Uncategorized

Obsesi Hari Ini: Naik Gunung

Kami mendapatkan oleh-oleh kalender bergambar Gunung Fuji dari Binar. Sophie menyukainya, dan mendapatkan ide tentang apa yang ingin dilakukannya ketika ia besar nanti.

Oh, saya dan suami tertawa terus gara-gara keinginan Sophie itu. Please, somebody, tell me how to teach geography to my 4 years old baby girl. Saya dan suami lebih banyak menahan tawa dari pada memberikan pemahaman yang benar tentang subyek ini pada Sophie, nampaknya. 

“Aku mau ke gunung, lah. Aku mau naik gunung Fujiyama”

“Oh, ya. Boleh kok, kalau Sophie sudah besar”, jawab saya via telpon.

“Aku besar kalau umurku sudah 5 tahun, ya, Ma?”

“Bukan 5 tahun. Sophie boleh naik gunung kalau Sophie sudah kuat”

“Lima tahun belum kuat, ya?”

“Ya belum cukup kuat untuk naik gunung.  Agar kuat dan sehat, Sophie harus makan sayur dan buah yang banyak”

“Aku sekarang baru kuat sedikit, ya?”

Oh, dear, kuat sedikit, coba, bahasanya. Hahaha!

Pernah kejadian, Sophie tidak mau makan kangkung. Biasanya, kalau sudah tidak mau, ya, beneran tidak mau. Tapi kapan itu, Sophie mau dibujuk. Gara-gara apa? Gara-gara Gunung Fujiyama.

“Aku gak mau kangkungnya, Pa”

“Lho, katanya Sophie mau kuat biar bisa naik Gunung Fujiyama nanti”

“Oh, aku mau kangkungnya, dhing. Tapi sedikit”

Hahaha, akhirnya kami mendapatkan senjata yang bisa digunakan untuk membujuk Sophie makan sayur.

Beberapa malam yang lalu, Sophie kembali membicarakan tentang detail naik Gunung Fujiyama.

“Apa motor Papa bisa sampai Gunung Fujiyama? Aku takut terpeleset salju seperti di Miki, tapi. Kita nanti jalannya lewat yang saljunya sedikit saja biar gak terpeleset, ya, Pa. Kita bisa lewat yang banyak bunganya ini saja. Bunga apa ini namanya?”

Kita?

Bertiga?

Menurut Sophie, sih, iya. Naik gunung bertiga. Ide yang terlalu besar untuk suami.

“Nanti Papa sampai taman bunga saja, Sophie naik gunungnya sama Mama”

“Kenapa Papa tidak ikut naik gunung?”

“Karena Papa gendut dan tidak kuat naik gunung”

“Makanya  Papa makan buah dan sayur yang banyak, ya, biar kuat”

Rasakan, suami. Senjata makan tuan. Hahaha!

“Papa boleh tidak ikut naik, tapi aku nanti dijemput gasik, ya”

Hahaha! Nduk, naik gunung itu  beda sama berangkat sekolah, lho. Beda banget!

“Ma, nanti kalau aku segini tahun kita naik Gunung Fujiyama, ya”

“Tujuh tahun” kata suami menerjemahkan segini-nya Sophie.

“Mmm, kita lihat nanti, ya. Kalau di umur 7 tahun Sophie sudah kuat dan kita sudah punya  uang yang cukup, ya , boleh saja”

“Apa bayar, Ma?”

“Gunung Fujiyama itu jauh, Sophie. Kita harus membayar tiket pesawat untuk bisa sampai di sana”

Oh, how i love this kind of coversation.  Saya berharap suatu hari Sophie akan membaca post ini, dan kami akan melihat bersama apakah Sophie masih tetap Sophie yang sama, yang langsung menyukai sesuatu secara berlebihan, tapi tidak cukup sabar untuk mencari tahu lebih dalam sebelum merencanakan ini itu.

Meniru siapa, coba? *ngaca*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s