereka. Saya, si ABG yang belum kenalan sama beban hidup, yang menyenandungkan lagu-lagu sambil memandangi wajah-wajah imut mereka di majalah. Waktu kemudian berlalu. Satu demi satu boy band asal UK berguguran di awal 2000-an, ada yang benar-benar bubar, ada yang hanya hiatus sementara. Ruang yang mereka tinggalkan di diri saya perlahan digantikan oleh band-band yang lebih macho, yang benar-benar memainkan musiknya sendiri dan oleh mereka-mereka yang menulis lirik yang indah. Good songs for me are those with beautiful lyrics, still.

Waktu terus berlalu, sampai di suatu masa saya merasa bahwa telinga saya terlalu malas untuk mengikuti perkembangan musik dunia. Saya lebih banyak mendengarkan lagu-lagu yang sebelumnya saya sukai, atau kalaupun lagu baru biasanya dari penyayi  yang sebelumnya saya sukai lagunya. Menjadi tua bagi saya adalah, salah satunya, tidak mudah untuk menyukai musik jaman sekarang. Nah,dengan demikian jadilah lagu-lagu dari boy band UK rutin ada dalam play list harian saya.

Sore kemarin, teman ngelab saya yang masih ABG menanyakan lagu apa yang dimainkan oleh mp3 player saya. Bagus, katanya. It was 911’s The Day We Find Love. 

 Pertanyaan selanjutnya sungguh menunjukkan kesenjangan usia kami berdua,

“911 itu siapa, Mbak? Tahun berapa terkenalnya?”

Dari pada repot menerangkan, saya buka laman wikipedia tentang 911 dan saya sodorkan laptop padanya. Saya refleks tersenyum saat membaca baris pertama di introduction section, “911 (pronounced “nine one one”) are an English boy band bla bla bla…”

Are, lho. ARE.

911 reuni, ternyata. Juga 5ive, Boyzone dan East 17. Ah, East 17! Terhisteris 2013, lah, pokoknya!

Jadilah saya sejak pulang dari lab browsing sana-sini tentang empat boy band kesukaan saya jaman muda itu. Hal yang paling menyenangkan dari semua ini adalah saat membandingkan penampilan mereka di masa lalu dengan penampakan mereka belakangan ini.  Leg pertama vs leg kedua (atau leg ketiga untuk East 17). Saya beneran tidak bisa berhenti tersenyum semalaman ini gara-gara aktivitas konyol  saya itu.

OK, mari kita lihat 911. Dulu, saya paling suka sama Lee Brennan. Cute to the max. Secara keseluruhan, mereka bertiga di leg pertama dulu memang mengusung citra clean-cut boys, anak-anak manis. Dan sesungguhnya semua itu adalah pencitraan yang amat sukses. Di leg kedua, mereka mengaku kalau sebenarnya mereka tidak semanis yang terlihat. Dailymail mencatat pengakuan mereka, that they would stay up partying late and would wake up with a woman, or in any cases, woman who they didn’t know the names of.

I was a walking hormone”, kata Jimmy.

Are you, Jimmy? Dengan popularitas yang memudar dan tampang yang kata teman se-lab saya om-om-banget seperti ini?

Oh, saya sudah mendengarkan lagu baru mereka, 2 Hearts 1 Love. Dan tidak suka. 

Image

 

Terus, 5ive. Atau Five saja, lah, saya menuliskannya. Saya dulu paling suka J Brown. Sayangnya, J tidak bergabung dengan Five di leg kedua ini.  Masalah yang menyebabkan Five dulu bubar ternyata belum bisa selesai hingga sekarang. They are on their stadium tour now. Good luck.

Image

 

Boyzone sebenarnya hanya berhiatus sampai 2006. Tapi saya sama sekali tidak mendengar kabar mereka kembali aktif bernyanyi hingga kematian Stephen Gately.  Sepertinya mereka lumayan sukses pasca hiatus, terutama di Irlandia. Tidak banyak yg bisa dibicarakan dari Boyzone, yg jelas Ronan Keating versi dewasa itu ehem sekali. Begitu bukan, ibu-ibu? 

Image

 

Kebalikannya, saya punya banyak hal yang ingin saya tuliskan tentang East 17. Mereka adalah boy band favorit saya di masa itu. Terfavorit dari semua boy band yang ada. Di tahun 90an, mereka menulis (!) dan menyanyikan musik yang berbeda dari kebanyakan boy band.  Tony Mortimer, si penulis lagu, adalah favorit saya di masa lalu. Iya, Gary Barlow pun menulis sendiri lagu-lagunya untuk Take That, tapi Tony memasukkan unsur bengal-bengal nakal, bukan hanya cinta-cintaan yang manis-manis  (why oh why, most of girl was drawn to bad boy, once. But it doesn’t matter, since most of them will settle with the nice man as their husband).

Saya sempat patah hati ketika usaha mereka untuk bereuni kembali di 2006-2009 gagal dan semua anggota berpikir bahwa hal terbaik yang seharusnya mereka lakukan adalah tidak akan menyanyi bersama lagi sebagai band. Saya mengira bahwa East 17 telah menjadi bagian dari sejarah 90an yang telah mati, souvenir dari masa muda saya.

Makanya, tadi saya senang luar biasa menemukan fakta bahwa mereka telah bereuni, bahkan mengeluarkan album baru di 2012. They are a three piece band now, Brian Harvey is no longer with them on the lineup. Banyak yang telah berubah, baik secara fisik maupun musik. Secara umur, East 17 ini memang seangkatan dengan Take That, sih, ya. Mereka sudah 40an tahun sekarang ini, lebih tua dibandingkan 911, Five ataupun Boyzone.

Begitu pula musik yang mereka mainkan. Ketika mendengarkan Can’t Get You Off My Mind (Crazy) saya sempat bengong. Heh, ini East 17 atau Manic Street Preachers, sih? Beda amat.

Di Guardian, Tony menjelaskan perubahan ini, ”It gets to a point when you’re too old to be doing a certain type of music and I think we’re old enough to be the dads of the people making club music now. It would just feel wrong. We’re all parents as well and I’ve got a 17-year-old and a 19-year-old daughter and I know that no matter how much you kid yourself, kids that age do not think you’re cool

Brilliant as ever, he is. He launched his solo albom earlier this year, but it was not a big success then

Image

 

Jadi bagaimana, ibu-ibu? Lebih suka penampakan mereka semasa muda atau setelah dewasa ini? Kalau saya, jelas lebih suka penampilan masa kini mereka. Lebih matang.  Nampak seperti om-om? Yealah, mereka memang om-om kali. Kita pun sudah tante-tante, so, why bother?

Menutup posting konyol ini, tidak sreg rasanya bila tidak mengikutkan Take That, band favorit saya ini. Setelah membaca cerita proyek reuni beberapa boy band asal UK, tidak ada satu pun dari mereka yang menyamai  kesuksesan Take That. Not even close. And nobody looks better than these Manchester lads, hahaha!

Image

 

PS: Ada dua boy band asal UK yang saya tunggu kabar reuninya: Ultra dan Caught in the Act (yang setengah Belanda, sih, sebenarnya).