Uncategorized

Penangkal Nyinyir Bernama Facebook (dan Blog, juga Twitter)

Image
hihihi…..

Beberapa waktu yang lalu, ketika saya ke TPA lama Sophie di Surabaya untuk bertanya-tanya tentang kemungkinan untuk menitipkan Sophie sementara di sana, saya bertemu dengan ibu muda yang datang dengan tujuan yang sama. Setelah kami selesai berbicara dengan Yangti Sri, ibu muda itu langsung menceritakan semua tentang anaknya. Tentang prinsip parenting yang diterapkan padanya. Tentang sudah bisa apa dan apa-apa yang disukai dan tidak disukainya. Tentang bagaimana hubungan si anak dengan mbak babysitter dan eyangnya. Tentang selera makan dan fisiknya. Semuanya. Cerita sedetail itu disampaikan pada saya, orang yang belum setengah jam dikenalnya.

Pengen berkomentar rasanya, beneran. Setidaknya membuat satu dua kicauan di twitter tentang ini, lah. Tapi saya baru sekarang ini bercerita tentang peristiwa tersebut. Saya teringat bahwa saya pun pernah melakukan hal yang sama. Ketika saya di posisi yang sama dengan si ibu muda itu, dua-empat tahun yang lalu. Ketika saya masih dalam eforia menjadi ibu baru.  Yang merasa bahwa saya tahu yang terbaik tentang pengasuhan anak dengan google di ujung  jari saya. Ibu masa kini, lah, yang menguasai manajemen ASI, MPASI rumahan, RUM, popok kain dan toilet training, milestone anak, hingga dana pendidikan anak. (Self proclaimed) Ibu masa kini yang (sok iye dan tanpa sadar) pamer sana-sini.

Sekarang ini, saya tertawa-tawa saja ketika melihat kembali isi wall facebook dan post blog saya di rentang masa itu. Tidak, saya tidak malu. Menggelikan, iya. Tapi saya tidak malu karenanya. Ketika melihat kembali apa yang saya alami dan membandingkannya dengan pengalaman teman-teman saya, saya sampai di kesimpulan bahwa semua itu adalah salah satu fase yang harus kita jalani ketika menjadi ibu. Cuma, ya, beberapa orang menjalani fase itu dengan anggun dan berkelas, beberapa yang lain menjalaninya dengan norak (dan norak-sekali) gayanya. Saya, tentu saja, masuk ke golongan kedua. Saya bahagia dan merasa tidak ada yang salah ketika menjalaninya dulu, jadi, ya, sudahlah. Sudah terjadi dan biarlah menjadi pelajaran bagi saya.

Pelajaran? Jelas, lah. Dengan pernah menjadi seperti itu, saya lebih toleran terhadap ibu-ibu lain yang sedang berada di fase itu. Kalau ketemu yang ekstrim-ekstrim, ya, saya senyumi saja. Sudah pernah, kok. Terus, saya dulu kan juga seperti itu. Sama saja dengan nyinyir ke diri sendiri, bukan? Nyinyir ke diri sendiri, apa enaknya? Lagi pula, bercermin sebelum berkomentar adalah bentuk sekecil-kecilnya bantuan. Bila memang saya tidak bisa membantu, setidaknya saya bisa diam,  tidak memperkeruh suasana dengan omongan saya.

Jadi, ya, berkaca sebelum nyinyir ini-itu dan judging sana-sini itu bagi saya lumayan efektif untuk menangkal nyinyir.  Dan terima kasih pada teknologi, cermin yang bisa saya gunakan mudah diakses setiap waktu. Wall facebook, blog post, kicauan di linimasa twitter kita, tinggal baca saja.

Belakangan, saya menarik toleransi ini ke area yang lebih luas. Bukan hanya yang terkait dengan eforia ibu muda. Saya merasa hidup saya jadi jauh lebih tenang setelah menerapkan ini, energi saya tidak habis untuk nyinyir ini-itu dan judging sana-sini. Happiness is a simple thing, isn’t it?

Tapi, sebagai manusia biasa ada kalanya nafsu nyinyir saya tak terkendali. Perlu penyaluran, tentu saja. Biasanya, saya berbagi kenyinyiran dengan suami bila ada sesuatu yang HARUS saya komentari, yang tidak bisa saya jinakkan dengan berkaca. Kalau sudah begini saya ber-kok-dia-begini-kok-dia-begitu, sementara suami tertawa-tawa saja mendengarkan komentar sok tahu saya. Dengan nyinyir tidak pada yang bersangkutan, setidaknya saya hanya menanggung dosa bergunjing, dan bebas dari dosa membuat sakit hati orang lain.  

Who am i not judging, anyway

Everyone is a critic, kata Sherlock Holmes di the Empty Hearse (yang mana bagus banget! Menunggu dua tahun keluarnya Sherlock series 3 ini sebanding dengan serunya. Sherlock and John’s reunion is hillarious. I love love love LOVE it). Jadi, ya, apapun yang seseorang lakukan pasti ada yang mengomentari. Setiap orang pasti nyinyir terhadap sesuatu (atau beberapa) hal dan pernah dinyinyiri orang lain. Sudah lah, tidak perlu dipikirkan tentang segala macam kenyinyiran yang ada. Lebih penting untuk berusaha menahan diri agar tidak nyinyir dan tidak terpengaruh oleh kenyinyiran yang ditujukan pada kita, bukan?

Happy weekend 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s